Jakarta, FORTUNE - BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) mempertahankan target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di 7.200 hingga Desember 2026, setelah pemicu skenario bearish menghilang.
Menurut tim riset BRIDS, ada beberapa katalis yang menekan skenario bearish, yakni: S&P yang memberi peringkat BBB/A-2 untuk kredit Indonesia dan outlook stabil, serta keputusan MSCI mempertahankan Indonesia di klasifikasi emerging markets.
"[Target IHSG tersebut berarti] implikasi rasio price to earning (P/E) forward 10,0 kali dan asumsi pertumbuhan earning per share (EPS) 8 persen pada 2027," demikian dikutip dari riset terbaru BRIDS, Selasa (14/7).
Saat ini, rasio P/E saat ini adalah 9,1 kali dengan -2,6 standar deviasi. Padahal, rata-rata P/E dalam 10 tahun adalah 14,8 kali. Level P/E saat ini dinilai terlalu pesimistis. Harga saham pun disebut sudah memperhitungkan skenario bear rating dan pertumbuhan negatif.
Tim analis BRIDS juga menyebut, apabila proyeksi EPS 8 persen terwujud pada P/E 9,1 kali, indeks diperkirakan tetap bisa menyentuh level 6.520 atau meningkat 8 persen. Risiko dan pengembalian dinilai tetap baik.
Kendati demikian, pasar masih tetap harus memperhatikan sejumlah faktor risiko seperti rasio bunga terhadap pendapatan yang masih di atas 15 persen, berkaitan dengan sentimen penilaian S&P. Selain itu, ada juga faktor risiko dari evaluasi MSCI periode November 2026 dan eskalasi perang atau lonjakan harga minyak.
Di tengah kondisi tersebut, BRIDS menyoroti sejumlah sektor dengan prospek positif, mencakup: perbankan, telekomunikasi, metal, dan batu bara. Saham-saham yang masuk radar mereka adalah BBCA, BBNI, ISAT, EXCL, ANTM, TINS, dan AADI.
Pada Selasa sore, IHSG tercatat menguat 0,03 persen ke level 6.039,48 dari penutupan perdagangan Senin, yakni 6.037,84. Dikutip dari IDX Mobile, volume transaksi mencapai 27 miliar, dengan nilai transaksi Rp15,7 triliun, serta frekuensi transaksi 2,65 juta kali.
