Quantum Computing Berpotensi Ubah Lanskap Keamanan Aset Kripto

- Quantum computing mulai diperhatikan industri blockchain dan kripto karena berpotensi memengaruhi sistem kriptografi, meski teknologinya masih dalam tahap riset dan belum menjadi ancaman langsung.
- INDODAX menilai Ethereum, yang menopang DeFi, NFT, smart contract, dan tokenisasi aset, perlu terus meningkatkan standar keamanan serta kemampuan infrastruktur beradaptasi.
- Kesiapan menghadapi era komputer kuantum memerlukan riset, pengujian, standar keamanan baru, literasi, dan kolaborasi industri, pengembang, serta komunitas secara bertahap.
Jakarta, FORTUNE – Perkembangan quantum computing mulai menjadi perhatian pelaku industri blockchain dan aset kripto karena berpotensi mengubah pendekatan terhadap sistem keamanan digital di masa depan. Meski teknologinya masih berada pada tahap riset, sejumlah pelaku industri menilai pemahaman terhadap dampaknya perlu dimulai sejak dini.
Chief Marketing Officer INDODAX, Aloysia Dian, mengatakan pembahasan mengenai quantum computing perlu diposisikan sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapan industri blockchain dalam menghadapi perubahan teknologi.
"Perkembangan teknologi selalu menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Meskipun quantum computing masih berada pada tahap riset dan pengembangan, potensinya terhadap sistem kriptografi telah menjadi perhatian komunitas global. Karena itu, penting bagi seluruh pelaku industri untuk mulai memahami arah perkembangan ini agar ekosistem dapat beradaptasi secara bertahap melalui diskusi dan edukasi,” katanya, dalam keterangan tertulis, Selasa (4/8).
Menurut Aloysia, Ethereum selama lebih dari satu dekade telah berkembang menjadi fondasi berbagai inovasi di ekosistem Web3, mulai dari decentralized finance (DeFi), non-fungible token (NFT), aplikasi berbasis smart contract, hingga tokenisasi aset. Seiring perkembangan tersebut, peningkatan standar keamanan dan kemampuan infrastruktur untuk beradaptasi dengan teknologi baru dinilai menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan.
Ia menjelaskan, pembahasan mengenai quantum computing bukan berarti teknologi tersebut menjadi ancaman langsung bagi blockchain saat ini. Kekhawatiran yang berkembang di kalangan peneliti lebih mengarah pada kemungkinan komputer kuantum di masa depan memiliki kemampuan memecahkan sistem kriptografi yang saat ini digunakan untuk mengamankan aset digital apabila teknologinya telah mencapai tingkat kematangan tertentu.
“Hingga saat ini, quantum computing masih berada dalam tahap riset dan pengembangan. Ke depan, teknologi ini berpotensi dimanfaatkan untuk mempercepat berbagai proses komputasi yang kompleks dan mendorong lahirnya inovasi di berbagai sektor, termasuk kripto," katanya, menjelaskan, Di saat yang sama, komunitas blockchain global juga terus melakukan riset dan mengembangkan pendekatan baru agar ekosistem tetap aman seiring perkembangan teknologi tersebut.
Menurutnya, kesiapan menghadapi perubahan teknologi memerlukan proses yang panjang sehingga tidak dapat dilakukan secara instan. Untuk itu, kolaborasi antara pelaku industri, pengembang, hingga komunitas menjadi faktor penting untuk memastikan inovasi tetap berjalan seiring dengan penguatan sistem keamanan.
“Membangun ekosistem blockchain yang siap menghadapi era komputer kuantum bukanlah proses yang sederhana. Dibutuhkan waktu untuk riset dan pengujian, pengembangan standar keamanan baru, serta kolaborasi lintas ekosistem agar transisi dapat dilakukan secara bertahap dan tetap menjaga kepercayaan pengguna,” ujarnya.
Aloysia menambahkan, perkembangan industri aset digital tidak hanya ditentukan oleh dinamika harga, tetapi juga oleh kemampuan ekosistem dalam mengantisipasi perubahan teknologi. Oleh karena itu, peningkatan literasi, riset, dan kolaborasi dinilai menjadi fondasi penting untuk mendukung pertumbuhan industri blockchain dan aset kripto yang lebih aman serta berkelanjutan.










