Jakarta, FORTUNE - Pemulihan harga Bitcoin ke atas US$80.000 belum sepenuhnya menghapus kehati-hatian investor terhadap sejumlah faktor makroekonomi, mulai dari harga minyak hingga yield obligasi Amerika Serikat (AS) dan arah kebijakan The Federal Reserve. Namun, bagi CEO Tokocrypto Calvin Kizana, perhatian terhadap pasar kripto Indonesia seharusnya tidak berhenti pada pergerakan harga.
Calvin melihat Indonesia memiliki skala pasar dan tingkat adopsi yang belum sepenuhnya mendapat perhatian di tingkat global. Ia bahkan menilai Indonesia masih menjadi salah satu pasar yang underrated.
"Dari perspektif saya, Indonesia masih menjadi salah satu pasar yang underrated, potensinya paling dipandang sebelah mata," ujar Calvin dalam panel diskusi bertajuk Go-to-Market Strategy in Asia's Crypto Market pada Coinfest Asia 2026 akhir Agustus, dikutip Kamis (10/9).
Data Chainalysis Global Crypto Adoption Index 2025 turut menunjukkan besarnya basis pengguna kripto Indonesia. Indonesia berada di peringkat ketujuh dari 151 negara dalam indeks adopsi kripto grassroots. Posisi tersebut bahkan berada di atas sejumlah negara yang lebih dulu dikenal sebagai pusat kripto di kawasan, termasuk Singapura yang tidak masuk 10 besar.
Di dalam negeri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah akun konsumen perdagangan aset keuangan digital mencapai 22,93 juta pada Juli 2026. Pada periode yang sama, nilai transaksi aset kripto tercatat Rp20,52 triliun.
Besarnya basis pengguna tersebut menunjukkan bahwa pasar Indonesia sudah memasuki tahap adopsi, bukan lagi sekadar menguji minat masyarakat terhadap aset digital. "Kripto di Indonesia bukan lagi sebuah eksperimen. Kita tidak sedang memulai adopsi, tapi adopsi itu sudah terjadi," katanya, menegaskan.
Menurut Calvin, salah satu alasan Indonesia belum mendapat perhatian sebesar potensinya adalah kecenderungan pelaku industri global menggunakan pendekatan yang seragam untuk pasar Asia Tenggara. Padahal, setiap negara memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari sisi regulasi, sistem pembayaran, budaya maupun perilaku konsumen.
"Indonesia sangat berbeda dari Singapura, Vietnam, Thailand, bahkan India. Regulasinya berbeda, perilaku pengguna dan pembayarannya berbeda, budayanya berbeda, ekspektasi konsumennya pun berbeda," ujarnya.
Ia juga menyoroti anggapan bahwa modal besar dapat menggantikan pemahaman terhadap karakteristik pasar lokal. Strategi pemasaran melalui influencer secara agresif, misalnya, dinilai dapat membantu menarik pengguna dalam waktu singkat, tetapi belum tentu membangun basis pengguna yang bertahan dalam jangka panjang.
