- Likuiditas terbatas: Saham yang tersedia untuk diperdagangkan relatif sedikit sehingga investor berpotensi kesulitan melakukan transaksi dalam jumlah besar.
- Volatilitas harga: Terbatasnya aktivitas perdagangan dapat menyebabkan harga saham lebih mudah mengalami perubahan signifikan akibat transaksi tertentu.
- Risiko tata kelola: Dominasi pemegang saham utama dapat meningkatkan risiko konflik kepentingan, terutama jika keputusan perusahaan tidak memperhatikan kepentingan pemegang saham minoritas.
Apa Itu High Shareholding Concentration (HSC) yang Tengah Jadi Sorotan?

BEI akan mengecualikan saham berstatus High Shareholding Concentration dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026.
HSC terjadi saat mayoritas saham dikuasai sedikit pihak, membatasi saham yang diperdagangkan serta berisiko memicu likuiditas rendah, volatilitas harga, dan konflik kepentingan tata kelola.
Per 23 Oktober 2026, terdapat 81 saham dalam pemantauan HSC. Statusnya dapat berubah dan pengecualian dari IHSG tidak berarti saham tersebut delisting dari BEI.
Jakarta, FORTUNE — Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengubah kriteria perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan mengecualikan saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC) mulai 2 November 2026. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan transparansi dan menjaga kredibilitas indeks saham Indonesia.
Bersamaan dengan kebijakan tersebut, apa itu High Shareholding Concentration (HSC) pun menarik perhatian. Khususnya bagi mereka yang masih awam dengan istilah itu.
Secara singkat, HSC merupakan situasi saat kepemilikan saham terkonsentrasi pada sejumlah kecil pemegang saham. Lebih lengkapnya, simak pengertian HSC beserta dampaknya di bawah ini.
Table of Content
Apa itu High Shareholding Concentration?
High Shareholding Concentration (HSC) adalah kondisi di mana sebagian besar saham perusahaan dikuasai oleh satu atau sejumlah kecil pemegang saham. Pihak tersebut dapat berupa pemegang saham pengendali, perusahaan induk, keluarga pendiri, pemerintah, maupun investor strategis.
Konsentrasi kepemilikan yang tinggi membuat sebagian besar saham berada di tangan pihak tertentu. Akibatnya, jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan di pasar menjadi terbatas. Kondisi ini berpotensi memengaruhi likuiditas saham, yakni kemudahan investor membeli atau menjual saham tanpa menyebabkan perubahan harga yang signifikan.
HSC memiliki kaitan dengan free float, tetapi keduanya tidak sama. Free float merupakan persentase saham yang memenuhi kriteria kepemilikan publik berdasarkan ketentuan bursa. Sementara itu, HSC menunjukkan tingkat pemusatan kepemilikan saham pada pihak tertentu.
Jadi, saham dengan free float yang memenuhi ketentuan bursa belum tentu terbebas dari konsentrasi kepemilikan yang tinggi. Sebab, saham yang tercatat sebagai kepemilikan publik juga dapat terkonsentrasi pada sejumlah kecil investor.
Dampak HSC bagi perusahaan dan investor
Konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi tidak hanya berkaitan dengan jumlah saham yang beredar di publik. Hal tersebut juga memengaruhi aktivitas perdagangan dan tata kelola perusahaan. Bahkan, kondisinya bisa menimbulkan sejumlah risiko yang perlu diperhatikan investor, antara lain:
Perlu dipahami bahwa status HSC tidak otomatis menunjukkan perusahaan memiliki kinerja keuangan buruk atau melakukan pelanggaran pasar modal. Investor tetap perlu mempertimbangkan fundamental, valuasi, likuiditas, dan tata kelola perusahaan.
Mengapa saham HSC dikeluarkan dari perhitungan IHSG?
Risiko likuiditas dan volatilitas harga pada saham HSC turut menjadi perhatian BEI. Terlebih, saham dengan kapitalisasi pasar besar memiliki pengaruh signifikan terhadap pergerakan IHSG.
Ketika kepemilikan saham terkonsentrasi pada sejumlah kecil pihak, terbatasnya saham yang aktif diperdagangkan dapat menyebabkan perubahan harga yang tajam. Jika saham tersebut memiliki bobot besar dalam IHSG, pergerakan harganya berpotensi memengaruhi indeks secara keseluruhan meskipun aktivitas transaksinya relatif terbatas.
Untuk mengurangi risiko tersebut, BEI menetapkan kebijakan pengecualian saham berstatus HSC dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026. Langkah ini bertujuan meningkatkan kualitas dan kredibilitas indeks agar lebih mencerminkan kondisi perdagangan di pasar saham Indonesia.
Namun, pengecualian dari IHSG bukan berarti saham HSC dihapus dari pencatatan bursa (delisting). Saham tersebut tetap dapat diperdagangkan di BEI dan berpeluang kembali masuk dalam perhitungan IHSG apabila tidak lagi berstatus HSC.
Daftar saham HSC di BEI per Oktober 202
Seiring dengan kebijakan pengecualian saham HSC dari perhitungan IHSG, daftar emiten yang masuk kategori tersebut menjadi perhatian investor. Pasalnya, daftar ini dapat berubah mengikuti perkembangan struktur kepemilikan saham dan hasil penelaahan bursa.
Berdasarkan data BEI per 23 Oktober 2026, terdapat 81 saham dalam daftar pemantauan HSC. Sepanjang Oktober, sebanyak 23 saham baru masuk dalam daftar tersebut, yakni INDO, BSWD, DUTI, SHIP, EPMT, MTEL, DMND, SAME, INPP, BBMD, TMAS, ADES, CLAY, MAYA, BALI, PSAB, CITA, TBIG, BMAS, SMMT, SSMS, TFCO, dan FILM.
Di sisi lain, MGLV dan LUCY telah keluar dari daftar masing-masing pada 12 Oktober dan 2 Juli 2026. Saham FILM juga sempat dikeluarkan pada 12 Oktober, sebelum kembali masuk dalam daftar HSC pada 22 Oktober 2026.
Perubahan itu menunjukkan status HSC tidak bersifat permanen. Emiten dapat masuk atau keluar dari daftar sesuai dengan hasil pemantauan dan perkembangan data kepemilikannya.
Hanya saja, tetap perlu dipahami bahwa masuknya saham dalam daftar HSC bukan merupakan rekomendasi untuk menjual atau membeli saham tertentu.
FAQ seputar High Shareholding Concentration (HSC)
Apa itu High Shareholding Concentration (HSC)? HSC adalah kondisi ketika kepemilikan saham perusahaan terkonsentrasi pada sejumlah kecil pemegang saham.
Apakah saham HSC berarti fundamentalnya buruk? Tidak, karena HSC menggambarkan struktur kepemilikan, bukan penilaian langsung atas kinerja keuangan perusahaan.
Apa risiko saham HSC? Risikonya dapat mencakup likuiditas terbatas, volatilitas harga, dan persoalan tata kelola.
Saham apa saja yang keluar dari daftar HSC pada Oktober 2026? Per 23 Oktober 2026, MGLV dan LUCY tercatat keluar dari daftar HSC.











