Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IHSG di Bawah Tekanan: Saham HSC Keluar, Risiko Global Membayangi
Layar yang menunjukkan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
  • IHSG ditutup melemah 0,80% ke 5.057,05 setelah sempat menyentuh 4.979,34; tekanan jual dominan dan investor asing mencatat penjualan bersih Rp172 miliar.
  • Mulai 2 November, BEI mengecualikan 81 saham berkategori HSC dari penghitungan IHSG, memicu penyesuaian komposisi dan bobot indeks serta diharapkan memperbaiki representasi saham publik.
  • Sentimen IHSG dipengaruhi rupiah, evaluasi MSCI, data ekonomi domestik, arah The Fed, harga minyak, geopolitik, dan gejolak kripto; secara teknikal tren bearish masih berlanjut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih dibayangi tekanan tren bearish pada Senin (2/11), terutama karena hari ini pengecualian daftar saham HSC dari IHSG akan berlaku efektif.

IHSG mengakhiri perdagangan Jumat (30/10) melemah 0,80 persen ke level 5.057,05 setelah sempat menembus level psikologis 5.000 dan menyentuh posisi terendah 4.979,34. Meski terjadi pemulihan menjelang penutupan, tekanan jual masih cukup dominan dengan 552 saham melemah. BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) mencatat, investor asing juga mencatatkan aksi jual Rp172 miliar pada hari tersebut.

"Rupiah yang masih berada di kisaran Rp18.120–18.150 per dolar AS serta ketidakpastian status Indonesia dalam evaluasi MSCI turut membayangi sentimen domestik," kata Technical Analyst BRIDS, Reza Diofanda.

Memasuki pekan ini, pasar akan mencermati implementasi kebijakan BEI mulai 2 November yang mengecualikan 81 saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari penghitungan IHSG, sebagai upaya meningkatkan kualitas dan transparansi indeks.

Selain itu, investor akan mencermati rilis data ekonomi domestik, termasuk inflasi Oktober, aktivitas manufaktur, neraca perdagangan, pertumbuhan ekonomi kuartal III, dan cadangan devisa.

Reza mengatakan, dari global, faktor yang dapat memengaruhi arus modal asing dan rupiah adalah arah kebijakan The Fed pasca-keputusan suku bunga terakhir serta perkembangan harga minyak dan tensi geopolitik.

Secara teknikal, IHSG masih dalam tren bearish dan berpotensi menguji support 5.026–4.942. Candle terakhir menunjukkan respons beli di bawah 5.000, tetapi MACD masih negatif dengan garis MACD di bawah signal line.

"Selama support bertahan, peluang konsolidasi atau technical rebound tetap terbuka, dengan resistance terdekat di 5.116–5.170," kata Reza.

Daftar saham pilihan tim BRIDS hari ini adalah BBNI, SSMS, dan HMSP.

Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas menilai, secara teknikal, dead-cat bounce akan terjadi pada pergerakan IHSG setelah “wave [iv]” terdeteksi. Berdasarkan indikator, baik sinyal Stochastics K_D maupun RSI berada dalam kategori negatif, namun volume mulai meningkat.

Dari global, harga minyak mentah global mengalami penguatan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Hal itu didorong oleh kekhawatiran gangguan pasokan energi setelah munculnya spekulasi bahwa pemerintah AS sedang mempertimbangkan opsi aksi militer baru terhadap Iran setelah pemilu sela AS pada 3 November 2026 selesai, sehingga memupus harapan akan penyelesaian diplomatik dalam waktu dekat.

"Ketegangan semakin diperparah oleh adanya insiden keamanan serta ancaman berkelanjutan terhadap infrastruktur energi vital di wilayah Teluk, seperti potensi gangguan pada jalur pengiriman minyak di Selat Hormuz," kata Senior Techical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kecemasan investor terkait guncangan di industri kripto akibat peretasan besar-besaran pada bursa Binance. Ketidakpastian politik karena pemilu sela AS menimbulkan kekhawatiran akan potensi pengetatan regulasi terhadap pengembangan AI, sementara pembobolan dana miliaran dolar di pasar kripto menekan pergerakan harga Bitcoin.

Sementara dari sisi domestik, terkait HSC, Nafan mengatakan, implementasi kebijakan BEI menghapus saham HSC dari IHSG berpotensi menimbulkan penyesuaian komposisi dan bobot indeks sehingga pergerakan IHSG pada awal perdagangan perlu dicermati secara khusus.

"Dari sisi positif, pengecualian saham HSC diharapkan memperbaiki kualitas representasi IHSG karena indeks akan lebih mencerminkan saham-saham dengan kepemilikan publik yang lebih memadai," kata Nafan.

Selain itu, para pelaku investor akan mencermati rilis sejumlah indikator ekonomi domestik pada hari ini, yaitu PMI manufaktur Oktober, inflasi Oktober, serta neraca perdagangan September. Trading Economics memperkirakan bahwa PMI manufaktur berada di 51,9 dari previous 52,4, inflasi tahunan sekitar 3,3 persen dari sebelumnya 3,28 persen, dan surplus neraca perdagangan sekitar US$3,7 miliar dari previous US$3,55 miliar.

Apabila data-data tersebut menunjukkan ketahanan aktivitas ekonomi, stabilitas inflasi, dan surplus perdagangan yang terjaga, hal itu berpotensi menjadi katalis positif bagi IHSG.

Sebaliknya, kenaikan inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi atau penyusutan surplus perdagangan dapat memperbesar tekanan terhadap rupiah dan persepsi risiko investasi domestik.

Editorial Team

Related Article