Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

IHSG Bangkit di Tengah Tekanan Rupiah dan Bayang-Bayang The Fed

4 min read
IHSG Bangkit di Tengah Tekanan Rupiah dan Bayang-Bayang The Fed
Ilustrasi perdagangan di bursa saham. (Fortune Indonesia/Tanayastri Dini)

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan menguat pada Kamis (29/10), setelah ditutup naik 0,31 persen ke level 5.282,31 kemarin sore.

Penguatan IHSG kemarin terjadi setelah sempat tertekan ke area 5.170-an sebelum berbalik menguat pada sesi kedua. Kenaikan tersebut mengindikasikan technical rebound setelah indeks beberapa kali mendapat respons beli di area support.

Di sisi lain, rupiah yang masih tertekan di atas Rp18.100 per dolar AS menjadi risiko bagi pasar domestik. "Meski demikian, investor asing mulai mencatatkan net buy sebesar Rp257 miliar di pasar reguler, menjadi pembelian bersih pertama setelah periode tekanan jual sebelumnya, yang berpotensi menjadi sinyal awal perbaikan aliran dana asing," kata Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda.

Sentimen dari eksternal berasal dari keputusan The Fed terkait suku bunga. The Fed mempertahankan suku bunga di 3,75–4,00 persen, sesuai ekspektasi pasar, setelah menaikkan suku bunga 25 bps pada September.

Namun, inflasi AS yang masih tinggi dan adanya dua pejabat yang menginginkan kenaikan suku bunga lanjutan menunjukkan risiko kebijakan moneter ketat masih terbuka. Reza mengatakan, kondisi itu perlu dicermati karena dapat menopang dolar AS dan membatasi aliran modal ke pasar berkembang

Dari domestik, perhatian pasar tertuju pada rilis laporan keuangan emiten kuartal III 2026.

Reza menilai, secara teknikal, IHSG berpeluang melanjutkan technical rebound secara terbatas selama bertahan di atas support 5.182–5.118. "Namun, tren masih bearish karena indeks berada di bawah MA20 (5.731) dan MA200 (6.899). MACD masih negatif, meski histogram yang menyusut mengindikasikan tekanan bearish mulai mereda," kata Reza.

Daftar saham pilihan tim BRIDS hari ini adalah DSNG, ANTM, dan AADI.

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas mengatakan, secara teknikal, pergerakan IHSG telah mengonfirmasi pembalikan arah setelah terdeteksinya pola bullish pin bar yang bertindak sebagai "wave (b)". Dengan demikian, pembeli kembali masuk ke pasar. Berdasarkan indikator teknikal, sinyal Stochastics K_D dan RSI menunjukkan indikasi positif, meskipun volume transaksi mengalami penurunan.

Menurut Nafan, penguatan bursa mencerminkan sikap investor yang relatif optimistis, tetapi tetap berhati-hati karena keputusan The Fed belum memberikan kepastian mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.

Para pelaku juga masih mencermati tekanan inflasi Amerika Serikat yang belum sepenuhnya kembali ke target 2 persen, sehingga peluang pengetatan moneter pada pertemuan Desember berikutnya tetap terbuka, dengan probabilitas 83,26 persen kenaikan 25 bps.

"Apalagi dalam internal The Fed, terdapat dua anggota komite yang menolak jeda dan memilih kenaikan 25 bps. Dissent atau perbedaan pendapat dari dua pejabat FOMC tersebut menjadi pesan utama bagi para investor," kata Nafan.

Jeda suku bunga pada pertemuan kali ini dinilai bukan tanda akhir dari siklus pengetatan, melainkan penundaan strategis agar The Fed dapat mengumpulkan lebih banyak data ekonomi sebelum pertemuan berikutnya. Dengan absennya rilis proyeksi ekonomi (dot plot) baru pada pertemuan ini, fokus pelaku pasar kini tertuju pada sinyal dari pimpinan The Fed serta rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III dan indikator inflasi PCE yang merupakan indikator penting dalam menentukan arah kebijakan The Fed selanjutnya.

Selain kebijakan moneter, kondisi pasar global juga dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas kilang minyak di Arab Saudi memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak mentah dunia, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga minyak mentah Brent sebesar 1,04% menjadi USD110,55 per barel.

Dari sisi domestik, para pelaku pasar juga mencermati rencana BEI mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari penghitungan IHSG mulai 2 November 2026. Kebijakan itu merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan transparansi indeks, tetapi dalam jangka pendek dapat memicu penyesuaian portofolio dan perubahan persepsi investor terhadap saham-saham yang terdampak.

"Proses komunikasi antara otoritas Indonesia dan MSCI juga masih menjadi perhatian karena kepastian mengenai aksesibilitas pasar, transparansi kepemilikan saham, dan implementasi reformasi akan menentukan kepercayaan investor asing," kata Nafan.

Saham-saham pilihannya adalah BBCA, INCO, dan ELSA.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More