IHSG Dekati 5.400, Mampukah Rebound Bertahan di Tengah Net Sell?

- IHSG diproyeksikan melanjutkan rebound teknikal setelah naik 1,12% ke 5.387,91, namun perlu menembus 5.400–5.459; MACD negatif menandakan momentum bearish belum sepenuhnya selesai.
- Net sell asing Rp1,47 triliun dan pelemahan rupiah ke Rp18.060 per dolar AS menjaga risiko pasar. Investor menanti reformasi BEI-OJK serta respons pemerintah terkait kekhawatiran MSCI.
- Penguatan ditopang saham energi, transportasi, consumer goods, buyback, dan saham defensif. Sentimen global dibayangi belanja AI, kenaikan minyak, geopolitik, serta potensi kehati-hatian The Fed.
Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melanjutkan rebound teknikal pada Jumat (23/10), setelah ditutup naik 1,12 persen ke level 5.387,91.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengaakan, secara teknikal, IHSG mendekati resisten psikologis 5.400, dengan resisten lanjutan di 5.459. Support berada di area 5.240–5.190.
Namun, MACD masih berada di zona negatif dengan garis MACD di bawah signal line, sehingga momentum bearish belum sepenuhnya berakhir. "Penembusan 5.400–5.459 diperlukan untuk memperkuat pemulihan, sementara kegagalan bertahan di atas support berisiko memicu koreksi kembali," kata Reza.
Kemarin, penguatan menunjukkan aksi pemulihan. Namun, investor asing masih mencatatkan net sell Rp1,47 triliun, menandakan tekanan arus dana asing belum sepenuhnya mereda di tengah kekhawatiran terkait MSCI.
Untuk perdagangan Jumat, perhatian tertuju pada tindak lanjut reformasi pasar modal oleh BEI dan OJK, termasuk peningkatan transparansi kepemilikan saham serta rencana mengecualikan saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) dari penghitungan IHSG.
Pernyataan Presiden Prabowo mengenai respons Indonesia terhadap MSCI turut menjadi perhatian pasar.
"Meski reformasi berpotensi memperkuat kredibilitas pasar dalam jangka panjang, investor masih menantikan implementasi yang konkret untuk meredakan risiko capital outflow dan memulihkan kepercayaan terhadap pasar domestik," ujar Reza.
Daftar saham yang masuk pantauan BRIDS hari ini adalah BBTN, ANTM, dan INCO.
Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset, Nafan Aji, mengatakan, pergerakan IHSG kembali menunjukkan momentum penguatan setelah menyelesaikan bagian awal dari pola wave 5/(C)/Y. Berdasarkan indikator teknikal, sinyal Stochastics K_D dan RSI sama-sama positif, meskipun volume perdagangan mengalami penurunan.
Ia menilai, secara teknikal, pergerakan itu memberi sinyal positif bagi momentum kenaikan lanjutan. Penguatan IHSG ditopang oleh saham-saham fundamental di sektor energi, transportasi, serta consumer goods. Pembelian kembali saham (buyback) oleh sejumlah emiten besar (seperti sektor perbankan) serta perburuan saham-saham defensif turut menjadi katalis positif utama bagi kebangkitan indeks domestik.
"IHSG pada Jumat ini berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan bearish hingga konsolidasi, tetapi peluang technical rebound tetap terbuka apabila tekanan jual mulai mereda," ujar Nafan.
Dari domestik, pelemahan rupiah sebesar 0,21 persen di level Rp18.060 per dolar AS menambah risiko bagi pasar saham domestik. Jika tekanan terhadap rupiah berlanjut bersamaan dengan aksi jual asing, saham berkapitalisasi besar yang likuid dan memiliki kepemilikan asing tinggi dapat menghadapi tekanan.
Selain itu, para pelaku pasar juga akan mencermati data jumlah uang beredar atau M2 money supply. Data tersebut dapat membantu investor menilai kondisi likuiditas perekonomian, meskipun kemungkinan pengaruhnya terhadap IHSG tetap perlu dibandingkan dengan besarnya sentimen MSCI dan pergerakan pasar global.
Sedangkan dari sisi global, terdapat kekhawatiran para investor terhadap lonjakan biaya investasi kecerdasan buatan (AI spending) setelah rilis laporan keuangan kuartal ketiga dari sejumlah perusahaan teknologi besar.
"Meskipun sebagian besar laba perusahaan melampaui estimasi, investor menjadi sangat sensitif terhadap ketidakpastian tingkat pengembalian investasi (ROI) AI serta besarnya pengeluaran modal (capex) yang terus membengkak," jelas Nafan.
Kekhawatiran tersebut semakin diperparah oleh sentimen gеоpolitik setelah serangan kelompok Houthi ke sasaran di Arab Saudi yang mendorong harga minyak naik seperti minyak Brent sempat bergerak di atas US$113,9 per barel dalam perdagangan intrahari, mendekati level tertinggi dalam lima bulan, tentunya menimbulkan kekhawatiran lonjakan inflasi dan ketatnya kebijakan suku bunga The Fed.
Di sisi lain, para pelaku investor juga menyoroti klaim awal tunjangan pengangguran di AS yang tetap berada di sekitar level terendah dalam beberapa dekade. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja masih relatif stabil dan belum memperlihatkan pelemahan signifikan.
Dari sudut pandang ekonomi, ketahanan tenaga kerja mendukung daya beli masyarakat dan menjaga aktivitas konsumsi. Namun, ketika inflasi energi kembali meningkat, ketahanan tersebut juga dapat membuat The Fed lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga karena permintaan ekonomi belum tentu cukup lemah untuk menekan inflasi secara berkelanjutan.
Saham-saham pilihan tim Mirae adalah AMRT, KLBF, dan RATU.













