Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Penyebab SSIA Berbalik Untung Rp262,6 Miliar pada Semester I-2026

Penyebab SSIA Berbalik Untung Rp262,6 Miliar pada Semester I-2026
Kawasan industri Suryacipta Sedaya milik PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA). (Dok. Suryacipta)
Intinya Sih
  • SSIA membukukan laba bersih Rp262,6 miliar pada semester I-2026, berbalik dari rugi Rp32,3 miliar, dengan pendapatan naik 58,4 persen menjadi Rp3,35 triliun.
  • Segmen properti menjadi penggerak utama melalui pengakuan penjualan lahan industri 64,7 hektare senilai Rp1,08 triliun, meski pra-penjualan SCS melambat akibat penundaan investasi asing.
  • Konstruksi mencatat laba bersih naik 21,5 persen menjadi Rp93 miliar, sementara pendapatan hotel tumbuh dan kerugiannya menyempit; GMV Travelio juga naik 10 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE – PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) membalikkan kinerja keuangan pada semester I-2026 dengan mencetak laba bersih Rp262,6 miliar dari rugi bersih Rp32,3 miliar pada periode sama tahun lalu.

Peningkatan kinerja konsolidasi ini ditopang oleh lonjakan signifikan pada segmen bisnis properti, khususnya sektor kawasan industri.

Secara konsolidasi, SSIA membukukan pendapatan Rp3,35 triliun pada semester I-2026, melesat 58,4 persen dibandingkan dengan capaian semester I-2025 yang sebesar Rp2,12 triliun.

VP of Investor Relations & Corporate Communications SSIA, Erlin Budiman, menyatakan lonjakan omzet ini dipicu oleh realisasi pencatatan akuntansi.

"Pertumbuhan ini terutama didorong oleh pengakuan penjualan secara akuntansi (accounting sales recognition) yang kuat pada bisnis kawasan industri," ujar Erlin dalam keterangannya, Rabu (5/8).

Segmen properti tampil sebagai motor penggerak utama perseroan. Pendapatan segmen ini meroket 274,1 persen secara tahunan menjadi Rp1,27 triliun dari posisi sebelumnya Rp338,7 miliar.

Sumbangan terbesar berasal dari pengakuan penjualan lahan industri seluas 64,7 hektare senilai Rp1,08 triliun. Penjualan tersebut berasal dari dua proyek andalan, yakni Subang Smartpolitan dan Suryacipta City of Industry Karawang.

Atas lonjakan tersebut, laba bersih segmen properti meroket lebih dari sepuluh kali lipat menjadi Rp459,3 miliar, dibandingkan Rp44,9 miliar pada semester I-2025.

Kendati demikian, kinerja pra-penjualan (marketing sales) kawasan industri justru mengalami perlambatan. Hingga akhir semester I-2026, anak usaha perseroan, PT Suryacipta Swadaya (SCS), hanya mencatatkan penjualan lahan seluas 9,4 hektare dengan nilai Rp195,9 miliar.

Erlin menjelaskan dinamika global turut menahan laju ekspansi investor asing. Eskalasi konflik di Timur Tengah membuat sejumlah perusahaan dunia menunda keputusan investasi langsung (FDI).

"Hingga semester I 2026, backlog penjualan lahan SCS tercatat sebesar Rp84,3 miliar yang mewakili penjualan lahan seluas 4,1 hektare," katanya.

Pada sektor konstruksi, PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) tetap memberikan kontribusi positif. Pendapatan NRCA tercatat stabil pada level Rp1,70 triliun, sementara laba bersihnya tumbuh 21,5 persen menjadi Rp93 miliar.

Sepanjang semester I-2026, NRCA menggenggam kontrak baru senilai Rp1,37 triliun. Angka ini sedikit menurun 3,8 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp1,43 triliun.

Sejumlah proyek baru yang dikantongi NRCA mencakup Pabrik Pou Chen Pekalongan, Lampung City Mall Tahap 2, New Malio Hotel Hayam Wuruk Jakarta, Rumah Sakit Saint Carolus Gading Serpong, Little Sun School Surabaya, Grha Baramulti Jakarta, Blue Coral Resort Gili Trawangan di Lombok Utara, serta Oakwood Jimbaran Villas & Residence Bali.

Sementara itu, lini bisnis perhotelan menunjukkan sinyal pemulihan meski masih mencatatkan kerugian. Pendapatan segmen ini tumbuh 113,3 persen menjadi Rp471,1 miliar, didorong oleh penerapan konsep all-inclusive di Paradisus by Meliá Bali dan kenaikan rata-rata tarif kamar (average room rate/ARR).

Rugi bersih segmen perhotelan pun ditekan menjadi Rp83,8 miliar dari posisi rugi Rp105,1 miliar pada semester I-2025.

Pada unit Gran Meliá Jakarta, tingkat keterisian kamar (okupansi) turun menjadi 37,8 persen dari sebelumnya 40,2 persen akibat tingginya harga tiket pesawat dan penyesuaian agenda MICE pada kuartal II-2026. Namun, ARR unit ini naik menjadi Rp1,46 juta per malam dari Rp1,33 juta.

Di Bali, Umana Bali LXR Hotels & Resorts menyaksikan okupansi 46,8 persen dengan ARR Rp9,97 juta. Adapun Paradisus by Meliá Bali membukukan okupansi 44,3 persen pada masa soft opening dengan ARR Rp3,34 juta, meningkat dari posisi Rp2,47 juta pada 2024.

Perseroan memproyeksikan paket all-inclusive dapat menyumbang 50 persen dari total tamu pada akhir tahun.

Jaringan BATIQA Hotels (7 hotel) mencatatkan okupansi 71 persen dengan ARR Rp456.386, naik dari posisi Rp384.498 tahun lalu. Kenaikan ini ditopang oleh pertumbuhan tamu jangka panjang dan pergeseran minat liburan wisatawan domestik ke destinasi dalam negeri.

Dari lini bisnis digital, platform persewaan properti Travelio melanjutkan tren pertumbuhan gross merchandise value (GMV) sebesar 10 persen secara tahunan. Travelio membidik pertumbuhan GMV hingga 11 persen pada akhir tahun.

Saat ini, Travelio mengelola secara eksklusif 16.241 unit apartemen dan menargetkan peningkatan hingga lebih dari 16.800 unit pada akhir 2026. Perusahaan ini disokong oleh investor global seperti Pavilion Capital (Temasek Holdings), Mirae Asset, Samsung Ventures, dan Gobi Partners.

Share Article
Editorial Team

Latest in Market

See More