Comscore Tracker
LUXURY

Pasar Jam Tangan Mewah Bekas Meroket, Apa Sebabnya?

Penjualan arloji bekas akan lampaui US$30 miliar pada 2025.

Pasar Jam Tangan Mewah Bekas Meroket, Apa Sebabnya?Ilustrasi jam tangan Rolex. (Shutterstock/Portal Satova)

by Tanayastri Dini Isna KH

Jakarta, FORTUNE - Melambungnya permintaan jam tangan mewah pada titik awal pagebluk berujung kelangkaan model tertentu bagi jenama jam tangan terbeken, Rolex, Patek Philippe, Audemars Piguet, dan Richard Mille. Terkhusus seri yang diproduksi secara terbatas.

Akibatnya, penjualan daring lewat situs penjualan jam tangan mewah bekas kini meroket. Ditambah lagi, banyak startup menyerbu bidang itu demi mendominasi pasar sekunder arloji mewah.

Sebagai informasi, McKinsey meramalkan penjualan jam tangan bekas mampu mencapai US$18 miliar pada 2019—bahkan melampaui US$30 miliar pada 2025. Mengutip Remonews, Senin (25/10), perusahaan konsultan itu mengatakan, “penjualan arloji mewah bekas akan berkontribusi sekitar setengah dari ukuran pasar jam tangan baru ritel (pada 2025), ketimbang dengan saat ini (hanya 1/3).”

1. Ramainya Pemain di Pasar Arloji Mewah Bekas

Hodinkee, salah satu situs kolektor jam tangan populer, merilis toko daring jam tangan mewah bekas belum lama ini. Perusahaan menghimpun modal US$40 juta pada Desember 2020 dari tokoh ternama, seperti Tom Brady, penyanyi John Mayer, dan alumni Apple Tony Fadell, serta investor Chernin. Dengan bekal itu, mereka berambisi menjadi merek utama yang diingat jika membicarakan soal jam tangan.

Hodinkee akan mulai menjajakan 250 jam tangan mewah bekas, menawarkan otentikasi dan pembaruan fasilitas jam tangan canggih di Atlanta. CEO Hodinkee, Toby Bateman berkata, “keunggulan kami dari pesaing adalah pengalaman dan sejarah sebagai merek terpercaya untuk urusan arloji.”

Akan tetapi, kompetitornya juga menarik minat investor—seperti Chrono24. Perusahaan berbasis di Jerman itu baru saja mengumpulkan US$116 juta dana segar dari Aglae Ventures milik General Atlantic dan CEO LVMH, Bernard Arnault. Putaran investasi itu melampaui US$1 miliar sehingga startup itu naik kelas menjadi unicorn, mendahului para pesaing di segmen itu.

“Sekitar 500.000 jam tangan dari lebih 3.000 peritel dan 30.000 penjual swasta (tersedia di platform),” begitulah klaim Chrono24.

Ada pula Chronext dari Swiss, yang awalnya menargetkan US$270 juta dari debut saham. Sayang, rencana menjadi perusahaan publik itu harus tertunda akibat, “kondisi pasar yang merugikan bagi perusahaan dengan pertumbuhan tinggi.”

2. Mengerek Harga Jam Tangan Mewah Bekas

Empat produsen jam tangan mewah terbesar masih kukuh memproduksi dalam jumlah terbatas walau terjadi permintaan besar—demi menjaga kualitas dan eksklusivitas. Berdasar data Morgan Stanley (2020), Rolex menjual 810.000 jam tangan, Patek menjual 53.000, Audemars 40.000, dan Richard Mile 4.300.

Dalam jangka pendek, permintaan konsumen melampaui pasokan sehingga berakhir pada memanjangnya antrean pembeli. Itu yang akhirnya mengerek harga pasar sekunder.

Berdasar data Chronext, Patek Phillippe Ref 5711 (harga jual asli US$35.000) berhasil dilelang seharga US$490.000 pada lelang Juli lalu. Nilai Audemars Piguet Royal Oak 15500ST turut melambung hampir tiga kali lipat sejak 2017, melewati US$55.000. Sementara, harga Rolex Day-Date 40 juga meroket 76 persen ketimbang 2017, melampaui US$50.000.

3. Kelahiran Generasi Kolektor Muda

Kenaikan kekayaan global—berkat lambungan saham dan kripto, serta menjamurnya kolektor jam tangan daring—telah melahirkan generasi kolektor muda yang gemar membeli dan menjual arloji secara daring.

Media sosial juga memicu penjualan, sebab makin banyak kolektor yang suka memamerkan kumpulan jam tangan mewah mereka di Instagram dan TikTok. “Ketimbang beberapa tahun lalu, kini ada jauh lebih banyak orang yang mengklaim diri sebagai kolektor,” kata Bateman.

Related Articles