Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

IHSG Menguat di Tengah Gejolak Global, Profit Taking Mengintai

IHSG Menguat di Tengah Gejolak Global, Profit Taking Mengintai
IHSG saat menembus level 9.000, Rabu (14/1).
  • IHSG diproyeksikan melanjutkan penguatan setelah ditutup naik 0,37 persen ke 6.525,69, didukung sinyal teknikal positif, penguatan rupiah, dan pertumbuhan likuiditas M2 Juli 8,3 persen secara tahunan.
  • Investor tetap diingatkan mewaspadai aksi ambil untung pada pekan perdagangan pendek, sementara indeks berpotensi menguji resistensi 6.630 dan menutup gap 6.705.
  • Ketegangan geopolitik, harga emas, arah suku bunga global, Jackson Hole, serta data ekonomi AS menjadi perhatian; analis menyoroti saham BUVA, FUTR, SSIA, BBRI, CUAN, PTRO, BRPT, BRIS, dan BBTN.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih dapat mempertahankan momentum penguatan pada Senin (24/8).

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan, secara teknikal, pergerakan IHSG berhasil kembali membentuk formasi high terbaru berikutnya apalagi target sebenarnya dari “wave (v) / C” sudah tercapai. Berdasarkan indikator, MA20&60 telah menunjukkan positive crossover, sementara Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif. Meski demikian, volume mulai mengalami penurunan.

Menurutnya, IHSG hari ini bisa menjaga momentum bullish. "Meskipun para pelaku investor tetap perlu mengantisipasi potensi aksi profit taking mengingat perdagangan berada dalam pekan pendek ini," kata Nafan dalam riset hariannya.

Pergerakan indeks mendapat dorongan positif dari penguatan nilai tukar rupiah serta rilis data likuiditas perekonomian (M2) bulan Juli yang tumbuh solid. Adapun penguatan nilai tukar rupiah ke kisaran Rp17.694 per dolar AS didorong oleh keputusan BI dalam mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen maupun rencana peningkatan buyback obligasi pemerintah AS tenor panjang sehingga mendorong depresiasi dolar AS. Sementara itu, data M2 bulan Juli tumbuh positif sebesar 8,3 persen (YoY) sehingga mencapai sebesar Rp10.371,1 triliun.

Hal tersebut terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada pemerintah pusat. Penyaluran kredit tumbuh sebesar 13,0 persen (YoY), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan sebesar 12,1 persen (YoY) pada Juni 2026. Sementara itu, tagihan bersih kepada pemerintah pusat tumbuh sebesar 4,6 persen (YoY), melanjutkan pertumbuhan sebesar 10,1 persen (YoY) pada Juni 2026.

Di samping itu, penguatan harga emas dunia sebesar 1,97 persen (YoY) di level 4.661,60 per ons troi turut memberikan sentimen positif bagi emiten sektor pertambangan. Selain karena faktor rencana peningkatan buyback obligasi pemerintah AS tenor panjang, adapun ketegangan di Timur Tengah yang semakin memanas seiring dengan rencana AS untuk menjatuhkan sanksi ekonomi baru terhadap Iran pada Senin.

Selain itu, potensi penutupan jalur perdagangan di Selat Hormuz oleh Iran serta keterlibatan Turki pasca serangan Israel ke wilayah Suriah semakin memperkeruh situasi pasar. Di kawasan Eropa Timur, konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina yang belum mereda juga terus menambah ketidakpastian global.

"Kondisi tersebut dapat menjaga minat investor terhadap saham-saham yang memiliki eksposur besar terhadap emas," katanya.

Saham-saham pilihannya adalah BUVA, FUTR, dan SSIA.

Phintraco Sekuritas menambahkan, pergerakan dan prospek suku bunga global dan imbal hasil obligasi pemerintah tenor jangka panjang akan menjadi fokus perhatian investor di tengah tingginya harga energi, pelebaran defisit anggaran, serta peningkatan penerbitan surat utang korporasi.

Investor akan mencermati Simposium Jackson Hole, terutama mengenai prospek kebijakan moneter the Fed serta pandangan dan sikapnya mengenai kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS akhir-akhir ini.

"Data ekonomi yang akan dinantikan investor adalah indeks PCE prices, durable orders, serta revisi tahunan data nonfarm payrolls. Selain itu investor akan mencermati laporan keuangan Nvidia yang menjadi tolok ukur kinerja perusahaan sektor AI di tengah belanja infrastruktur yang dianggap berlebihan," jelas tim riset Phintraco Sekuritas.

IHSG ditutup menguat 0,37 persen ke level 6.525,69 pada perdagangan Jumat (21/8). Secara teknikal, IHSG ditutup di atas MA100 serta berpotensi menguji level resisten di 6.630 dan menutup gap di 6.705, didukung oleh penguatan rupiah dan optimisme akan prospek ekonomi.

"Namun perlu diwaspadai sentimen negatif jangka pendek terhadap saham-saham yang dikeluarkan dari rebalancing indeks FTSE Global Equity Indeks," catat tim Phintraco.

Saham-saham yang disoroti oleh Phintraco Sekuritas pada pekan ini adalah BBRI, CUAN, PTRO, BRPT, BRIS, dan BBTN.

    Share Article
    Editorial Team

    Latest in Market

    See More