Chef Andry Susanto, Founder dan CEO Oma Elly.
Restoran dan gerai dessert Oma Elly kini sudah banyak orang tahu. Namun, Andry tidak langsung terjun ke bisnis ini. Lulusan University of Western jurusan ekonomi, pemasaran, dan ekonomi internasional ini memang sempat tinggal di Australia dan menyelesaikan studinya sambil bekerja di industri makanan dan minuman (F&B).
Tetapi, dia mulai bekerja di dunia korporasi setibanya di Indonesia— mulai dari perusahaan properti dan perumahan, industri kreatif, hingga konsultan. Pada Oktober 2018, takdir membawanya ke jalur kuliner lewat, menurutnya, sebuah “kecelakaan” yang menyenangkan. Mulanya adalah masa-masa ketika dia tinggal di sebuah apartemen dan kerap membawa lasagna pada acara potluck bersama teman-teman dan keluarga.
Masakan yang dia bawa itu, tak disangka, disukai oleh mereka. Pesanan pun kemudian berdatangan, bukan saja dari teman dekatnya, tapi juga tetangga di apartemen.
Dia lalu mengerjakan daftar pesanan sembari masih bekerja sebagai pegawai kantor. "Sepulang kantor sekitar jam tujuh malam, aktivitas dapur berlanjut— membuat saus hingga lewat tengah malam, bahkan kerap berakhir pukul satu dini hari."
Pola ini berlangsung cukup lama. Sampai pada suatu waktu, dia akhirnya merasa bisnis tersebut telah cukup kuat untuk berdiri sendiri. Andry lantas memutuskan berhenti dari pekerjaan kantor dan menempatkan fokusnya pada bisnis kuliner. “Ketika baru memulai, semua masih pakai oven rumah. Baru pelan-pelan kami membangun commercial kitchen,” ujarnya.
Pada masa awal usaha, pemesanan dilakukan secara sederhana. Semua order diterima via WhatsApp dan Instagram, dan hanya tiga produk ditawarkan: lasagna, tiramisu, dan roast beef. Periode tersebut pun melahirkan jenama Oma Elly.
“Waktu itu banyak teman bertanya, ‘Instagram-nya apa?’ Kami bingung karena belum terpikirkan nama. Akhirnya kami memilih nama Oma Elly, karena memang resep oma. Sangat rumahan, dan punya makna emosional yang kuat” katanya.
Pada Maret 2019, ia memindahkan dapur ke kawasan Manggarai, Jakarta Selatan demi melayani pesanan antar (delivery).
Di sana ia tak hanya memasak, tapi juga rutin membuat konten—video memasak, potongan proses di dapur. Banyak orang kemudian tertarik, dan kemudian meminta dimasakkan hidangan untuk acara ulang tahun atau jamuan pribadi. Konsep private dining pun lantas lahir. Pada siang hari, dapur digunakan untuk menyiapkan katering dan lasagna. Begitu malam tiba, meja- meja dipindahkan. Suasana diubah, dan dapur menjelma ruang makan. Pengalaman dine-in Oma Elly pun pertama kali diciptakan.
Ia mengakui, masa-masa awal membangun bisnis Oma Elly penuh dengan pembelajaran mahal. Kini, bisnis kuliner yang dijalankan telah berkembang. Dari yang awalnya hanya mempekerjakan empat orang—termasuk Andry, kitchen helper dan admin— saat ini Oma Elly telah mempekerjakan sekitar 700 orang. Total gerainya ada 12. Semuanya ada di kawasan Jabodetabek.