IHSG Diproyeksi Menguat, Resistance 6.455 Jadi Kunci

- IHSG diproyeksikan menguat setelah ditutup di 6.401,89, didukung struktur bullish dan rebound teknikal. Resistance 6.455 menjadi level krusial untuk membuka target 6.568–6.716.
- Pasar menantikan keputusan RDG BI yang diperkirakan mempertahankan BI Rate 5,75 persen serta risalah FOMC, di tengah peluang The Fed menahan suku bunga September sebesar 67 persen.
- Sentimen domestik didukung RAPBN, pertumbuhan ekonomi semester I-2026 sebesar 5,45 persen, penguatan rupiah, dan net buy asing; namun pasar tetap menghadapi volatilitas tinggi serta kenaikan harga minyak.
Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan menguat pada perdagangan Selasa (18/8), setelah ditutup naik 1,59 persen ke level 6.401,89 pada akhir pekan lalu.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, IHSG masih berada dalam short-term bullish structure dan bertahan di atas MA20, sehingga peluang menguji 6.455 masih terbuka. Breakout di atas 6.455 akan menjadi konfirmasi penguatan lanjutan dengan target berikutnya di 6.568–6.716.
"Sementara itu, fokus pasar pekan ini tertuju pada RDG BI yang diperkirakan mempertahankan BI Rate 5,75 persen serta FOMC Minutes untuk melihat arah kebijakan The Fed ke depan," kata Reza dalam riset hariannya.
Penguatan IHSG pada Jumat (14/8) didukung sentimen positif dari pidato Presiden Prabowo terkait RAPBN 2027 yang menargetkan defisit lebih rendah di 2,40 persen PDB serta optimisme pertumbuhan ekonomi hingga 6 persn pada 2026. Penguatan rupiah ke Rp17.827 per dolar Amerika Serikat (AS) turut menopang sentimen pasar. Sementara investor juga mencermati arah kebijakan fiskal dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi domestik.
"Kami memproyeksikan IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan dengan support di 6.200–6.280 dan resistance penting di 6.400-6.455," kata Reza.
Daftar saham pilihan tim BRIDS hari ini adalah HRTA, SRTG, dan INDY.
Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan, secara teknikal, pergerakan IHSG berhasil mengalami solid rebound dari MA20 yang kedua kalinya. Berdasarkan indikator, MA20&60 telah menunjukkan positive crossover, sementara Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif. Di sisi lain, volume mulai mengalami penguatan. Secara momentum bullish pada tren pergerakan IHSG masih berlaku.
"Meski demikian, sentimen IHSG pada Selasa, 18 Agustus 2026 diperkirakan mixed cenderung positif, dengan volatilitas tinggi," kata Nafan.
Dari global, para pelaku investor menantikan rilis risalah notulen rapat The Fed bulan Juli. Adanya suara perbedaan pendapat dari 3 (tiga) pejabat Fed yang menginginkan kenaikan suku bunga 25 bps menjadi fokus perhatian pasar. Artinya, meskipun data inflasi dan tenaga kerja mulai lebih lunak, kubu hawkish di dalam The Fed belum benar-benar hilang.
Akan tetapi, menurut CME FedWatch, probabilitas The Fed menahan suku bunga pada September meningkat sekitar 67 persen, sementara probabilitas kenaikan 25 basis poin turun menjadi sekitar 33 persen.
Kemudian dari geopolitik, harga minyak naik lebih dari 2 persen pada Senin, dengan Brent kembali menembus lebih dari US$90 per barel, setelah sebelumnya melonjak hampir 6 persen dalam sepekan. Ketegangan AS-Iran terkait Selat Hormuz menjadi faktor utama.
Dari dalam negeri, para pelaku pasar merespons positif pidato kenegaraan dan nota keuangan terkait arah kebijakan fiskal RAPBN, serta angka pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I-2026 yang tumbuh solid pada 5,45 persen (YoY) tentunya memperkuat optimisme pemulihan ekonomi domestik.
Bahkan penguatan nilai tukar rupiah dan masuknya kembali sebagian net buy asing pada beberapa saham blue chip memberi penopang bagi pergerakan indeks.
Nafan menilai, saat ini, para pelaku pasar menantikan hasil RDG BI pada Rabu besok dimana konsensus memperkirakan bahwa BI Rate akan dipertahankan. "Sejumlah ekonom menilai penguatan rupiah dan kondisi makro global yang lebih kondusif membuat BI belum perlu menaikkan suku bunga. Adapun forward guidance dan assessment BI terhadap rupiah, inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta ruang pelonggaran ke depan akan dinantikan para pelaku pasar," jelasnya.
Saham-saham pilihan Nafan hari ini adalah ARCI, VKTR, dan WIIM.
















