Comscore Tracker
FINANCE

BRI Kantongi Laba Terbesar, Juara Aset Terbesar Masih Bank Mandiri

Bank Mandiri,BRI,BCA dan BNI jadi bank dengan aset tinggi.

BRI Kantongi Laba Terbesar, Juara Aset Terbesar Masih  Bank MandiriIlustrasi Perbankan/ Achmad Bedoel

by Suheriadi

Jakarta, FORTUNE - Sejumlah bank papan atas telah melaporkan kinerja perseroan untuk periode kuartal III-2022, di antaranya BRI, Bank Mandiri, BCA hingga BNI. Tercatat, pertumbuhan bisnis mulai dari segi laba, kredit, hingga aset menghiasi laporan keuangan keempat bank KBMI IV tersebut.

Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Didik Madiyono mengungkapkan, memasuki akhir tahun 2022 kinerja perbankan masih menunjukan pertumbuhan bisnis yang kuat. LPS menilai, ketahanan industri perbankan pun tetap terjaga dengan baik. Hal tersebut tercermin dari tingkat permodalan perbankan sangat tebal pada level 25,12 persen pada bulan September 2022.

“Hal ini mengindikasikan bahwa intermediasi perbankan terus mengalami peningkatan dengan risiko kredit yang terkendali. Likuiditas perbankan masih sangat memadai untuk mendorong pertumbuhan kredit ke depan dengan indikasi Alat Likuid/Non-Core Deposit atau AL/NCD yang sebesar 121,61 persen atau dua kali lebih tinggi dari threshold yang sebesar 50 persen,” kata Didik melalui keterangan tertulis yang dikutip di Jakarta, Kamis (17/11).

Lantas dari kempat bank tersebut, siapa yang menjadi juara aset dan laba? Lalu apa penopang pertumbuhan bisnisnya? Simak penjelasan berikut.

Bank Mandiri masih jadi juara aset terbesar

Dari keempat bank besar KBMI IV, Bank Mandiri masih menjuarai aset terbesar yang mencapai Rp1.839,3 triliun per September 2022. Aset ini mampu meningkat 12,3 persen dari periode yang sama tahun lalu atau secara year on year (YoY). 

Aset jumbo bank pita emas tersebut memang tak terlepas dari dukungan merger Bank Syariah Indonesia (BSI) yang menjadi anak usaha dari Bank Mandiri. Kondisi tersebut membuat aset Bank Mandiri sulit disalip oleh BRI.

Sementara itu, dari sisi laba, Bank Mandiri mampu mencatatkan laba bersih senilai Rp30,7 triliun pada sembilan bulan pertama 2022. Laba tersebut tumbuh 59,4 persen secara tahunan (YoY). Sedangkan dari proses intermediasi kredit juga mampu tumbuh 14,28 persen(yoy) mencapai Rp1.167,51 triliun hingga akhir September 2022.

Pertumbuhan kredit tersebut juga dibarengi oleh posisi non performing loan (NPL) bank only yang melandai ke level 2,3 persen per September 2022. Posisi tersebut jauh lebih baik jika dibandingkan periode September 2021 yang sempat menyentuh 3,1 persen atau telah turun sebesar 80 basis poin (bps).

BRI juara kantongi laba terbesar

Sementara itu, dari sisi aset, BRI menempati posisi kedua dengan nilai Rp 1.684,6 triliun atau tumbuh 4 persen (yoy). Meski aset telah disokong oleh masuknya Pegadaian dan PNM sebagai anak usaha, namun belum bisa menyaingi Bank Mandiri. Nilai aset BRI hanya berbanding Rp154,7 triliun lebih rendah dibandingkan dengan Bank Mandiri.

Namun demikian, bank yang digawangi oleh Sunarso ini mampu mengantongi laba terbesar yang mencapai Rp39,31 triliun atau meroket 106,14 persen (yoy).

Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan kunci dari pencapaian tersebut tak lepas dari strategic response BRI yang tepat pada berbagai kondisi ekonomi. Hal itu juga didorong oleh fungsi intermediary penyaluran kredit.

Dari aspek penyaluran kredit, hingga akhir September 2022, total kredit dan pembiayaan BRI Group tercatat sebesar Rp1.111,48 triliun atau tumbuh 7,92 persen (yoy).  Keberhasilan BRI dalam menjalankan fungsi intermediasi mampu diimbangi dengan manajemen risiko yang baik. Hal tersebut tercermin dari rasio NPL BRI secara konsolidasian yang manageable di level 3,09 persen.

BCA tempati posisi ketiga dari segi aset

Sementara itu, BCA menempati posisi ketiga dari sisi aset yang mencapai Rp1.288,7 triliun atau tumbuh 10,2 persen (yoy). Sedangkan dari segi laba, secara konsolidasi BCA pada kuartal III-2022 membukukan laba bersih senilai Rp29 triliun atau terbesar ketiga, pencapaian tersebut tumbuh 24,8 persen secara (yoy).

Pencapaian laba BCA tersebut didorong oleh pendapatan bunga bersih atau net interest incom (NII) selama sembilan bulan pertama tahun 2022 mencapai Rp46,1 triliun atau naik 9,3 persen (yoy).

Sementara itu, pada sembilan bulan pertama 2022, bank berlogo kelopak bunga biru tersebut juga mencatat penyaluran kredit senilai Rp682 triliun atau tumbuh sebesar 12,6 persen (yoy). Sementara itu, Rasio kredit bermasalah (NPL) juga terjaga sebesar 2,2 persen.

BNI tempati posisi keempat aset terbesar

Menara BNI Pejompongan Jakarta

Aset BNI tercatat berada di posisi keempat. Aset BNI memang belum tembus Rp1.000 triliun, namun telah mencapai Rp943,61 triliun atau tumbuh 2,63 persen. Dari segi laba, BNI mampu mebukukan senilai Rp13,7 triliun atau melonjak 76,8 persen. 

Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar, menyatakan pertumbuhan laba ditopang oleh Net Interest Income (NII) yang tumbuh 5,2 persen (yoy) menjadi Rp 30,2 triliun. Sedangkan untuk Non-Interest Income juga tumbuh baik mencapai 7,8 persen (yoy) menjadi Rp11 triliun. Di sisi lain, peyaluran kredit BNI mampu tumbuh 9,1 persen (yoy) menjadi Rp622,61 triliun.

Related Topics

Related Articles