Jakarta, FORTUNE - Pasar menyoroti keputusan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2022-2026, Iman Rachman, yang mengundurkan diri pada Jumat (30/1).
Pengamat Pasar Modal dan Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, mengatakan, pengunduran diri pimpinan tertinggi BEI itu tidak bisa dilepaskan dari dinamika pasar yang sedang bergejolak. Dalam 5 hari terakhir, IHSG telah terkoreksi 7,97 persen ke level 8.311,65.
"Dalam konteks ini, mundurnya Direktur Utama BEI dipandang sebagai bentuk tanggung jawab institusional sekaligus momentum evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan pasar modal Indonesia," kata Hendra kepada Fortune Indonesia, Jumat pagi.
Menurutnya, IHSG yang dalam waktu singkat mengalami koreksi tajam menunjukkan rapuhnya kepercayaan investor, khususnya investor asing, terhadap stabilitas dan mekanisme pasar. Lebih lanjut, trading halt yang terjadi dua kali berturut-turut menjadi sinyal kuat, volatilitas sudah berada di level ekstrem dan membutuhkan respons kelembagaan yang serius.
Ia mencatat, pada perdagangan hari ini, IHSG sempat menunjukkan tanda pemulihan terbatas. Hingga pukul 09.28 WIB, indeks tercatat menguat 0,91 persen ke level 8.307. Namun, penguatan ini masih bersifat teknikal dan belum sepenuhnya mencerminkan pulihnya kepercayaan pasar.
Dalam hematnya, investor cenderung bersikap hati-hati sambil menunggu kejelasan arah kebijakan BEI ke depan, terutama terkait penunjukan direktur utama yang baru. "Pasar membutuhkan figur pemimpin yang mampu memperkuat transparansi, memperbaiki tata kelola, serta menjawab ekspektasi lembaga indeks global seperti MSCI yang selama ini menyoroti isu free float dan kualitas likuiditas pasar Indonesia," katanya.
Ke depan, arah pergerakan IHSG diperkirakan masih akan cenderung fluktuatif dengan bias melemah. Dalam jangka pendek, indeks diproyeksikan bergerak dalam rentang 8.150 hingga 8.350, seiring pelaku pasar mencermati perkembangan lanjutan di internal BEI dan respons regulator.
Hendra mengatakan, stabilitas pasar tidak hanya ditentukan oleh faktor teknikal semata, tetapi juga oleh kepercayaan terhadap kepemimpinan bursa. "Oleh karena itu, penunjukan Direktur Utama BEI yang baru akan menjadi katalis penting bagi pasar, apakah mampu mengembalikan keyakinan investor dan membawa pasar modal Indonesia menuju fase yang lebih transparan, kredibel, dan berdaya saing global," jelasnya.
Sebagai konteks, Iman Rachman diangkat sebagai Direktur Utama BEI melalui RUPST pada 29 Juni 2022. Ia memiliki gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Padjajaran pada 1995 dan Magister of Business Administration (MBA) Finance dari Leeds University Busienss School pada 1997.
Ia memulai karier sebagai Manager di PT Danareksa Sekuritas (1998-2003). Setelah itu, ia menjabat sebagai Direktur Investment Banking PT Mandiri Sekuritas (2003-2016); Direktur Keuangan PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) (2016-2018); Direktur Keuangan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) (2018-2019); dan Direktur Utama PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) (2019-2020). Posisi terakhirnya sebelum resmi menjadi Dirut BEI adalah Direktur Strategi, Portfolio, dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero) (2020-2022).
Setelah pengunduran diri Iman, Manajemen BEI akan menjalankan prosedur sesuai dengan dokumen tata kelola perusahaan dan ketentuan yang berlaku.