Jakarta, FORTUNE - PT Timah Tbk (TINS) mengakhiri 2025 dengan perolehan laba dan pendapatan yang solid, di tengah kenaikan harga jual rata-rata logam timah.
Direktur Utama PT Timah Tbk, Restu Widiyantoro mengatakan perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp11,55 triliun, meningkat 6,41 persen. Beban pokok pendapatan naik 8,41 persen dari Rp8,11 triliun menjadi Rp8,79 triliun. Sementara EBITDA mencapai Rp2,76 triliun.
"Pada 2025 PT Timah membukukan laba bersih sebesar Rp1,31 triliun atau mencapai 119 persen dari target yang telah ditetapkan dalam RKAP 2025. Kami fokus ke penguatan tata kelola pertimahan, optimalisasi kinerja operasi, pemasaran, dan keuangan," katanya dalam keterangan resmi, Kamis (23/4).
Sejalan dengan itu, TINS membukukan kenaikan asset sebesar 6,75 persen menjadi Rp13,64 triliun, akibat peningkatan piutang usaha yang belum jatuh tempo. Sedangkan posisi liabilitas sebesar Rp5,23 triliun, relatif sama dibandingkan 2024 yang sebesar Rp5,19 triliun.
Restu menjelaskan bahwa perseroan berupaya melakukan efisiendi dan optimalisasi biaya dalam bentuk fixed cost melalui pengeluaran investasi yang selektif, dan menjaga arus kas.
Perseroan juga melakukan penurunan interest bearing debt sebagai bagian dari strategi pengelolaan liabilitas. Langkah ini ditempuh untuk menekan beban bunga, salah satunya melalui aksi buyback atas Medium Term Notes (MTN).
Dari sisi operasional, pada tahun lalu TINS mencatat produksi bijih timah 18.635 ton, turun empat persen secara tahunan. Restu menjelaskan penurunan disebabkan maraknya aktivitas penambangan ilegal, terutama di wilayah pesisir melalui Ponton Isap Produksi (PIP), serta penolakan masyarakat terhadap pembukaan lokasi tambang baru.
Seiring dengan itu, produksi logam timah juga terkontraksi enam persen menjadi 17.815 metrik ton. Hal ini mendorong penurunan pada penjualan, yang mana volume logam timah yang terjual menyusut lima persen menjadi 16.634 metrik ton.
Di sisi lain, harga jual rata-rata logam timah sebesar USD35.240 per metrik ton, naik 13 persen secara tahunan. Di topang tingginya harga jual ini, TINS mampu membukukan penjualan yang solid. TINS mencatat penjualan logam timah domestik berkontribusi lima persen, sementara ekspor 95 persen.
