FINANCE

Cadangan Devisa RI Naik jadi US$146,4 Miliar, Ini Pendorongnya

Ekonom nilai cadev RI masih belum sehat.

Cadangan Devisa RI Naik jadi US$146,4 Miliar, Ini PendorongnyaShutterstock/Mezario

by Suheriadi

08 January 2024

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Cadangan Devisa (Cadev) Indonesia tercatat sebesar US$146,4 miliar pada Desember 2023. Capaian tersebut naik  dibandingkan dengan posisi pada akhir November 2023 sebesar US$138,1 miliar. Dengan jumlah tersebut, Bank Indonesia (BI) memandang cadangan devisa berada di atas standar kecukupan internasional yang ditetapkan.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono mengatakan, kenaikan posisi cadangan devisa tersebut antara lain didorong oleh penerimaan pajak dan jasa, serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. 

“Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor atau 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor,” jelas Erwin melalui keterangan resmi di Jakarta, Senin (8/1).

Ekonom nilai cadev RI masih belum sehat

Ilustrasi Utang/William Poter

Selain itu, bank sentral juga menilai cadangan devisa masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Meski demikian, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira memberikan perspektif yang menarik terkait kenaikan cadangan devisa Indonesia. Menurutnya, kenaikan tersebut tidak sepenuhnya disebabkan oleh kinerja ekspor yang positif, melainkan lebih dipengaruhi oleh penarikan utang luar negeri pemerintah.

"Kenaikan cadev ini bukan semata karena kinerja ekspor yang positif, tapi lebih didorong oleh penarikan utang luar negeri pemerintah," kata Bhima.

Ia menyoroti praktek front loading utang yang mungkin telah memberikan dorongan pada peningkatan cadangan devisa. Frontloading utang terjadi ketika pemerintah menerbitkan utang luar negeri untuk mendukung anggaran di awal tahun, sehingga valuta asing masuk ke negara, membuat cadangan devisa terlihat bertambah besar. Namun, pendekatan semacam ini dianggap tidak sehat karena dapat menciptakan kenaikan "semu" pada cadangan devisa.

"Memang ada tren front loading utang untuk belanja awal tahun pemerintah. Begitu pemerintah menerbitkan utang luar negeri kan ada valas yang masuk, jadi seolah cadev nya gemuk, padahal praktik ini tidak sehat," kata dia.

Bhima juga menggarisbawahi bahwa sebuah cadangan devisa yang sehat seharusnya didorong oleh kinerja ekspor dan pariwisata yang baik, yang mencerminkan pertumbuhan yang berkelanjutan dan lebih berkualitas. Kenaikan cadangan devisa yang hanya didasarkan pada peningkatan utang, dinilai membawa risiko, terutama saat pembayaran bunga dan pokok utang jatuh tempo, yang dapat menyebabkan penurunan kembali pada cadangan devisa.

"Kalau hanya naik karena utang, lihat saja nanti waktu bayar bunga dan pokok utang maka cadev bisa melorot lagi," pungkas Bhima.

Terlepas dari pandangan tersebut, ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa akan tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga, seiring dengan respons bauran kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dan Pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.