Meski peluang pasarnya besar, James menilai Indonesia tetap perlu menjaga keseimbangan antara membuka ruang inovasi dan memastikan kepatuhan terhadap aturan. Bagi bursa kripto, kata dia, keputusan untuk menghadirkan produk baru harus mempertimbangkan kebutuhan pasar sekaligus risiko bagi konsumen.
“Yang perlu dilakukan adalah menemukan sweet spot antara regulasi dan inovasi. Kita mencoba mendorong likuiditas, terutama di Indonesia, tetapi tentu saja kita juga harus memperhatikan regulasi. Perlindungan konsumen benar-benar menjadi salah satu hal terbesar yang harus diperhatikan,” ujarnya.
Menurut James, penguatan posisi Indonesia sebagai crypto hub di Asia Tenggara setidaknya membutuhkan dua elemen utama. Pertama, peningkatan jumlah builders yang mampu mengembangkan produk maupun infrastruktur berstandar global.
Kedua, tersedianya likuiditas yang cukup untuk menggerakkan berbagai lapisan ekosistem, mulai dari proyek blockchain dan exchange hingga investor serta penyedia infrastruktur.
“Kita membutuhkan lebih banyak builders. Yang kedua selalu mengenai likuiditas. Likuiditas dibutuhkan oleh proyek, exchange, dan seluruh rails dalam ekosistem blockchain. Venture capital juga memiliki peran penting untuk mendukung pertumbuhan pasar secara keseluruhan,” ujarnya.
Selain kapasitas industri dan likuiditas, kepastian hukum menjadi faktor yang tidak kalah penting. James menilai kejelasan mengenai arah regulasi aset digital dapat memengaruhi keputusan institusi maupun perusahaan global ketika mempertimbangkan Indonesia sebagai basis bisnis.
Indonesia memang telah memiliki kerangka regulasi untuk aset digital. Namun, menurut James, pelaku industri membutuhkan kepastian mengenai bagaimana aturan tersebut akan berkembang dan diterapkan dalam jangka panjang.
“Yang penting adalah kepastian mengenai bagaimana regulasi dan infrastruktur hukum akan berjalan ke depan. Bagi institusi atau perusahaan asing, hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan ketika menentukan apakah mereka ingin membangun bisnis di Indonesia,” ujarnya.
Kepastian tersebut menjadi semakin relevan ketika Indonesia ingin bergeser dari sekadar pasar pengguna menjadi bagian dari rantai nilai industri aset digital. Kehadiran proyek global, investor, venture capital, serta pengembang lokal membutuhkan lingkungan usaha yang memungkinkan inovasi tumbuh tanpa mengabaikan aspek perlindungan konsumen.
Pada akhirnya, pengembangan liquidity hub tidak hanya bergantung pada seberapa besar nilai transaksi yang terjadi di dalam negeri. Indonesia juga perlu memastikan bahwa produk, infrastruktur, talenta, dan modal yang terbentuk di dalam ekosistemnya memiliki kapasitas untuk terhubung dengan pasar global.