Jakarta, FORTUNE - PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam menyerap 9 ton emas murni berstandar 99,99 persen dari fasilitas Precious Metals Refinery (PMR) PT Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur, sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Aksi tersebut ditempuh guna memperkuat rantai pasok domestik sekaligus menopang volume penjualan emas nasional perseroan yang jauh melampaui kapasitas produksi tambang mandirinya.
Direktur Utama Antam, Untung Budiharto, menyatakan penyerapan emas dari dalam negeri merupakan bagian kunci dari strategi perseroan dalam mengembangkan bisnis logam mulia secara berkelanjutan.
“Sinergi ini menjadi langkah penting dalam memperkuat rantai pasok emas nasional sekaligus memastikan sumber daya mineral Indonesia dapat memberikan nilai tambah yang semakin besar di dalam negeri,” kata Untung dalam keterangannya, Senin (28/9).
Kerja sama antara Antam dan Freeport telah mencakup kesepakatan jual beli emas dengan kapasitas hingga 30 ton per tahun. Kolaborasi tersebut mempertemukan posisi Freeport sebagai salah satu produsen emas terbesar di Indonesia dengan Antam yang memiliki ekosistem bisnis emas terintegrasi hingga saluran pemasaran logam mulia ke masyarakat.
Guna memenuhi tingginya permintaan pasar, Antam tidak hanya mengandalkan pasokan dari Freeport. Perseroan turut menggandeng sejumlah produsen emas nasional lainnya, meliputi PT Amman Mineral Nusa Tenggara, Merdeka Group, PT Citra Palu Minerals, PT Agincourt Resources, PT Sumbawa Jutaraya, PT J Resources Bolaang Mongondow, dan PT Indo Muro Kencana.
Diversifikasi pemasok ini menjadi sangat penting karena terdapat selisih lebar antara hasil produksi tambang mandiri Antam dan total volume penjualannya.
Pada semester I-2026, Antam membukukan produksi emas dari tambangnya sendiri sebesar 433 kilogram. Sementara itu, volume penjualan emas perseroan pada periode yang sama mencapai 18.080 kilogram (18,08 ton) dengan nilai transaksi Rp50,39 triliun.
Capaian nilai penjualan tersebut tumbuh sekitar 1 persen dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya yang sebesar Rp49,68 triliun. Lini bisnis emas pun menjadi penopang utama kinerja keuangan Antam dengan memberikan kontribusi sekitar 80 persen terhadap total penjualan bersih perseroan pada semester I-2026 yang mencapai Rp62,71 triliun.
Besarnya jurang antara produksi tambang dan permintaan pasar menjadikan keandalan pengadaan bahan baku sebagai faktor penentu keberlanjutan bisnis perseroan. Kemitraan dengan produsen lokal menjadi jawaban dalam menjamin ketersediaan stok sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya mineral di dalam negeri.
“Kami ingin memastikan semakin besarnya kebutuhan emas nasional dapat didukung oleh rantai pasok domestik yang kuat sehingga manfaat ekonomi dari sumber daya emas Indonesia dapat semakin optimal dirasakan di dalam negeri,” ujar Untung.
