Klinik Kecantikan Makin Kompetitif, Dermalift Diversifikasi Layanan Regeneratif

Pasar estetika medis Indonesia terus bertumbuh, diikuti peningkatan jumlah klinik dan persaingan layanan.
Dermalift mengembangkan perawatan lifting, tightening non-bedah, serta pendekatan regeneratif berbasis biostimulasi kolagen.
Strategi Dermalift menekankan hasil bertahap, kualitas kulit, stimulasi kolagen, dan karakter wajah yang tetap natural.
Jakarta, FORTUNE — Pasar estetika medis Indonesia yang bertumbuh kian pesat mendorong pelaku industri klinik kecantikan memperluas layanan, salah satunya ke segmen perawatan non-bedah dan regeneratif yang menjanjikan peluang.
Berdasarkan laporan Arizton, pasar medical aesthetics Indonesia yang pada 2023 bernilai US$257,05 juta 2023, diproyeksikan mencapai US$495,64 juta pada 2029. Pasar tersebut diperkirakan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) 11,56 persen sepanjang periode tersebut. Segmen yang tercakup antara lain prosedur non-invasif dan minimally invasive, injeksi, perangkat berbasis energi, perawatan kulit, serta layanan skin rejuvenation dan skin tightening.
Pertumbuhan bisnis klinik estetika juga tercermin dari Data Central Insight yang dikutip dalam kajian akademik, menunjukkan jumlah klinik estetika di Indonesia meningkat dari sekitar 4.438 unit pada 2023 menjadi 5.072 unit pada 2024, atau bertambah sekitar 20 persen.
Pertumbuhan tersebut antara lain disebabkan oleh meningkatnya permintaan dari konsumen muda yang melek digital. Seiring dengan terus berkembangnya standar kecantikan, konsumen masa kini—khususnya Gen Z dan Milenial—mulai beralih ke klinik untuk mendapatkan perawatan estetika tingkat lanjut yang melampaui sekadar perawatan kulit (skincare) konvensional. Walhasil, klinik menghadapi peluang besar sekaligus persaingan yang semakin ketat.
Di tengah ketatnya persaingan, Dermalift Aesthetic Clinic melirik celah baru dengan mengembangkan layanan perawatan kulit berbasis biostimulasi dan regenerasi.
Dermalift mengembangkan fokus pada perawatan lifting dan tightening non-bedah serta pendekatan regeneratif. Klinik ini menggandeng JULÄINE of Sweden, produk injectable berbasis poly-L-lactic acid (PLLA) dengan teknologi LASYNPRO, untuk layanan biostimulasi kolagen.
CEO dan Founder Dermalift, Irfana Efendi mengatakan perkembangan estetika medis semakin mengarah pada perawatan yang tidak hanya berfokus pada perubahan tampilan, tetapi juga kualitas kulit dan stimulasi kolagen.
“Seiring Dermalift terus berkembang, kami selalu mencari inovasi yang selaras dengan filosofi kami. JULÄINE menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan tersebut, khususnya dalam mendukung visi kami menuju estetika regeneratif,” ujar Irfana dalam keterangan tertulis, Selasa (6/10).
Menurut dia, pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi Dermalift untuk mengembangkan layanan estetika yang mengutamakan hasil bertahap dan tetap mempertahankan karakter wajah pasien.
Berbeda dari prosedur yang mengejar perubahan visual secara cepat, pendekatan biostimulasi berfokus pada proses yang berlangsung secara bertahap. Perawatan diarahkan untuk mendukung pembentukan kolagen dan meningkatkan kualitas kulit.
Irfana mengatakan pemilihan produk dalam layanan estetika perlu mempertimbangkan kebutuhan kulit, keamanan penggunaan, serta dasar ilmiah dari produk yang digunakan.
“Sebagai seorang dokter, saya selalu mencari perawatan yang dapat mendukung proses regenerasi alami kulit sekaligus mempertahankan hasil yang terlihat natural. JULÄINE merupakan salah satu perawatan yang secara personal saya senang lakukan baik sebagai dokter maupun sebagai pasien,” katanya.
Dengan pertumbuhan tersebut, persaingan klinik kecantikan tidak hanya berlangsung melalui penambahan jumlah gerai, tetapi juga melalui diferensiasi layanan dan teknologi perawatan. Bagi Dermalift, pengembangan layanan regeneratif menjadi salah satu pendekatan untuk mengambil bagian dalam pasar estetika medis yang terus berkembang.
















