Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Di Tengah Penantian Kebijakan Subung, IHSG Diprediksi Menguat

Di Tengah Penantian Kebijakan Subung, IHSG Diprediksi Menguat
Layar yang menunjukkan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Intinya Sih
  • IHSG diproyeksikan melanjutkan penguatan selama bertahan di atas level support 6.100, dengan target resisten di kisaran 6.200–6.242 dan saham unggulan seperti BBCA, ASII, serta TLKM.
  • Kenaikan IHSG pekan lalu didorong inflasi AS yang lebih rendah, stabilnya peringkat kredit Indonesia oleh S&P Global, serta penguatan rupiah yang memperkuat sentimen positif pasar.
  • Pasar menanti hasil RDG Bank Indonesia terkait BI rate dan arah kebijakan moneter; sinyal keseimbangan antara stabilitas rupiah dan pertumbuhan ekonomi dinilai kunci bagi reaksi pasar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melanjutkan tren penguatannya pada perdagangan Senin (20/7).

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, hal itu berpotensi terjadi selama IHSG bertahan di atas support 6.100, dengan target menguji resisten antara 6.200 dan 6.242. Saham-saham pilihannya adalah BBCA, ASII, dan TLKM.

"Kembalinya akumulasi asing dan peningkatan momentum beli menjadi katalis positif bagi pergerakan IHSG dalam jangka pendek," kata Reza dalam riset hariannya.

Pekan lalu, IHSG ditutup naik 1,1 persen ke level 6.175,54 dan naik 4,24 persen sepanjang pekan. Hal itu didorong oleh inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari ekspektasi sehingga meningkatkan peluang The Fed mempertahankan suku bunga, keputusan S&P Global yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia, serta penguatan rupiah.

Pada pekan ini, pasar akan mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, yang diperkirakan mempertahankan BI rate di level saat ini. Meski demikian, peluang kenaikan suku bunga tetap terbuka sebagai langkah menjaga stabilitas rupiah. Investor juga akan memantau keberlanjutan arus dana asing sebagai konfirmasi penguatan pasar.

Lebih lanjut, Pengamat Pasar Modal dan Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan, pelaku pasar tidak hanya menanti keputusan mengenai BI Rate, tetapi juga mencermati arah kebijakan Bank Indonesia ke depan, terutama terkait stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi, dan prospek arus modal asing. Menurutnya, dalam kondisi seperti ini, pasar umumnya lebih sensitif terhadap sinyal atau forward guidance yang disampaikan Bank Indonesia dibandingkan besaran suku bunga itu sendiri.

Ia menilai, selama BI tetap mengedepankan keseimbangan antara menjaga stabilitas rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi, reaksi pasar diperkirakan cenderung positif karena sebagian besar ekspektasi tersebut telah diperhitungkan oleh investor. "Namun apabila muncul sinyal pengetatan moneter yang lebih agresif, tekanan jangka pendek terhadap IHSG masih mungkin terjadi, terutama pada sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga," kata Hendra kepada pers.

Meski demikian, langkah tersebut juga dapat dipandang positif karena memperkuat kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Dengan mempertimbangkan sentimen domestik dan global, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang 6.000-6.300 sepanjang pekan RDG BI, dengan level 6.500 menjadi area penopang penting.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More