IHSG Diproyeksi Technical Rebound, Pasar Tunggu Keputusan BI

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan kembali mengalami technical rebound pada Rabu (21/10), setelah ditutup menguat 5,65 persen ke level 5.178,89 kemarin sore.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, penguatan pada perdagangan kemarin mengindikasikan technical rebound setelah koreksi ekstrem dua sesi sebelumnya, didukung kenaikan pada mayoritas saham. Namun, investor asing masih mencatatkan net foreign sell Rp2,19 triliun, sehingga pemulihan belum sepenuhnya mencerminkan kembalinya kepercayaan investor.
Untuk perdagangan Rabu, perhatian tertuju pada RDG Bank Indonesia dengan konsensus Bloomberg dari 34 ekonom memperkirakan BI Rate tetap di 5,75 persen. "Namun, terdapat proyeksi kenaikan suku bunga ke 6 persen bahkan 6,25 persen untuk menjaga stabilitas rupiah yang berada di sekitar Rp18.000 per dolar AS," kata Reza.
Di tengah tekanan arus modal asing dan ketidakpastian MSCI, keputusan BI akan menjadi katalis penting bagi pergerakan rupiah dan IHSG.
Selain itu, data inflasi September telah dirilis, yakni sebesar 3,28 persen (YoY). Angka itu masih berada dalam sasaran BI 1,5–3,5 persen.
Reza mengatakan, secara teknikal, IHSG memantul dari support Fibonacci sekitar 4.942, dengan target technical rebound terdekat di 5.318–5.400. Namun, MACD masih berada di zona negatif dengan momentum bearish, sehingga penguatan perlu dikonfirmasi lebih lanjut. Sementara itu, support berada di 5.185.
"Jika kembali ditembus, risiko koreksi ulang meningkat. Penembusan resistance diperlukan untuk memperkuat peluang pemulihan," ujar Reza.
Saham-saham pilihan tim BRIDS hari ini adalah ANTM, ACES, dan BBNI.
Di sisi lain, Phintraco Sekuritas menilai, secara teknikal, indikator Stochastic RSI berpotensi membentuk Golden Cross di area oversold. Namun histogram MACD masih berada di area negatif. Tim riset Phintraco Sekuritas mengatakan, volatilitas pergerakan saham diperkirakan masih akan tinggi dengan IHSG berpotensi menguji level 5.300-5.400.
Menurut tim Phintraco, ekspektasi kenaikan BI Rate didorong oleh tekanan inflasi, depresiasi rupiah yang berlanjut, serta langkah antisipasi menjelang pertemuan the Fed pada pekan depan. Bank Indonesia mewaspadai inflasi pangan yang telah mencapai 5 persen (YoY) karena berpotensi menekan daya beli masyarakat dan meningkatkan risiko inflasi secara lebih luas.
Keputusan Bank Indonesia akan menjadi faktor penting bagi pergerakan rupiah, pasar obligasi, dan IHSG. Kenaikan suku bunga berpotensi menopang stabilitas rupiah, tetapi juga dapat meningkatkan tekanan pada pasar saham dan harga obligasi akibat ekspektasi biaya pendanaan yang lebih tinggi.
"Investor akan mencermati sinyal Bank Indonesia mengenai arah kebijakan moneter ke depan, terutama keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi," demikian dikutip dari riset harian Phintraco Sekuritas.
Daftar saham pilihan tim Phintraco Sekuritas adalah TLKM, BBCA, ANTM, BMRI, BBNI, dan BBRI.













