Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

JPMorgan Proyeksi Imbal Hasil Bitcoin Lampaui Emas dan Saham

3 min read
JPMorgan Proyeksi Imbal Hasil Bitcoin Lampaui Emas dan Saham
ilustrasi crypto bitcoin, kripto (pexels.com/DS stories)
  • JPMorgan memproyeksikan imbal hasil tahunan Bitcoin 10% dalam 10 tahun, melampaui saham berkapitalisasi besar AS 7,5% dan emas 5,5%.
  • Meski prospeknya tinggi, JPMorgan belum merekomendasikan Bitcoin untuk diversifikasi karena korelasi pasar tidak stabil; skenario tahunan berkisar untung 16,6% hingga rugi 11,2%.
  • MSCI meninjau aturan bagi perusahaan publik yang mayoritas asetnya Bitcoin, yang berpotensi memengaruhi kelayakan saham Bitcoin treasury masuk indeks acuan investor pasif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE– Bitcoin (BTC) berpotensi mencatatkan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan saham berkapitalisasi besar Amerika Serikat dan emas dalam satu dekade mendatang. Meski demikian, JPMorgan Asset Management menilai volatilitas dan korelasi pasar yang tidak menentu masih menjadi alasan untuk tidak merekomendasikan aset kripto tersebut sebagai instrumen diversifikasi portofolio saat ini.

Melansir Cointelegraph, JPMorgan merilis laporan Long-Term Capital Market Assumption untuk 2027. Dalam laporan itu, perusahaan memproyeksikan imbal hasil tahunan Bitcoin sebesar 10 persen selama 10 tahun ke depan. Angka tersebut melampaui proyeksi saham berkapitalisasi besar AS sebesar 7,5 persen dan emas sebesar 5,5 persen.

Proyeksi tersebut merupakan bagian dari kajian tahunan JPMorgan yang menganalisis lebih dari 200 kategori aset. Laporan itu disusun sebagai salah satu acuan bagi investor dalam menentukan strategi dan menyusun alokasi portofolio.

Meski memperkirakan prospek imbal hasil Bitcoin cukup tinggi, JPMorgan tetap menyoroti risiko dari pergerakan harganya yang fluktuatif.

"Saat ini, kami tidak menyarankan Bitcoin sebagai instrumen diversifikasi portofolio karena korelasi pasarnya yang tidak stabil," demikian diungkapkanlaporan tersebut.

"Kami memandang Bitcoin sebagai aset spekulatif dan sarana lindung nilai terhadap kebijakan pelonggaran moneter."

JPMorgan juga memperhitungkan kemungkinan Bitcoin menghasilkan keuntungan maupun kerugian dalam persentase dua digit. Pada skenario bullish, imbal hasil tahunan Bitcoin diperkirakan mencapai 16,6 persen. Sebaliknya, dalam skenario pesimistis bearish, aset kripto tersebut berpotensi mencatatkan kerugian tahunan sebesar 11,2 persen.

Penyusunan proyeksi tersebut mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk pertumbuhan pasokan Bitcoin dibandingkan dengan jumlah uang beredar, potensinya sebagai aset yang diperbandingkan dengan emas, serta perkembangan tingkat adopsi jaringannya.

Pandangan JPMorgan itu mendapat respons positif dari Chief Investment Officer Bitwise, Matt Hougan. Ia menilai pencantuman Bitcoin dalam laporan proyeksi pasar modal jangka panjang tersebut menunjukkan perubahan cara pandang terhadap aset kripto.

"Awalnya mereka mengabaikan Anda, lalu menertawakan Anda, kemudian melawan Anda, dan akhirnya memasukkan Anda ke dalam dokumen Long-Term Capital Market Assumptions mereka serta memprediksi bahwa Anda akan menjadi aset dengan kinerja terbaik dalam satu dekade ke depan," demikian ditulis Hougan di platform X.

Perusahaan yang dipimpin Hougan, Bitwise, sebelumnya telah mengeluarkan proyeksi dengan asumsi pertumbuhan yang lebih agresif. Pada Agustus 2025, Bitwise memperkirakan harga Bitcoin dapat mencapai US$1,3 juta pada 2035, dengan estimasi imbal hasil tahunan sebesar 28,3 persen dalam skenario dasar.

Di sisi lain, perkembangan Bitcoin juga menghadapi tantangan dari sisi regulasi indeks pasar. Penyedia indeks global MSCI memperketat peninjauan aturan terhadap perusahaan publik yang sebagian besar asetnya berupa Bitcoin. Langkah ini menyoroti Strategy dan sejumlah perusahaan yang menjadikan Bitcoin sebagai aset utama dalam strategi pengelolaan kas (Bitcoin treasury).

Kebijakan MSCI tersebut berpotensi memengaruhi kelayakan saham perusahaan-perusahaan itu untuk masuk ke indeks acuan yang menjadi rujukan investor pasif di berbagai negara.

Dilansir dari CoinMarketCap, peninjauan MSCI berfokus pada klasifikasi perusahaan yang aktivitas utamanya lebih bertumpu pada akumulasi Bitcoin daripada menjalankan kegiatan operasional konvensional.

Sebelumnya, MSCI telah mengusulkan agar perusahaan dengan model bisnis berbasis kepemilikan Bitcoin dikeluarkan dari sejumlah indeks. Apabila kebijakan tersebut diterapkan, pendekatan investor institusional terhadap saham perusahaan Bitcoin treasury dapat berubah, terutama dalam menentukan alokasi investasi yang mengacu pada indeks pasar.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More