EY: Nilai Investasi Private Equity ASEAN Merosot 43%

Jakarta, FORTUNE - Laporan terbaru EY menyebut, nilai transaksi investasi ekuitas swasta atau private equity (PE) di Asia Tenggara terkoreksi 43 persen (YoY) menjadi US$9,1 miliar pada 2025; dari US$16 miliar pada tahun sebelumnya.
Tak hanya dari segi nilai, volume transaksi investasi PE di Asia Tenggara pada 2025 juga menurun 12 persen (YoY) dari 67 transaksi menjadi 59 transaksi. Itu karena transaksi megadeals (di atas US$1 miliar) yang berkurang dari 8 transaksi pada 2024 menjadi hanya 4 transaksi pada 2025. Selain itu, nilai transaksi rata-rata juga berkurang dari US$356 juta menjadi US$267 juta.
"Meskipun 2025 dibuka dengan aktivitas kuat pada kuartal pertama, volatilitas geopolitik dan kekhawatiran mengenai potensi tarif AS membuat sentimen investor lebih berhati-hati pada kuartal kedua," kata EY-Parthenon Asean Private Equity Leader, Luke Pais dalam keterangan resminya, Kamis (19/2).
Namun, transaksi investasi PE kembali naik pada kuartal-III 2025, seiring dengan stabilnya valuasi dan pulihnya kondisi pembiayaan. Dengan kontribusi lebih dari 74 persen dari total nilai PE Asia Tenggara, Singapura masih menjadi magnet bagi investasi PE di regional.
Secara sektoral, investasi PE di Asia Tenggara mayoritas masuk ke infrastruktur (42 persen), khususnya infrastruktur digital; diikuti oleh sektor telekomunikasi (12 persen); real estate (10 persen); dan energi (10 persen). Informasi itu dimuat dalam laporan EY Southeast Asia Private Equity Pulse 2025: Year-in-review.
"Infrastruktur digital dan energi terbarukan kemungkinan akan tetap menjadi penerima investasi utama, dengan kemungkinan meningkatnya transaksi di sektor lain," kata Pais.
Di Indonesia misalnya, jika ditilik lebih jauh, investasi PE selama 2025 justru bergeser ke sektor di luar infrastruktur dan real estate, yakni: konsumen, layanan kesehatan, dan jasa keuangan.
EY-Parthenon Indonesia Strategy and Transactions Partner, Oki Stefanus, menjelaskan, sektor konsumen Indonesia dinilai menarik minat karena kuatnya konsumsi domestik dan besarnya populasi kelas menengah. Sementara itu, di sektor kesehatan, investor merespons rendahnya pentrasi, meningkatnya cakupan asuransi, serta permintaan layanan yang lebih berkualitas.
"Di sektor jasa keuangan, rendahnya penetrasi perbankan dan kredit, ditambah dengan adopsi digital yang cepat terus menciptakan peluang pertumbuhan yang sangat besar," ujar Oki.
















