Jakarta, FORTUNE – Rumah bagi sebagian orang bukan sekadar bangunan tempat berlindung. Ia bisa menjadi tujuan finansial, simbol kemandirian, sekaligus beban ketika kebutuhan tempat tinggal harus berjalan beriringan dengan kewajiban menopang keluarga. Persoalan itu menjadi salah satu napas dalam kisah Home Sweet Loan, yang kini kembali dihadirkan dalam format berbeda melalui panggung musikal.
Dipersembahkan Visinema bersama Indonesia Kaya dan berkolaborasi dengan Jakarta Art House, Home Sweet Loan The Musical resmi dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, mulai 30 September hingga 18 Oktober 2026. Sebanyak 23 pertunjukan dijadwalkan dalam rangkaian pementasan tersebut. Sebanyak 37 pemeran terlibat dalam produksi ini, serta lebih dari 50 insan kreatif turut terlibat dalam menghadirkan pertunjukan. Sebelumnya, Visinema Studios bersama Indonesia Kaya dan TEMAN Musicals menghadirkan Keluarga Cemara The Musical, yang kembali dipentaskan pada 2025 setelah menarik lebih dari 30.000 penonton.
Kisah ini sebelumnya dikenal melalui novel karya Almira Bastari dan kemudian diadaptasi menjadi film. Ceritanya mengikuti Kaluna, perempuan yang berusaha memiliki rumah sendiri di tengah tekanan pekerjaan, kebutuhan keluarga, serta keterbatasan finansial. Persoalan tersebut beririsan dengan fenomena generasi sandwich yang semakin banyak menjadi bagian dari realitas masyarakat Indonesia.
Interpretasi terhadap Kaluna juga hadir melalui dua pemeran utama, Kalya Islamadina dan Chintana Jo. Keduanya membawa interpretasi masing-masing terhadap perjalanan karakter yang sama, sekaligus memperlihatkan bahwa pengalaman Kaluna dapat memiliki banyak sisi. Sementara Chintana Jo melihat “pulang” sebagai sesuatu yang dapat memiliki makna personal bagi setiap orang.
Ketika cerita tersebut berpindah ke panggung, tentu tidak sekadar memindahkan film ke format pertunjukan. Adaptasi ini menjadi upaya untuk menemukan kembali perjalanan Kaluna melalui musik, gerak, akting, dan interaksi langsung dengan penonton. Cristian Imanuell, Chief of Studio Visinema Pictures sekaligus produser Home Sweet Loan The Musical, mengatakan proses tersebut telah melalui pengembangan, latihan, percakapan, revisi, serta melibatkan banyak orang yang memiliki visi yang sama.
Perjalanan Home Sweet Loan dari novel ke film kemudian panggung juga menunjukkan bagaimana sebuah intelectual property (IP) dapat dikembangkan melalui berbagai medium. “Kita enggak pernah percaya sebuah cerita berakhir hanya di layar lebar. Cerita bisa dibawa ke mana-mana dengan berbagai medium. Home Sweet Loan The Musical menjadi contohnya," ujarnya usai pertunjukan perdana, Rabu (30/9).
Ketika diangkat menjadi pertunjukan musikal, persoalan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa panggung. Rumah tidak hanya menjadi latar, tetapi juga menjadi simbol mengenai keamanan, kemandirian, keluarga, dan pilihan hidup. Perubahan perspektif Kaluna menjadi inti perjalanan pertunjukan. Ia semula memandang rumah sebagai tujuan yang akan memberikan rasa aman. Namun, ketika kesempatan untuk memiliki rumah sendiri mulai terbuka, muncul pemahaman bahwa arti pulang tidak selalu berhubungan dengan kepemilikan sebuah bangunan.
Lisa Reideka, Sutradara Home Sweet Loan The Musical, mengatakan perubahan ruang, koreografi, tata cahaya, musik, dan permainan para aktor. "Kami susun mengikuti ritme perjalanan Kaluna, dari kesehariannya yang penuh tekanan hingga momen ketika ia mulai melihat hidup dan pilihan-pilihannya dengan cara yang berbeda," katanya.
Pertanyaan tersebut kemudian diperluas melalui musik dan koreografi. Sebanyak 18 lagu, termasuk Kembali Pulang, Kapan Pulang, Memang Milikku, Berakhir di Aku, dan Rumah dalam Ingatan, mengiringi perubahan cara Kaluna memandang rumah dan kehidupannya. Koreografi karya El Haq Latief dan Nudiandra Sarasvati juga menerjemahkan dinamika kehidupan Jakarta dan tekanan urban ke dalam gerak. Elemen tersebut hadir antara lain melalui Tepuk Waras dan visualisasi pergerakan dalam Riuh Jakarta.
Visinema juga membuka sasaran penonton seluas mungkin, termasuk mereka yang belum pernah menyaksikan pertunjukan musikal. “Sebanyak-banyaknya, kami mau kasih kesempatan menikmati panggung pertunjukan," katanya.
Pertunjukan tersebut digelar dengan kapasitas Graha Bhakti Budaya pascarevitalisasi sebanyak 954 kursi. Dengan 23 kali pementasan, diperkirakan perunjukan diasksikan leboh dari 20.000 penonton. Sementara harga tiket dibanderol Rp215.000, Rp220.000, hingga Rp265.000. Jika seluruh kursi terisi, nilai penjualan tiket secara estimasi berada di kisaran Rp4,72 miliar hingga Rp5,81 miliar.
Pengembangan sebuah cerita ke panggung juga berlangsung di tengah pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia. Pada 2024, ekonomi kreatif berkontribusi Rp1.611,2 triliun terhadap PDB nasional atau 7,28 persen, dengan pertumbuhan 6,57 persen. Setahun kemudian, sektor tersebut menyerap 27,4 juta tenaga kerja. Nilai ekspor ekonomi kreatif hingga Oktober 2025 juga mencapai US$26,68 miliar.
Tantangan ekonomi saat ini tidak menghilangkan optimisme terhadap industri pertunjukan. Bagi Cristian, keberlanjutan industri membutuhkan ketekunan untuk terus menghasilkan karya dan memberikan alasan bagi masyarakat untuk menikmati pengalaman seni secara langsung. Ia merujuk pada lagu Satu Nafas Lagi yang hadir pada bagian akhir pertunjukan. “Seperti lagu Satu Nafas Lagi di akhir pertunjukkan, satu nafas lagi bertahan terus," katanya optimistis.