Jakarta, FORTUNE - Saham LVMH melemah lebih dari 1 persen pada Selasa (13/10) setelah grup barang mewah asal Prancis tersebut melaporkan penurunan penjualan kuartal III 2026 pada divisi fesyen dan barang kulit. Kinerja itu mencerminkan melemahnya permintaan di Cina, meskipun sejumlah lini bisnis lainnya masih mencatat pertumbuhan.
LVMH membukukan pendapatan sebesar €18,5 miliar pada kuartal III, sedikit melampaui konsensus analis sebesar €18,46 miliar. Secara organik, pendapatan tumbuh 1 persen pada periode tersebut, ditopang oleh pasar Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Jepang.
Selama sembilan bulan pertama tahun ini, pendapatan grup mencapai €57,1 miliar. Angka tersebut turun 2 persen secara nominal, tetapi meningkat 2 persen setelah memperhitungkan perubahan nilai tukar dan cakupan konsolidasi.
Divisi fesyen dan barang kulit, yang menjadi kontributor bisnis terbesar LVMH, mencatat penurunan pendapatan organik sebesar 5 persen pada kuartal III. Pendapatan segmen ini menyusut menjadi €8,25 miliar dari €8,5 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pelemahan belanja konsumen di Cina mengimbangi permintaan yang masih bertahan di pasar AS.
Melansir Yahoo Finance, Kinerja divisi tersebut turut membebani sentimen investor mengingat besarnya kontribusi segmen ini terhadap pendapatan keseluruhan LVMH. Hasil tersebut juga memperlihatkan perbedaan kondisi pasar barang mewah di berbagai wilayah. Aktivitas penjualan di negara-negara Barat dan Jepang relatif kuat, sementara permintaan di Cina melemah.
Di luar fesyen dan barang kulit, sejumlah divisi LVMH membukukan pertumbuhan organik positif selama kuartal III.
Segmen jam tangan dan perhiasan mencatat kenaikan pendapatan organik sebesar 6 persen, didukung permintaan terhadap koleksi perhiasan. Tiffany & Co. melanjutkan pengembangan lini produk HardWear, Knot, dan Sixteen Stone. Sementara itu, Bvlgari membukukan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah dari koleksi perhiasan mewah dan jam tangan terbarunya, Eclettica.
Divisi ritel selektif mencatat kinerja terkuat dengan pertumbuhan pendapatan organik sebesar 8 persen. Sephora berhasil meningkatkan pangsa pasar di sejumlah negara, antara lain melalui peluncuran produk eksklusif, termasuk merek Rhode.
Peritel produk kecantikan tersebut juga memperluas jangkauan geografis dengan memasuki pasar Belgia dan Kroasia selama periode tersebut.
Sementara itu, divisi anggur dan minuman beralkohol mencatat pertumbuhan pendapatan organik sebesar 6 persen, seiring membaiknya permintaan di sejumlah pasar. Penjualan sampanye terus pulih, terutama di Eropa, sedangkan cognac Hennessy mencatat momentum positif di Asia.
Bisnis parfum dan kosmetik membukukan pertumbuhan pendapatan organik sebesar 1 persen, didukung peluncuran produk baru. Di antaranya adalah parfum J'adore Intense dan Sauvage Extrait dari Dior yang turut mendorong aktivitas penjualan pada segmen tersebut.
Kinerja tersebut memperlihatkan beragam capaian di portofolio bisnis LVMH. Pertumbuhan pada ritel selektif, jam tangan dan perhiasan, anggur dan minuman beralkohol, serta parfum dan kosmetik membantu mengimbangi sebagian penurunan di divisi fesyen dan barang kulit. Meski demikian, pelemahan pada segmen terbesar grup itu tetap menjadi faktor penting yang memengaruhi kinerja kuartalan.
Secara geografis, pertumbuhan di AS, Eropa, dan Jepang membantu mengompensasi permintaan yang lebih lemah di Cina. LVMH sendiri menjalankan bisnis di berbagai kategori barang mewah, mulai dari fesyen, barang kulit, perhiasan, jam tangan, parfum, kosmetik, anggur dan minuman beralkohol, hingga ritel khusus.
Menatap ke depan, LVMH mengakui ketidakpastian ekonomi global dan geopolitik masih berlanjut. Namun, grup tersebut menyatakan tetap yakin pada strateginya, yang berfokus pada penguatan daya tarik merek, menjaga kualitas produk, serta mengembangkan bisnis ritel.
Manajemen juga menekankan pentingnya fleksibilitas organisasi untuk merespons perubahan kondisi pasar.
Hasil kuartal III menunjukkan LVMH masih mampu mencatat pertumbuhan di sejumlah lini bisnis, meskipun pelemahan permintaan di Cina menjadi tantangan bagi divisi fesyen dan barang kulit. Investor selanjutnya akan mencermati kecepatan pemulihan belanja barang mewah di Cina, keberlanjutan permintaan di AS dan Eropa, serta kontribusi divisi lainnya terhadap kinerja grup.
