- Investor pemula yang baru mulai berinvestasi.
- Investor yang tidak memiliki banyak waktu untuk menganalisis pasar.
- Investor yang menginginkan pengelolaan dana oleh manajer investasi profesional.
- Investor dengan profil risiko konservatif hingga moderat, tergantung jenis reksa dana yang dipilih.
6 Perbedaan Reksa Dana dan Saham, Cocok yang Mana?

Reksa dana dikelola oleh manajer investasi dengan modal awal terjangkau, sedangkan saham dikelola mandiri oleh investor.
Likuiditas reksa dana memerlukan waktu pencairan 3–7 hari kerja, sementara saham bisa dijual selama jam bursa.
Risiko reksa dana lebih rendah karena portofolio terdiversifikasi, sedangkan saham berisiko tinggi namun potensi keuntungan lebih besar.
Perbedaan reksa dana dan saham penting dipahami sebelum seseorang mulai berinvestasi. Meski sama-sama menjadi instrumen investasi populer, keduanya menawarkan cara kerja, tingkat risiko, dan potensi keuntungan yang berbeda.
Jika ingin investasi yang lebih praktis, reksa dana sering menjadi pilihan karena dana dikelola oleh manajer investasi. Sementara itu, saham cocok untuk investor yang ingin memiliki kendali penuh atas keputusan investasinya.
Lalu, apa saja perbedaan reksa dana dan saham yang perlu diketahui? Simak penjelasannya berikut ini.
Table of Content
Perbedaan reksa dana dan saham
1. Pengertian
Reksa dana merupakan wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal yang kemudian dikelola oleh manajer investasi. Dana tersebut akan ditempatkan ke berbagai instrumen investasi secara profesional sesuai dengan jenis reksa dana yang dipilih.
Sementara itu, saham adalah bukti kepemilikan atas suatu perusahaan publik. Dengan membeli saham, investor memiliki sebagian perusahaan dan berpeluang memperoleh keuntungan dari dividen maupun capital gain.
2. Cara pengelolaan
Perbedaan reksa dana dan saham dapat dikenali dari cara pengelolaannya. Reksa dana dikelola oleh manajer investasi profesional yang bertugas memilih dan mengelola portofolio investor. Dalam hal ini, investor mengumpulkan dan menyerahkan modal kepada manajer investasi.
Berbeda dengan reksa dana, saham dikelola langsung oleh investor secara mandiri. Investor harus memilih, menganalisis, dan memperdagangkan saham di pasar modal.
3. Modal awal
Modal awal reksa dana dapat dikatakan lebih terjangkau daripada saham. Beberapa platform investasi reksa dana memungkinkan investor berinvestasi dengan modal minim, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp100 ribu.
Sementara itu, saham biasanya membutuhkan modal lebih besar karena dilakukan dalam satuan lot. Jumlah 1 lot setara dengan 100 lembar saham. Harga per lembar saham bervariasi sesuai dengan pergerakan harga emitennya di pasar modal.
4. Likuiditas
Baik reksa dana maupun saham memiliki tingkat likuiditas cukup tinggi atau dapat dicairkan kapan saja. Namun, perbedaannya terletak pada pencairan dana.
Reksa dana memiliki waktu pencairan sekitar 3–7 hari kerja setelah penjualan aset tergantung pada jenis reksa dana yang dipilih. Sedangkan, saham dapat dijual kapan saja selama jam perdagangan bursa dan dana akan masuk ke rekening dalam waktu sekitar 2 hari kerja.
5. Potensi keuntungan
Keuntungan reksa dana berasal dari kenaikan Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit penyertaan, yang mencerminkan kinerja seluruh aset dalam portofolio. Karena dana dikelola secara terdiversifikasi ke berbagai instrumen investasi, pergerakan nilai umumnya lebih stabil dibandingkan saham.
Di sisi lain, saham mendapatkan keuntungan dari dua sumber utama, yaitu capital gain dan dividen. Capital gain diperoleh ketika harga jual saham lebih tinggi daripada harga belinya, sedangkan dividen merupakan pembagian laba perusahaan kepada pemegang saham.
Potensi keuntungan saham bisa lebih besar daripada reksa dana, tetapi fluktuasi harganya juga cenderung lebih tinggi sehingga risikonya lebih besar.
6. Risiko
Berbicara tentang risiko investasi, kedua jenis instrumen investasi ini memiliki tingkatan yang berbeda. Reksa dana memiliki risiko lebih rendah dibandingkan investasi saham.
Risiko reksa dana relatif lebih stabil karena portofolio terdiversifikasi atau disebar ke berbagai instrumen oleh manajer investasi. Saat nilai satu aset turun, kerugiannya dapat ditutup oleh aset lain yang naik.
Dibandingkan reksa dana, saham memiliki tingkat risiko lebih tinggi dan fluktuatif apabila hanya terkonsentrasi pada kinerja satu perusahaan saja. Nilai investasi bisa turun signifikan saat kinerja perusahaan buruk atau bangkrut.
Mana yang lebih cocok?
Tidak ada instrumen investasi yang lebih baik secara mutlak. Pilihan antara reksa dana dan saham bergantung pada tujuan keuangan, toleransi risiko, serta waktu yang bisa Anda luangkan untuk mengelola investasi.
Reksa dana cocok untuk:
Saham cocok untuk:
- Investor yang ingin mengelola investasinya secara mandiri.
- Investor yang siap mempelajari analisis perusahaan dan kondisi pasar.
- Investor dengan profil risiko moderat hingga agresif.
- Investor yang mengejar potensi keuntungan lebih tinggi dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, memahami perbedaan reksa dana dan saham akan membantu Anda menentukan instrumen sesuai kebutuhan. Jika masih pemula, reksa dana bisa jadi pilihan.
Namun, jika sudah memahami cara kerja pasar modal dan siap menghadapi fluktuasi harga, saham dapat menjadi pilihan dengan potensi imbal hasil lebih besar.
FAQ seputar perbedaan reksa dana dan saham
| Lebih untung saham atau reksa dana? | Saham secara historis memiliki potensi keuntungan yang jauh lebih tinggi dibandingkan reksadana, namun risikonya juga lebih besar. |
| Apakah reksa dana dan saham bisa rugi? | Ya, reksa dana dan saham bisa rugi. Kedua instrumen investasi ini memiliki risiko pasar. |
| Mana yang lebih cocok untuk pemula? | Reksa dana disarankan untuk pemula yang baru belajar berinvestasi. |








