Jakarta, FORTUNE - PT Bursa Efek Indonesia berambisi menjadi salah satu dari 10 bursa terbesar di dunia pada 2030. Baik dari segi kapitalisasi pasar maupun nilai transaksi.
Untuk itu, BEI menargetkan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) mencapai Rp31 triliun pada 2030. Sejalan dengan itu, BEI pun membidik kapitalisasi pasar sebesar Rp30.000 triliun atau lebih dari 83 persen terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) nasional.
"Hari ini, kita berada di posisi ke-19 [dari segi kapitalisasi pasar] dan ke-17 [dari segi nilai transaksi]," kata Direktur Utama BEI Periode 2026-2030, Jeffrey Hendrik di Konferensi Pers RUPST BEI 2026, Senin (29/6) di gedung BEI.
Demi mencapai target tersebut, BEI menetapkan 4 sasaran strategis 2030, yakni: pertumbuhan bisnis transaksi, pengembangan bisnis non-transaksi, peningkatan kuantitas dan kualitas perusahaan tercatat, serta peningkatan inklusivitas untuk segmen investor.
Dari segi penawaran misalnya, BEI memasang target untuk memiliki lebih dari 1.100 emiten yang mencatatkan saham di bursa, naik sekitar 15,06 persen dari 2025. Sebagai konteks, pada akhir tahun lalu, bursa telah memiliki 956 emiten.
"Untuk perincian [target] akan kami sampaikan tahun per tahun," ujar Jeffrey. "Ya, ada BUMN-nya juga, tentu kami harapkan dari ssemua sektor dan semua jenis perusahaan [akan melakukan IPO]."
Sebagai konteks, sampai dengan 26 Juni 2026, ada 8 emiten di antrean atau pipeline IPO saham BEI. Dari total calon emiten itu, 6 di antaranya adalah perusahaan dengan aset skala besar (di atas Rp250 miliar), 1 perusahaan beraset skala menengah (Rp50 miliar-Rp250 miliar), dan 1 perusahaan aset skala kecil (di bawah Rp50 miliar).
Sementara dari aspek investor, BEI menargetkan untuk mempunyai 35 juta investor pada 2030, dari 20,3 juta investor pada 2025.
Dari sisi kinerja, BEI membukukan laba bersih Rp1,07 triliun sepanjang 2025, naik 59,4 persen (YoY) dari Rp673 miliar. Pendapatannya juga bertumbuh 29,8 persen (YoY) dari 2,82 triliun menjadi Rp3,66 triliun.
