Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

IHSG Diproyeksikan Technical Rebound, Investor Cermati Langkah The Fed

3 min read
IHSG Diproyeksikan Technical Rebound, Investor Cermati Langkah The Fed
IHSG saat menembus level 9.000, Rabu (14/1).
  • IHSG diproyeksikan technical rebound jika bertahan di support 5.326–5.246, meski tren masih bearish karena berada di bawah MA20 dan MA200 serta MACD negatif.
  • Pasar mencermati laporan keuangan kuartal III 2026, kebijakan BEI mengecualikan saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi dari IHSG mulai 2 November, serta keputusan The Fed 29 Oktober.
  • Investor juga menunggu kinerja Microsoft, Alphabet, Amazon, dan bank domestik; laporan laba berkualitas serta pengelolaan risiko dinilai dapat menjadi katalis bagi saham terkait.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan dapat kembali mengalami rebound secara teknikal pada Selasa (27/10).

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, IHSG belum mampu menembus level resisten terdekat di 5.455 dan berpotensi bergerak konsolidatif dengan peluang technical rebound selama bertahan di atas support 5.326–5.246.

Tren masih bearish karena indeks berada di bawah MA20 (5.774) dan MA200 (6.933), sementara MACD masih negatif dengan garis MACD di bawah signal line. "Jika support mampu dipertahankan, IHSG berpeluang rebound untuk kembali menguji resisten 5.455–5.545," kata Reza.

Memasuki pekan ini, pasar akan mencermati tiga katalis utama. Pertama, rilis laporan keuangan kuartal-III 2026 yang berpotensi memicu pergerakan sektoral dan seleksi saham berdasarkan kinerja fundamental. Kedua, kebijakan BEI yang akan mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan transparansi indeks di tengah konsultasi MSCI terkait status pasar Indonesia.

Ketiga, keputusan The Fed pada 29 Oktober. Berdasarkan kalender ekonomi yang dipantau, konsensus memperkirakan suku bunga ditahan di level 3,75–4,00 persen.

Saham-saham yang masuk dalam daftar pantauan BRIDS hari ini adalah BBNI, TLKM, dan AADI.

Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas mengatakan, secara teknikal, pergerakan IHSG sedang membentuk pembalikan arah yang berkelanjutan dari "wave 5/(C)/Y" meskipun mengalami koreksi wajar. Berdasarkan indikator teknikal, sinyal Stochastics K_D menunjukkan arah positif, walaupun sinyal RSI berada di area negatif dan volume transaksi mengalami penurunan.

Senior Technical Analyst Mirae Asset, Nafan Aji mengatakan, para pelaku pasar akan menyoroti Fed Funds Rate decision pada pekan ini. Namun, keputusan untuk menahan suku bunga belum tentu menjadi sinyal pelonggaran kebijakan moneter, mengingat inflasi AS mencapai 3,7 persen secara tahunan pada September, jauh di atas target The Fed sebesar 2 persen.

Kenaikan harga energi, terutama akibat konflik AS-Iran, turut memperbesar risiko tekanan inflasi. Bahkan keputusan untuk menahan suku bunga ini dipengaruhi oleh pertimbangan momentum politik menjelang pemilu sela (midterm elections) AS pada 3 November 2026. "Dengan demikian, fokus investor bukan hanya pada keputusan suku bunga Oktober, melainkan juga pada indikasi kebijakan moneter selanjutnya, terutama kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember 2026," kata Nafan.

Selain kebijakan moneter, laporan keuangan emiten berkapitalisasi besar akan menjadi katalis penting bagi arah pasar. Para pelaku investor global menantikan kinerja Microsoft dan Alphabet pada Rabu, 28 Oktober 2026, disusul Amazon pada Kamis, 29 Oktober 2026.

Hasil kinerja ketiga perusahaan tersebut berpotensi memberikan gambaran mengenai pertumbuhan pendapatan dari bisnis AI dan cloud computing, sekaligus menguji apakah belanja infrastruktur AI yang besar mampu menghasilkan imbal hasil memadai.

Sementara para pelaku investor domestik menantikan kinerja khususnya sektor perbankan (Big Four & Mid-Cap), yakni Bank Mandiri (BMRI) yang diperkirakan diumumkan hari ini. Selanjutnya, Bank Syariah Indonesia (BRIS) dijadwalkan pada Kamis, 29 Oktober 2026, sedangkan BBRI, BBTN, dan BDMN diperkirakan menyusul pada 30 Oktober 2026.

Nafan mengatakan, laporan yang menunjukkan pertumbuhan laba berkualitas dan pengelolaan risiko yang baik dapat menjadi katalis positif bagi saham bank terkait. Sementara itu, jadwal tersebut masih berupa estimasi dan dapat berubah.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More