Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Penyebab IHSG Hari Ini Naik 1 Persen, Capai Level 6.243

Penyebab IHSG Hari Ini Naik 1 Persen, Capai Level 6.243
Layar yang menunjukkan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Intinya Sih
  • IHSG menguat 0,86% ke level 6.228 berkat dorongan saham big banks seperti BBRI, BBCA, dan BMRI serta kontribusi positif dari grup Barito Pacific.

  • Mayoritas sektor di BEI mencatat kenaikan dengan industri dan energi memimpin, sementara teknologi dan kesehatan masih melemah.

  • Kenaikan IHSG turut dipicu sentimen positif global dan domestik seperti inflasi AS yang melandai, serta peringkat kredit Indonesia stabil.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat sejak pembukaan perdagangan Senin (20/7) dan bertahan di zona hijau hingga penutupan sesi I. Kenaikan ditopang mayoritas sektor, terutama saham-saham perbankan dan grup Barito.

Pelaku pasar juga mencermati sejumlah sentimen, mulai dari Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pekan ini, perkembangan inflasi global, arus dana asing, hingga keputusan lembaga pemeringkat yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia.

Saham big banks jadi motor penguatan IHSG

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.43 WIB IHSG naik sekitar 1,09 persen ke level 6.243,13 dan ditutup menguat 0,86 persen di level 6.228 pada akhir sesi pertama.

Salah satu penyebab IHSG hari ini naik berasal dari penguatan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big banks).

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menyumbang sekitar 14 poin terhadap penguatan IHSG. Disusul PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 8,83 poin, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar 4,61 poin, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar 2,45 poin.

Harga saham BBRI sempat naik 3,70 persen menjadi Rp3.080 per saham. Sementara BBCA menguat 1,16 persen ke Rp6.550 dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) naik 1,68 persen ke Rp3.640 per saham.

Selain saham perbankan, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turut menopang kenaikan IHSG setelah menguat 3,83 persen menjadi Rp1.760 per saham.

Mayoritas sektor ditutup menguat

Penguatan IHSG juga didukung kenaikan mayoritas sektor di BEI. Hingga penutupan sesi I, sektor industri memimpin penguatan dengan naik 2,08 persen, diikuti energi (1,72 persen), properti (1,47 persen), dan konsumer non-siklikal (1,32 persen).

Sementara itu, sektor transportasi menguat 0,82 persen, bahan baku 0,79 persen, infrastruktur 0,58 persen, dan keuangan 0,48 persen. Adapun sektor teknologi dan kesehatan menjadi dua sektor yang berada di zona merah dengan pelemahan masing-masing 0,24 persen dan 0,17 persen.

Dari sisi statistik perdagangan, sebanyak 418 saham menguat, 198 saham melemah, dan 349 saham bergerak stagnan. Nilai transaksi hingga sesi pertama mencapai Rp8,23 triliun dengan volume perdagangan sekitar 15,25 miliar saham.

Di sisi lain, daftar top gainers dipimpin PT Indonesia Prima Property Tbk (OMRE) yang melonjak 24,07 persen. Posisi berikutnya ditempati PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) yang naik 17,19 persen, disusul PT Wijaya Cahaya Timber Tbk (FWCT) dengan 16,87 persen.

Pelemahan terbesar terjadi pada saham PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), dan PT MAP Boga Adiperkasa Tbk (MAPB).

Sentimen global dan domestik menopang IHSG

Selain didukung pergerakan saham unggulan, penyebab IHSG hari ini naik juga karena sentimen domestik dan global. BRI Danareksa Sekuritas menilai reli pasar didorong oleh inflasi Amerika Serikat lebih rendah dari ekspektasi. Ini meningkatkan peluang Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya.

Dari dalam negeri, optimisme turut didukung keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil. Hal yersebut disertai penguatan nilai tukar rupiah dan kembali masuknya aliran dana asing (net buy) pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Investor juga menunggu hasil RDG Bank Indonesia pekan ini. Konsensus pasar memperkirakan BI Rate tetap berada di level 5,75 persen karena inflasi masih terkendali dan nilai tukar rupiah relatif stabil.

Selain itu, pelaku pasar mencermati keputusan suku bunga People's Bank of China (PBoC) dan European Central Bank (ECB). Sementara itu, dinamika geopolitik di Timur Tengah masih berpotensi memengaruhi volatilitas pasar global.

Pasar menanti musim laporan keuangan emiten

Selain faktor makro, perhatian investor pekan ini mulai bergeser ke musim publikasi laporan keuangan emiten kuartal II-2026, diperkirakan menjadi katalis berikutnya bagi pasar saham domestik.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, mengatakan hasil kinerja korporasi berpotensi menjadi penentu arah rotasi sektor maupun kelanjutan arus dana ke pasar saham.

“Hasil kinerja perusahaan diperkirakan akan menjadi penentu utama arah rotasi sektor maupun keberlanjutan aliran dana ke pasar saham domestik,” tutur Imam dalam risetnya, Senin (20/7).

Pasar juga akan mencermati data pertumbuhan kredit perbankan, suplai uang M2, serta sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat dan China.

Menurut IPOT, IHSG masih memiliki peluang melanjutkan penguatan apabila mampu bertahan di atas area support 6.085 dan menembus resistance penting di sekitar level 6.190.

Pada pekan sebelumnya, IHSG telah menguat 4,24 persen. Kenaikan tersebut ditopang melandainya inflasi Amerika Serikat, peringkat kredit Indonesia yang tetap stabil, serta realisasi foreign direct investment (FDI) kuartal II-2026 yang mencapai rekor Rp257,7 triliun.

FAQ seputar penyebab IHSG hari ini naik

Saham apa yang paling besar menopang IHSG?

BBRI menjadi kontributor terbesar, disusul BBCA, TLKM, dan BMRI.

Sektor apa yang mencatat kenaikan tertinggi?

Sektor industri memimpin dengan kenaikan 2,08 persen pada sesi pertama perdagangan.

Sentimen apa yang diperhatikan investor pekan ini?

Investor menunggu keputusan suku bunga Bank Indonesia dan musim laporan keuangan emiten kuartal II-2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More