9 Emiten Akan IPO di BEI, 3 Miliki Aset di Atas Rp250 Miliar

BEI mencatat sembilan perusahaan dalam pipeline IPO per 9 Oktober 2026, naik dari tujuh sepekan sebelumnya.
Sektor kesehatan mendominasi antrean dengan empat perusahaan, diikuti energi dua perusahaan.
Hingga 12 Oktober 2026, tujuh perusahaan telah IPO dengan dana Rp2,16 triliun.
Jakarta, FORTUNE — Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sembilan perusahaan dalam antrean penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) per 9 Oktober 2026. Jumlah tersebut bertambah dua perusahaan dibandingkan dengan posisi 2 Oktober 2026 yang tercatat sebanyak tujuh perusahaan.
Dari sembilan calon emiten, sektor kesehatan mendominasi dengan empat perusahaan. Sementara itu, tiga perusahaan termasuk aset jumbo.
Table of Content
Tiga calon emiten IPO miliki aset di atas Rp250 miliar
Mengacu pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017, sembilan calon emiten terbagi menjadi tiga kategori berdasarkan nilai aset.
Sebanyak dua perusahaan masuk kategori skala kecil dengan aset di bawah Rp50 miliar, sedangkan empat perusahaan tergolong skala menengah dengan aset Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Tiga perusahaan lainnya masuk kategori skala besar dengan aset lebih dari Rp250 miliar.
Sektor kesehatan mendominasi antrean IPO
Berdasarkan sektor usahanya, empat dari sembilan calon emiten berasal dari sektor kesehatan, disusul sektor energi sebanyak dua perusahaan. Sementara itu, sektor barang baku, keuangan, dan industri masing-masing menyumbang satu perusahaan.
Sektor kesehatan mendominasi antrean IPO dengan porsi 44,4 persen, diikuti sektor energi sebesar 22,2 persen. Adapun dua perusahaan yang baru masuk dalam pipeline IPO pada periode 2–9 Oktober 2026 berasal dari sektor barang baku dan keuangan.
Tujuh perusahaan telah melantai di bursa
Hingga 12 Oktober 2026, tujuh perusahaan telah mencatatkan saham di BEI dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp2,16 triliun. Jumlah tersebut menunjukkan realisasi pencatatan saham perdana yang telah berlangsung, berbeda dari sembilan perusahaan yang masih berada dalam pipeline.
Berdasarkan daftar aktivitas pencatatan BEI, tujuh perusahaan yang tercatat sepanjang 2026 adalah Rans Entertainmen Indonesia (RANS), Prodia Diagnostic Line (PRDL), Esa Medika Mandiri (EMMI), Bach Multi Global (BACH), Nitrasanata Dharma (JECX), Niramas Utama (JELI), dan BSA Logistics Indonesia (WBSA).
RANS tercatat pada 10 Juli 2026, sedangkan PRDL tercatat pada 9 Juli. EMMI dan BACH mencatatkan saham pada 8 Juli, kemudian JECX dan JELI pada 7 Juli. Sebelumnya, WBSA lebih dahulu melantai di bursa pada 10 April 2026.
Ketidakpastian global memengaruhi jadwal IPO
Jumlah perusahaan yang masuk pipeline dan realisasi IPO sepanjang 2026 turut dipengaruhi kondisi pasar. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyebut ketidakpastian global sebagai salah satu faktor yang memengaruhi keputusan IPO perusahaan.
“Penurunan calon perusahaan untuk melakukan IPO dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain dinamika kondisi pasar global, termasuk meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi timing perusahaan untuk melaksanakan penawaran umum,” ujar Hasan dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (12/10).
Selain kondisi pasar, OJK memperhatikan kesiapan perusahaan dan kualitas keterbukaan informasi dalam proses IPO. Oleh karena itu, sembilan perusahaan yang masuk dalam pipeline masih harus menyelesaikan tahapan dan memenuhi persyaratan sebelum resmi mencatatkan saham di BEI.
FAQ seputar 9 emiten akan IPO
Berapa perusahaan yang masuk pipeline IPO BEI per 9 Oktober 2026? Sebanyak sembilan perusahaan berada dalam pipeline pencatatan saham BEI.
Sektor apa yang mendominasi calon emiten IPO? Sektor kesehatan mendominasi dengan empat perusahaan.
Berapa calon emiten yang memiliki aset di atas Rp250 miliar? Terdapat tiga perusahaan dalam kategori aset skala besar.
Berapa dana yang dihimpun dari IPO sepanjang 2026 hingga 12 Oktober? Tujuh perusahaan yang telah melantai di bursa menghimpun total Rp2,16 triliun.













