IHSG Diproyeksikan Menguat, Resistance di Level 5.350-5.400

- IHSG diproyeksikan menguat setelah ditutup naik 0,94 persen ke 5.328,36, dengan resistance 5.350–5.400 dan support 5.200 serta 5.100.
- Momentum pemulihan belum mengonfirmasi pembalikan tren karena MACD negatif, ketidakpastian reklasifikasi MSCI, tekanan rupiah, dan kenaikan yield obligasi berisiko menahan indeks.
- Pasar mencermati kebijakan BI, pidato Presiden Prabowo, serta laporan keuangan global; BRIDS menyoroti HRUM, PTBA, dan BBNI, sementara sanksi OJK dinilai mendukung integritas pasar.
Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan kembali menguat pada perdagangan Kamis (22/10), setelah ditutup naik 0,94 persen ke level 5.328,36.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase technical rebound setelah memantul dari support Fibonacci. Resistance terdekat berada di 5.350–5.400. Penembusan area ini diperlukan untuk memperkuat momentum pemulihan.
Namun, MACD masih berada di zona negatif dengan garis MACD di bawah signal line, sehingga tekanan bearish belum sepenuhnya mereda. "Support berada di 5.200, diikuti 5.100. Jika support kembali ditembus, risiko koreksi lanjutan perlu diwaspadai," kata Reza.
Penguatan IHSG kemarin disebut mencerminkan upaya pemulihan dari area support Fibonacci, tetapi belum mengonfirmasi pembalikan tren. Ketidakpastian terkait rencana reklasifikasi Indonesia oleh MSCI masih menjadi risiko utama bagi kepercayaan investor dan arus modal asing.
Untuk perdagangan Kamis ini, perhatian tertuju pada hasil RDG BI yang mempertahankan BI Rate di 5,75 persen, di tengah tekanan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS. Keputusan tersebut bertujuan menjaga suku bunga acuan tetap stabil, sementara penyesuaian suku bunga fasilitas simpanan menjadi 5,00 persenmenjadi bagian dari bauran kebijakan BI.
Pasar juga mencermati pidato Presiden Prabowo untuk melihat arah kebijakan ekonomi dan investasi. Kejelasan kebijakan yang mendukung stabilitas pasar dapat memperkuat sentimen, tetapi risiko capital outflow dan ketidakpastian MSCI masih berpotensi membatasi kenaikan IHSG.
Saham-saham yang masuk pantauan tim BRIDS hari ini adalah HRUM, PTBA, dan BBNI.
Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji, menjelaskan, secara teknikal, pergerakan IHSG telah menyelesaikan bagian awal dari pola wave 5/(C)/Y. Dengan demikian, indeks berhasil mengalami rebound bullish di tengah dominasi tekanan bearish. Berdasarkan indikator teknikal, sinyal Stochastics K_D dan RSI sama-sama menunjukkan tren positif, meskipun volume perdagangan mulai menurun.
Namun demikian, kenaikan yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 sebesar 3,86 persen di level 7,446 persen perlu dipahami dalam konteks tekanan pasar keuangan Indonesia setelah pengumuman MSCI mengenai usulan reklasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Selain itu, secara makroekonomi, tren kenaikan yield itu sering kali didorong oleh sentimen risk-off atau ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama (higher for longer), sehingga berpotensi memicu tekanan pada nilai tukar rupiah akibat capital outflow serta mengerek biaya modal (cost of capital) bagi korporasi domestik.
Lonjakkan yield tersebut berpotensi menjadi penahan utama bagi laju indeks pada Kamis, 22 Oktober 2026. "Naik tingginya imbal hasil aset bebas risiko membuat daya tarik dividen dan imbal hasil saham relatif menurun, khususnya bagi saham-saham perbankan berkapitalisasi besar serta sektor yang sensitif terhadap suku bunga dan utang tinggi seperti properti dan infrastruktur serta teknologi," kata Nafan.
Sementara itu, OJK mengumumkan penetapan sanksi terhadap sejumlah pihak terkait dugaan manipulasi perdagangan saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), pelanggaran dalam penawaran umum perdana saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), serta penawaran umum perdana saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Nafan mengatakan, dari perspektif investor, penegakan hukum OJK sejatinya merupakan sentimen positif bagi kualitas pasar, karena dapat memperkuat transparansi, integritas, serta kredibilitas tata kelola pasar modal Indonesia kedepannya. Bahkan tindakan tersebut merupakan langkah yang relevan untuk menjawab sebagian persoalan yang disoroti MSCI.
Dari sisi global, fokus pasar saat ini bergeser ke rilis laporan keuangan kuartal III-2026 yang mencermikan peningkatan optimisme terhadap prospek laba korporasi, khususnya perusahaan teknologi dan infrastruktur artificial intelligence (AI). Saham NVIDIA menguat 2,54 persen, IBM naik 3,96 persen, sementara Super Micro Computer melonjak 9,55 persen. Selain itu, meredanya kecemasan pasar juga dicerminkan oleh CBOE Volatility Index (VIX) yang melandai 3,64 persen ke level 16,68.












