Jakarta, FORTUNE - Allianz Global Investors menilai prospek ekonomi Indonesia dalam jangka panjang masih positif di tengah tekanan global yang diperkirakan berlanjut hingga 2027.
Chief Economist Allianz Global Investors, Christian Schulz, mengatakan kenaikan harga energi membuat Indonesia harus menghadapi peningkatan biaya impor sekaligus beban subsidi. Di sisi lain, suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS) turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah sehingga biaya impor semakin mahal.
"Bagi Indonesia, kedua persoalan tersebut saling berkaitan. Harga energi yang tinggi membuat Indonesia harus mengimpor dengan harga mahal. Pemerintah juga harus memberikan subsidi sehingga menimbulkan tantangan fiscal", kata Christian kepada media, Senin (2/11).
Dalam beberapa waktu ke depan, harga energi juga diperkirakan bakal bertahan di level tinggi. Sementara itu, suku bunga global juga belum menunjukkan indikasi penurunan dalam waktu dekat.
Meski demikian, Christian menilai tekanan jangka pendek tersebut tidak mengubah prospek positif Indonesia dalam jangka panjang. Ia melihat Indonesia masih memiliki potensi pertumbuhan struktural yang kuat dibandingkan negara-negara maju, apalagi ditopang pertumbuhan ekonomi yang mencapai lima persen.
"Pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen membuat saya sangat iri. Di Eropa, kami sudah lama tidak melihat pertumbuhan seperti ini. Jika kami bisa mencapainya, banyak persoalan yang saat ini kami hadapi di Eropa dapat diselesaikan," lanjut Christian.
Optimisme tersebut didukung oleh meningkatnya investasi di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Sejumlah negara Asia, seperti Korea Selatan dan Taiwan, menjadi penerima manfaat utama dari lonjakan investasi tersebut.
Manfaat investasi AI berpotensi meluas ke negara-negara Asia lainnya, terutama ketika pemanfaatan teknologi tersebut mulai mendorong peningkatan produktivitas ekonomi. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi dengan tingkat tersebut sudah lama tidak terlihat di kawasan Eropa.
Adapun, situasi saat ini bisa dijadikan momentum untuk melakukan pembenahan struktural agar dapat naik kelas dari negara berpendapatan menengah atas menuju tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Dia berharap pemerintah fokus menjaga kebijakan berada pada jalur pertumbuhan positif di tengah kondisi global yang sulit.