Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Indonesia Punya Pasar Besar, Mampukah Jadi Hub Kripto Regional?
ilustrasi kripto (unsplash.com/Traxer)
  • Aktivitas perdagangan kripto yang besar memberi Indonesia peluang menjadi liquidity hub Asia Tenggara, menghubungkan proyek blockchain, bursa, investor, dan pelaku industri aset digital.
  • Penguatan posisi tersebut membutuhkan lebih banyak builders berstandar global, likuiditas lintas ekosistem, serta dukungan venture capital bagi proyek, exchange, infrastruktur, dan pasar.
  • Pelaku industri menekankan keseimbangan inovasi, regulasi, dan perlindungan konsumen; kepastian arah hukum jangka panjang penting untuk menarik institusi serta perusahaan global.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Besarnya aktivitas perdagangan aset kripto di Indonesia membuka peluang bagi negara ini untuk mengambil peran lebih besar dalam ekosistem aset digital Asia Tenggara. Tak hanya menjadi pasar bagi pengguna, Indonesia dinilai berpotensi berkembang sebagai liquidity hub yang menghubungkan proyek blockchain, bursa, investor, dan pelaku industri lainnya.

Namun, peluang tersebut tidak cukup hanya ditopang oleh besarnya pasar. Penguatan jumlah builders, kedalaman likuiditas, serta kepastian regulasi menjadi sejumlah prasyarat yang perlu dipenuhi agar Indonesia mampu menarik lebih banyak proyek dan modal global.

Vice President of Business Development INDODAX, James Eugene, mengatakan Indonesia telah menjadi salah satu pasar yang menarik perhatian proyek blockchain dari luar negeri. Tingginya aktivitas domestik dinilai dapat menjadi modal awal untuk memperluas peran Indonesia dalam ekosistem aset digital regional.

“Mereka (proyek global) melihat Indonesia sebagai pasar yang memiliki potensi besar dan likuiditas yang kuat. Namun, likuiditas sendiri jauh lebih kompleks karena melibatkan banyak aktor, sehingga diperlukan sinergi untuk mengembangkan produk dan ekosistem bersama” ujar James dalam panel diskusi pada Indonesia Blockchain Week (IDBW) 2026, mengutip keterangan tertulis, Senin (17/8).

Regulasi dan inovasi harus berjalan seimbang

Meski peluang pasarnya besar, James menilai Indonesia tetap perlu menjaga keseimbangan antara membuka ruang inovasi dan memastikan kepatuhan terhadap aturan. Bagi bursa kripto, kata dia, keputusan untuk menghadirkan produk baru harus mempertimbangkan kebutuhan pasar sekaligus risiko bagi konsumen.

“Yang perlu dilakukan adalah menemukan sweet spot antara regulasi dan inovasi. Kita mencoba mendorong likuiditas, terutama di Indonesia, tetapi tentu saja kita juga harus memperhatikan regulasi. Perlindungan konsumen benar-benar menjadi salah satu hal terbesar yang harus diperhatikan,” ujarnya.

Menurut James, penguatan posisi Indonesia sebagai crypto hub di Asia Tenggara setidaknya membutuhkan dua elemen utama. Pertama, peningkatan jumlah builders yang mampu mengembangkan produk maupun infrastruktur berstandar global.

Kedua, tersedianya likuiditas yang cukup untuk menggerakkan berbagai lapisan ekosistem, mulai dari proyek blockchain dan exchange hingga investor serta penyedia infrastruktur.

“Kita membutuhkan lebih banyak builders. Yang kedua selalu mengenai likuiditas. Likuiditas dibutuhkan oleh proyek, exchange, dan seluruh rails dalam ekosistem blockchain. Venture capital juga memiliki peran penting untuk mendukung pertumbuhan pasar secara keseluruhan,” ujarnya.

Selain kapasitas industri dan likuiditas, kepastian hukum menjadi faktor yang tidak kalah penting. James menilai kejelasan mengenai arah regulasi aset digital dapat memengaruhi keputusan institusi maupun perusahaan global ketika mempertimbangkan Indonesia sebagai basis bisnis.

Indonesia memang telah memiliki kerangka regulasi untuk aset digital. Namun, menurut James, pelaku industri membutuhkan kepastian mengenai bagaimana aturan tersebut akan berkembang dan diterapkan dalam jangka panjang.

“Yang penting adalah kepastian mengenai bagaimana regulasi dan infrastruktur hukum akan berjalan ke depan. Bagi institusi atau perusahaan asing, hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan ketika menentukan apakah mereka ingin membangun bisnis di Indonesia,” ujarnya.

Kepastian tersebut menjadi semakin relevan ketika Indonesia ingin bergeser dari sekadar pasar pengguna menjadi bagian dari rantai nilai industri aset digital. Kehadiran proyek global, investor, venture capital, serta pengembang lokal membutuhkan lingkungan usaha yang memungkinkan inovasi tumbuh tanpa mengabaikan aspek perlindungan konsumen.

Pada akhirnya, pengembangan liquidity hub tidak hanya bergantung pada seberapa besar nilai transaksi yang terjadi di dalam negeri. Indonesia juga perlu memastikan bahwa produk, infrastruktur, talenta, dan modal yang terbentuk di dalam ekosistemnya memiliki kapasitas untuk terhubung dengan pasar global.

Curated For You

Topics

Editorial Team

Related Article