Comscore Tracker
FINANCE

HSBC Ramal BI Bakal Naikkan Suku Bunga pada Semester II 2022

Kenaikan suku bunga mencapai awal 50 basis poin.

HSBC Ramal BI Bakal Naikkan Suku Bunga pada Semester II 2022Ilustrasi Bank Indonesia/ Shutterstock Harismoyo

by Tanayastri Dini Isna KH

Jakarta, FORTUNE – Terlepas dari sentimen The Fed dan ECB soal peluang menaikkan tingkat suku bunga global yang kian hawkish, Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate di level 3,50 persen. Namun, sampai kapan BI akan mempertahankan kebijakannya tersebut?

Chief Economist for ASEAN at HSBC, Joseph Incalcaterra mengatakan, keputusan BI menahan kenaikan suku bunga diambil guna memastikan pemulihan dan pertumbuhan ekonomi dalam negeri tetap stabil.

“Defisit transaksi berjalan dan inflasi yang terkendali memungkinkan BI menerapkan policy space untuk saat ini,” katanya kepada media, Jumat (11/2).

Selain itu, BI akan menjaga suku bunga kebijakan di tingkat rendah hingga Indeks Harga Konsumen (CPI) menunjukkan tanda-tanda melampaui target. BI juga melihat tekanan CPI hanya akan muncul pada 2023, sehingga akan meninjau perkiraan inflasi pada kuartal III 2022.

Alhasil, untuk defisit transaksi berjalan pada 2022  BI memperkirakan mencapai -1,1 hingga–1,9 persen, sedangkan HSBC memperkirakan defisit di level -1,2 persen. Tak hanya itu, BI pun akan kembali mewujudkan rencana kenaikan RRR 300 bp pada 2022.

Langkah tersebut bertujuan mengimbangi dampak pembelian utang yang masih berjalan. “Kami memperkirakan kenaikan suku bunga 50bp di paruh kedua 2022,” imbuh Joseph.

Pengaruh pasar global terhadap kebijakan moneter dalam negeri

Dalam beberapa pekan terakhir, terjadi pergeseran hawkish di kalangan bank sentral global di tengah kecemasan tentang inflasi—khususnya The Fed dan ECB.

Pasar memproyeksikan lebih dari 5 kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS. Kenaikan suku bunga global yang lebih tinggi pun tak terelakkan, terutama untuk suku bunga jangka pendek dan jangka waktu 10 tahun di AS.

“Secara historis, langkah-langkah seperti itu akan memiliki pengaruh kuat pada perekonomian Indonesia dan bank sentral akan bereaksi dengan mengubah pedoman kebijakan yang hawkish,” jelas Joseph.

Akan tetapi, para pelaku pasar bisa tenang untuk saat ini—karena hal itu belum benar-benar terjadi.

BI mengumumkan akan meningkatkan reserve requirement ratio (RRR) 300 basis poin (bp) selama 2022 pada pertemuan Januari lalu, serta melakukan percepatan pembelian utang pemerintah sejak 2020. Meski begitu, Joseph menilai kebijakan itu tidak akan memengaruhi pertumbuhan.

“Mengingat rekor kelebihan likuiditas yang melanda sistem keuangan Indonesia dan hanya akan menggantikan operasi pasar terbuka yang BI lakukan," ujarnya. 

Lebih lanjut, BI menyatakan tak melihat adanya dampak kenaikan RRR pada pertumbuhan pinjaman. Karena itu, mereka akan memberikan insentif tambahan—seperti RRR yang lebih rendah—bagi bank demi bisa meminjamkan dana ke sektor prioritas seperti : konstruksi, manufaktur, dan pariwisata.

Proyeksi kenaikan suku bunga Indonesia

Meski terjadi kenaikan harga pada Januari akibat peningkatan harga pangan, serta naiknya PPN pada April mendatang, Joseph menilai inflasi nasional akan tetap terkendali secara luas. Sebagian besar karena peraturan harga di sektor energi.

“Kami percaya inflasi akan tetap dalam target 2–4 persen BI sepanjang 2022 dan hanya naik ke kuadran atas kisaran pada paruh kedua 2022,” ujarnya.

Oleh karena itu, HSBC Internasional yakin, BI akan memiliki alasan melakukan pengetatan kebijakan secara bertahap setelah paruh kedua tahun ini. Mulai dari meningkatkan suku bunga awal senilai 50bp, yang dilanjutkan dengan pengetatan tambahan 75 bp pada 2023.

Related Articles