Comscore Tracker
FINANCE

LPS: Konflik Ukraina-Rusia Picu Kekhawatiran Investor 

Meski demikian, fundamental ekonomi RI dinilai masih kuat.

LPS: Konflik Ukraina-Rusia Picu Kekhawatiran Investor Ilustrasi Konflik rusia-ukraina. Shutterstock/Tomasz Makowski

by Suheriadi

Jakarta,FORTUNE - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai faktor geopolitik dapat memicu volatilitas pasar keuangan. Salah satunya ialah konflik yang saat ini melilit Ukraina dan Rusia, yang diprediksi bakal memicu kekhawatiran investor dan memengaruhi aliran modal asing. 

"(Investor mencemaskan) akan terjadinya konflik terbuka dan kenaikan harga komoditas,"  tulis LPS dalam Laporan Indikator Likuiditas LPS periode Februari 2022, dikutip Selasa (1/3). 

Kendati demikian, LPS memandang fundamental ekonomi nasional masih kuat. Hal tersebut seiring dengan langkah kebijakan yang tepat dari pemerintah yang diharapkan dapat mengurangi tekanan likuiditas dari sisi eksternal tersebut. 

Menurut LPS, arus modal pada pasar saham dan obligasi pada Januari 2022 mulai mereda seiring meningkatnya optimisme investor akan laju pemulihan perekonomian domestik. 

Pada Januari 2022, pasar saham mencatat inflow Rp6,09 triliun, sementara pasar obligasi masih mengalami outflow Rp4,06 triliun. 

"Namun demikian, outflow tersebut cenderung mereda dibanding bulan sebelumnya yang mencatat outflow Rp24,99 triliun," demikian bunyi laporan tersebut.

Penyaluran kredit bank diprediksi lebih selektif

LPS juga beranggapan, pertumbuhan kredit diproyeksikan bakal meningkat seiring dengan pemulihan ekonomi yang terus berlangsung. Di sisi lain, penyaluran kredit perbankan dinilai akan cenderung selektif memperhatikan prospek debitur. 

"Bank tetap memperhatikan pengelolaan risiko kredit meskipun kebijakan relaksasi kredit restrukturisasi masih berlangsung sampai dengan Maret 2023," begitu bunyi laporan LPS. 

Dalam perkiraan LPS, perbankan akan mengantisipasi pemburukan kualitas kredit yang ada dengan melakukan pencadangan yang memadai. 

Hingga kini, peningkatan pertumbuhan kredit terus melanjutkan tren positif hingga 5,24 persen setahun (yoy) pada Desember 2021. 

LPS imbau perbankan bersiap dalam strategi penghimpunan dana

Dalam laporannya, LPS juga menilai adanya permintaan kredit yang lebih besar, sehingga berpotensi menjadi tantangan baru dalam pengelolaan likuiditas dan strategi penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK). 

LPS mengimbau bank untuk bersiap dengan perubahan perilaku deposan dan kehadiran layanan digital yang potensial mempengaruhi peta persaingan antar bank.  

Di sisi lain, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga meningkat menjadi 12,21 persen (yoy), sehingga LDR perbankan cenderung turun ke level 77,13 persen. 

Likuiditas perbankan juga masih menunjukkan posisi longgar. Indikasinya, level rasio AL/NCD 157,94 persen dan AL/DPK 35,12 persen, meningkat dari periode bulan sebelumnya. 

Tren penurunan suku bunga simpanan bergerak terbatas

Tren penurunan suku bunga simpanan juga diperkirakan lebih terbatas pada beberapa bulan ke depan. LPS menyebut, penurunan suku bunga potensial hanya terjadi pada beberapa bank tertentu sebagai penyesuaian terhadap suku bunga pasar. Sebagian bank diperkirakan masih melakukan penyesuaian atas suku bunga simpanan merespon penurunan Tingkat Bunga Penjaminan pada periode September 2021 yang turun 50 bps (untuk Rupiah) ke level 3,50 persen. 

"Perbankan diperkirakan masih akan berupaya mengoptimalkan pengelolaan suku bunga simpanan yang rendah dalam upaya menjaga net interest margin bank," tulis LPS. 

Sepanjang Januari 2022, suku bunga simpanan masih melanjutkan penurunan dengan laju yang lebih terbatas di tengah kondisi likuiditas yang relatif longgar. 

Rata-rata tingkat bunga deposito rupiah (23 moving daily average) seluruh bank LPS pada akhir Januari 2022 turun 5 bps ke level 3,26 persen dibandingkan dengan akhir bulan sebelumnya.

Related Articles