Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Profil BUMI: Kepemilikan Saham, Kinerja Keuangan, dan Prospeknya

6 min read
Profil BUMI: Kepemilikan Saham, Kinerja Keuangan, dan Prospeknya
ilustrasi tambang (pexels.com/Vlad Chețan)

  • BUMI mengakuisisi 100 persen Mount Margaret Mining di Australia senilai US$22 juta pada Oktober 2026.

  • Pada semester I/2026, pendapatan BUMI naik 27,9 persen menjadi US$866,8 juta dan laba sebelum pajak melonjak 102,5 persen menjadi US$104,3 juta.

  • BUMI terus melanjutkan transformasi dari produsen batu bara menjadi perusahaan tambang multi-komoditas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE — PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali menjadi perhatian setelah mengakuisisi 100 persen saham perusahaan tambang tembaga asal Australia, Mount Margaret Mining Pty Ltd, pada Jumat (23/10). Nilai akuisisinya sekitar 22 juta dolar AS.

Langkah ekspansi ini berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas perdagangan saham BUMI di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan juga terus memperluas portofolio tambangnya melalui sejumlah akuisisi perusahaan mineral.

Seiring dengan kabar akuisis, profil BUMI pun menarik perhatian. Berikut profil perusahaan, kinerja keuangan, hingga perkembangan sahamnya.

  1. Profil PT Bumi Resources Tbk (BUMI)

    PT Bumi Resources Tbk (BUMI) adalah perusahaan yang berfokus pada sektor pertambangan, terutama batu bara dan minyak bumi. Kegiatan usahanya mencakup penambangan, pengolahan, serta pemasaran hasil tambang, yang berpusat di Kalimantan Timur.

    Didirikan pada 1973 dengan nama PT Bumi Modern, perusahaan ini awalnya bergerak di bidang perhotelan dan pariwisata. Pada 1998, BUMI mulai mengalihkan fokus bisnisnya ke sektor energi dan sumber daya alam, kemudian berganti nama menjadi PT Bumi Resources Tbk pada tahun 2000.

    Perusahaan memiliki beberapa area operasional yang tersebar luas di Indonesia dan luar negeri. Cakupan wilayahnya meliputi Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Sulawesi, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, hingga Australia.

    Melalui anak usahanya, BUMI berperan sebagai perusahaan induk (holding) yang membawahi berbagai entitas di sektor pertambangan. Lini usaha tersebut terbagi menjadi tiga, yaitu produksi dan distribusi batu bara, produksi mineral di dalam negeri, serta mineral dan emas di Australia.

    Pada 2001, PT Bumi Resources Tbk mengakuisisi PT Arutmin Indonesia yang kala itu berpredikat produsen batu bara terbesar keempat di Indonesia. Selang dua tahun, BUMI juga mengakuisisi saham PT Kaltim Prima Coal (KPC) pada tahun 2003. BUMI juga melakukan akuisisi saham PT Pendopo Energi Batubara (PEB) pada 2009.

  2. Komposisi kepemilikan saham BUMI

    Pemegang saham pengendali PT Bumi Resources Tbk (BUMI) adalah Mach Energy (Hongkong) Limited, perusahaan yang terafiliasi dengan konsorsium Grup Bakrie dan Grup Salim. Berdasarkan data per 31 Agustus 2026, Mach Energy menguasai 45,78 persen saham BUMI.

    Sementara itu, Chengdong Investment Corporation (CIC) tidak lagi tercatat sebagai pemegang saham utama sejak 27 Februari 2026. Perubahan struktur kepemilikan tersebut juga diikuti dengan masuknya Cris Developments Limited dalam daftar pemegang saham BUMI.

    Berikut rincian kepemilikan saham BUMI per 31 Agustus 2026:

    • Mach Energy (Hongkong) Limited: 170 miliar saham (45,78 persen)
    • UBS Switzerland AG – Client Assets: 15,41 miliar saham (4,15 persen)
    • Treasure Global Investment Limited: 11,80 miliar saham (3,18 persen)
    • Cris Developments Limited: 10,11 miliar saham (2,72 persen)
    • GLAS Trust (Singapore) Ltd: 7,71 miliar saham (2,08 persen)
    • Pemegang saham lainnya: 156,28 miliar saham (42,09 persen).

  3. Kinerja keuangan BUMI

    BUMI mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan pada semester I/2026. Berdasarkan laporan yang dirilis pada 31 Juli 2026, pendapatan perseroan meningkat 27,9 persen secara tahunan menjadi 866,8 juta dolar AS.

    Laba sebelum pajak BUMI juga melonjak 102,5 persen menjadi 104,3 juta dolar AS sepanjang enam bulan pertama 2026. Sejalan dengan itu, margin usaha perseroan meningkat dari 8,2 persen menjadi 9,6 persen.

    Dari sisi operasional, produksi batu bara BUMI mencapai 38,5 juta ton atau tumbuh 7,1 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Volume penjualan batu bara juga meningkat 11,7 persen menjadi 38,8 juta ton.

    Pertumbuhan pendapatan, laba, dan volume penjualan tersebut menunjukkan penguatan kinerja bisnis utama BUMI. Hasil ini juga dapat mendukung upaya perseroan memperluas portofolio usaha melalui diversifikasi ke sektor pertambangan mineral.

  4. Transaksi negosiasi jumbo TGIL

    Pada 19 Januari 2026, saham BUMI mencatatkan transaksi crossing di pasar negosiasi senilai sekitar Rp6,9 triliun. Transaksi tersebut difasilitasi oleh Ina Sekuritas Indonesia dengan kode broker RB dan melibatkan Treasure Global Investment Limited (TGIL) sebagai pihak penjual.

    Dalam transaksi tersebut, TGIL melepas sekitar 18,19 miliar saham BUMI atau setara 4,9 persen kepemilikan dengan harga rata-rata Rp380 per saham. Akibatnya, porsi kepemilikan TGIL turun dari 8,08 persen menjadi 3,18 persen. Perubahan tersebut dilaporkan sebagai bagian dari restrukturisasi kepemilikan saham perseroan.

    Pengamat pasar modal Michael Yeoh menyoroti transaksi tersebut karena adanya dugaan keterkaitan broker dengan Grup Salim.

    “Transaksi tersebut menarik. Ada indikasi broker RB itu terafiliasi dengan Grup Salim,” ujar Michael.

    Sebagai konteks, Grup Salim masuk sebagai pemegang saham strategis BUMI pada periode 2022–2023. Saat ini, pengendalian BUMI berada di bawah konsorsium Grup Bakrie dan Grup Salim melalui Mach Energy (Hongkong) Limited.

  5. Divestasi Chengdong dan dampaknya

    Mengawali 2026, harga saham BUMI sempat tertekan akibat aksi divestasi Chengdong Investment Corporation, investor asal China. Chengdong menjual sekitar 3,71 miliar saham BUMI secara bertahap sejak 23 Desember 2025 hingga 8 Januari 2026 melalui 17 transaksi, dengan harga berkisar Rp363 hingga Rp461 per saham.

    Aksi ini menurunkan porsi kepemilikan Chengdong dari 5,99 persen menjadi 4,99 persen, sehingga tidak lagi tercatat sebagai pemegang saham utama. Divestasi tersebut menjadi salah satu faktor yang menekan pergerakan saham sebelum munculnya transaksi negosiasi jumbo.

  6. Transformasi bisnis BUMI dan ekspansi non-batu bara

    BUMI terus memperluas bisnis pertambangan di luar batu bara melalui akuisisi. Salah satunya adalah pengambilalihan 100 persen saham Wolfram Limited (WFL), perusahaan tambang emas dan tembaga di Australia Barat, dengan nilai investasi hampir Rp700 miliar.

    Selain itu, BUMI telah menguasai lebih dari 41 persen saham Jubilee Metals Limited (JML), perusahaan tambang emas yang telah berproduksi. Kepemilikan tersebut diperoleh secara bertahap melalui konversi kewajiban dan transaksi di pasar.

    Perseroan juga mengembangkan bisnis bauksit dan alumina melalui Laman Mining sebagai bagian dari strategi diversifikasi usaha di luar sektor batu bara.

  7. BUMI akuisisi Mount Margaret Mining

    Langkah ekspansi bisnis di luar batu bata BUMI berlanjut dengan mengakuisisi 100 persen saham Mount Margaret Mining pada Oktober 2026. Perseroan membeli dua lembar saham yang mewakili seluruh saham Mount Margaret lewat anak usahanya, Bumi Resources Australia Pty Ltd (BRA).

    Adapun Mount Margaret Mining merupakan perusahaan tambang yang berbasis di Australia dengan luas wilayah operasional sebesar 3.412 hektare. Perusahaan ini memiliki sumber daya mineral mencapai 13 juta ton bijih dengan kadar tembaga rata-rata 0,78 persen dan emas 0,24 persen.

    Sebelumnya, BUMI telah memperluas ekspansi bisnis mineral dan emas dengan menyelesaikan akuisisi Loyal Metals Ltd pada 4 September 2026. Transaksi tersebut bernilai 79,06 juta dolar Australia.

  8. Pergerakan harga dan aktivitas perdagangan terkini

    Saham BUMI terpantau menguat pada awal perdagangan pekan ini. Per 26 Oktober 2026, saham BUMI dibuka menguat 1,43 persen dan berada di level Rp142 per saham usai mengakuisisi Mount Margaret Mining.

    Dari sisi valuasi saham, Samuel Sekuritas menetapkan target harga BUMI di level Rp300 per saham dalam laporan 12 Oktober 2026. Sementara itu, MNC Sekuritas menargetkan harga di kisaran Rp300 per saham berdasarkan riset 13 September 2026.

    Pergerakan saham BUMI masih berada di zona bearish secara teknikal. Harga saham BUMI saat ini masih berada di level support kunci Rp140 per saham. Namun, investor perlu mengamati area resistance Rp146 sampai Rp148.

    Saham BUMI berpotensi mendapatkan konfirmasi penguatan lebih lanjut apabila menembus area tersebut. Sebaliknya, saham BUMI bisa menguji support berikutnya di sekitar Rp133 apabila melemah dan menembus support Rp140.

  9. Posisi saham BUMI dan konteks pasar

    Sepanjang 2026, saham BUMI diwarnai oleh fluktuasi harga yang cukup signifikan. Pertumbuhan masih ditopang oleh upaya transformasi bisnis, sementara itu tekanan jangka pendek dipengaruhi tekanan faktor eksternal.

    Volume perdagangan harian yang besar meningkatkan volatilitas, membuat saham BUMI sensitif terhadap perubahan sentimen jangka pendek, termasuk aksi korporasi dan transaksi bernilai besar.

    Transformasi bisnis yang sedang berjalan menempatkan BUMI sebagai emiten batu bara yang berupaya memperluas basis pendapatannya ke mineral strategis, di tengah dinamika pasar komoditas global.

    Demikian ringkasan profil BUMI yang tengah menjadi sorotan publik karena transformasi bisnis hingga akuisisi perusahaan.

    FAQ seputar profil BUMI

    Saham BUMI punya siapa?

    BUMI dikendalikan bersama oleh Grup Bakrie dan Grup Salim melalui entitas Mach Energy (Hongkong) Limited.

    Saham BUMI bergerak di bidang apa?

    PT Bumi Resources Tbk bergerak di bidang pertambangan batu bara.

    Apa fokus utama bisnis PT Bumi Resources Tbk saat ini?

    BUMI berfokus pada batu bara sekaligus memperluas portofolio ke emas, tembaga, bauksit, dan alumina.

    Berapa harga Saham BUMI hari ini?

    Harga saham BUMI hari ini pada 26 Oktober 2026 dibuka menguat 1,43 persen dan berada di level Rp142 per saham

Share Article

Related Articles

See More