Jakarta, FORTUNE — PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengkaji opsi pembelian kembali saham (share buyback) guna merespons dinamika pasar bursa dalam negeri dan global. Manajemen memastikan opsi korporasi tersebut akan mempertimbangkan aspek likuiditas, kebutuhan modal kerja, serta rencana bisnis perusahaan.
Corporate Secretary Division Head PTBA, Eko Prayitno, menyatakan kajian buyback bertujuan menjaga stabilitas nilai perusahaan serta memberikan perlindungan bagi pemegang saham.
“Kami memahami pentingnya merespons dinamika pasar secara bijak. Saat ini, manajemen PTBA tengah melakukan kajian mendalam atas berbagai opsi strategis, termasuk potensi buyback saham, untuk memastikan setiap keputusan yang diambil senantiasa berlandaskan pada prinsip kehati-hatian yang terukur, tata kelola perusahaan yang baik, serta kerangka regulasi yang berlaku,” kata Eko dalam keterangan tertulis yang dikutip Senin (26/10).
Hingga saat ini, manajemen belum memutuskan eksekusi dari opsi tersebut. PTBA menegaskan setiap keputusan korporasi akan menyeimbangkan kepentingan pemegang saham dan pendanaan perusahaan, sehingga tidak mengganggu operasionalisasi maupun investasi masa depan. Perusahaan juga mempertahankan fokus pada efisiensi biaya dan transformasi bisnis.
“Apabila dari hasil kajian mendalam tersebut manajemen memutuskan untuk mengeksekusi rencana buyback saham atau tindakan korporasi strategis lainnya, PTBA akan segera menyampaikan keterbukaan informasi sesuai dengan ketentuan yang diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI),” kata Eko.
Di luar kajian aksi korporasi, PTBA membukukan pendapatan Rp22,03 triliun pada semester I-2026, meningkat 8 persen secara tahunan (yoy). Laba bersih perseroan naik 218 persen menjadi Rp2,65 triliun. Peningkatan kinerja ini ditopang oleh pemulihan operasional pada kuartal II, peningkatan penjualan ekspor, dan pemulihan harga jual rata-rata batu bara.
Sepanjang paruh pertama 2026, produksi batu bara PTBA mencapai 19,45 juta ton. Volume penjualan mencapai 21,10 juta ton, melampaui angka produksi akibat tambahan pasokan dari persediaan.
Dari total volume tersebut, penjualan domestik menyumbang 10,77 juta ton atau 51 persen, sejalan dengan prioritas pemenuhan kebutuhan energi nasional. Penjualan ekspor sendiri mencapai 10,33 juta ton, meningkat 5 persen dari periode sama pada tahun sebelumnya.
