Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
  • BEI membidik perusahaan di Kawasan Ekonomi Khusus dan entitas di bawah Danantara untuk IPO pada 2027, guna menambah emiten serta pilihan investasi domestik.
  • Perusahaan manufaktur di KEK dinilai membutuhkan pendanaan besar dan jangka panjang untuk ekspansi, sehingga pasar modal menjadi alternatif selain pembiayaan perbankan.
  • Peluang IPO entitas Danantara bergantung pada selesainya restrukturisasi dan konsolidasi BUMN; BEI telah mendekati kandidat potensial serta melibatkan underwriter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai membidik perusahaan yang beroperasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan entitas bisnis di bawah koordinasi Danantara untuk melantai di bursa pada 2027. Kedua kelompok perusahaan tersebut berpotensi menjadi sumber emiten baru sekaligus memperluas pilihan investasi di pasar modal domestik.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, peluang penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) masih terbuka, sejalan dengan prospek stabilitas pasar modal global dan Indonesia. Salah satu sasaran yang tengah dicermati adalah perusahaan manufaktur di KEK yang membutuhkan tambahan modal untuk memperluas kapasitas produksi.

Menurut Jeffrey, pembangunan fasilitas manufaktur di kawasan tersebut memerlukan investasi besar dan pendanaan berjangka panjang. Kebutuhan itu tidak selalu dapat dipenuhi melalui pembiayaan perbankan sehingga pasar modal dapat menjadi alternatif untuk memperoleh modal ekspansi.

“Pabrik-pabrik manufaktur yang dibangun di kawasan ekonomi khusus tentu membutuhkan pendanaan dan tidak bisa sepenuhnya dari perbankan. Pasar modal bisa menjadi salah satu alternatif,” kata Jeffrey, dalam Capital Market Journalist Workshop Media Gathering 2026 di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (31/10).

Di luar perusahaan KEK, BEI turut melihat peluang pencatatan saham dari perusahaan-perusahaan dalam portofolio Danantara. Potensi tersebut bergantung pada perkembangan restrukturisasi dan konsolidasi badan usaha milik negara (BUMN) yang berada dalam koordinasi lembaga tersebut.

Jeffrey menilai, penataan portofolio berpeluang membentuk entitas usaha dengan struktur yang lebih ramping, tetapi ditopang fundamental dan kondisi keuangan yang lebih sehat. Perusahaan yang telah menyelesaikan proses pembenahan internal tersebut berpotensi menjadi kandidat IPO.

Selain membuka akses pendanaan, pencatatan saham juga dapat mendorong perusahaan meningkatkan transparansi dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG). Langkah tersebut sekaligus berpotensi memperkuat reputasi perusahaan di hadapan investor.

Untuk menjaring kandidat emiten, BEI telah melakukan pendekatan awal kepada sejumlah perusahaan potensial. Bursa juga mendorong keterlibatan perusahaan penjamin emisi atau underwriter untuk mendampingi calon emiten dalam mempersiapkan proses IPO.

Adapun pembahasan lebih lanjut mengenai kemungkinan pencatatan saham perusahaan di bawah Danantara baru akan dilakukan setelah tahapan restrukturisasi dan konsolidasi internal selesai. ''Setelah restrukturisasi selesai, tentu kami akan diskusi dengan Danantara,” ujarnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article