Comscore Tracker
NEWS

Ratusan Juta Orang Terancam Kelaparan Parah, ICRC Serukan 3 Hal Ini

Konflik Rusia-Ukraina perburuk krisis pangan yang sudah ada.

Ratusan Juta Orang Terancam Kelaparan Parah, ICRC Serukan 3 Hal IniIlustrasi anak-anak yang kelaparan. (Pixabay/Billycm)

by Bayu Pratomo Herjuno Satito

Jakarta, FORTUNE – Komite Palang Merah Internasional (International Committee Of The Red Cross/ICRC) mengatakan, ada ratusan juta orang berisiko menghadapi ancaman kelaparan parah dalam beberapa bulan mendatang. Hal ini disebabkan krisis pangan dan energi yang semakin meluas di sejumlah negara selama beberapa waktu terakhir buntut konflik geopolitik. 

ICRC pun menyerukan tiga hal yang dianggap krusial dalam kerawanan pangan di dunia. Melansir laman ICRC, Kamis (14/7), seruan pertama mengenai tanggung jawab utama pihak yang berkonflik atas terpenuhinya kebutuhan dasar warga sipil di wilayah yang dikuasainya. Mereka harus melindungi tanaman, ternak, struktur air dan fasilitas kesehatan, yang sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup penduduk.

Kedua, pendanaan untuk mengatasi krisis pangan harus segera ditingkatkan demi menyelamatkan nyawa. Begitu juga tindakan jangka panjang untuk mengelola risiko dan memperkuat ketahanan dalam mencegah krisis selanjutnya. Semua negara di dunia harus memastikan akses bantuan bagi negara yang terkena dampak konflik, termasuk dukungan pertanian cerdas iklim dan praktik penggembalaan.

Seruan ketiga berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan kemanusiaan, baik untuk jangka pendek, menengah, dan panjang. Menurut ICRC, kapasitas seluruh pihak harus bisa ditingkatkan, mulai dari lembaga kemanusiaan dan pembangunan, lembaga keuangan, hingga berbagai otoritas lokal dan regional terkait krisis.

Dampak konflik Rusia-Ukraina

Konflik Rusia-Ukraina.

ICRC menyatakan, konflik Rusia-Ukraina berperan besar pada meningkatnya harga bahan bakar, pupuk, dan bahan pangan di seluruh dunia. Terhambatnya rantai pasok dan aksi saling lempar sanksi perdagangan antar kubu yang bertikai, berdampak luas pada negara-negara yang justru tak terlibat dan tidak memiliki konflik kepentingan.

Direktur Jenderal ICRC, Robert Mardini, menyampaikan bahwa sebagian negara di dunia, terutama di wilayah Afrika dan Timur Tengah, sedang berjuang untuk bertahan dalam krisis pangan.

“Konflik bersenjata, ketidakstabilan politik, guncangan iklim, dan dampak sekunder dari pandemi Covid-19 telah melemahkan kapasitas untuk bertahan dan pulih dari guncangan. Dampak lanjutan dari konflik bersenjata di Ukraina telah membuat situasi yang sudah kritis menjadi lebih buruk,” ujarnya.

Negara-negara yang menderita krisis pangan

Berdasarkan laporan ICRC, banyak negara-negara yang kini terpaksa bersinggungan dengan krisis pangan akibat konflik geopolitik di Rusia-Ukraina. Ratusan juta orang, termasuk anak-anak berisiko menghadapi kelaparan parah, hanya dalam waktu beberapa minggu mendatang.

Jumlah anak di bawah usia lima tahun di Somalia yang menderita Malnutrisi Akut Parah dengan komplikasi medis meningkat hampir 50 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Bahkan, naiknya harga pangan membuat banyak anak  berhenti sekolah karena keluarga tak lagi sanggup membayar biayanya.

Somalia adalah salah satu negara yang 90 persen gandumnya tergantung impor dari Rusia dan Ukraina. Harga sereal di Afrika melonjak karena merosotnya ekspor dari Ukraina, hal ini mempertajam dampak konflik dan perubahan iklim yang sebelumnya sudah terjadi.

Rusia dan Ukraina merupakan memproduksi sekitar 25 persen dari gandum dan biji-bijian dunia, sementara sekitar 85 persen pasokan gandum Afrika bergantung pada impor.

Organisasi Pangan Dunia (FAO) memperkirakan 346 juta orang di Afrika menghadapi kerawanan pangan yang parah. Temuan ini cukup mengejutkan, karena seperempat populasi benua tidak memiliki cukup makanan.

Di Afghanistan, harga tepung terigu naik 47 persen dibandingkan tahun lalu, minyak goreng naik 37 persen, pupuk DAP naik 91 persen, dan harga solar naik 93 persen. Afghanistan merupakan importir gandum terbesar dari negara tetangganya Kazakhstan, namun negara tersebut melakukan pembatasan ekspor, karena konflik Rusia-Ukraina.

Sudah jatuh tertimpa tangga

Ilustrasi kelaparan.

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, lonjakan harga global memiliki dampak yang tidak proporsional pada yang paling rentan terhadap guncangan, terutama petani subsisten dan orang-orang di daerah yang terkena dampak konflik dengan perlindungan sosial yang lemah.

ICRC mencontohkan Yaman, setelah bertahun-tahun perang saudara, lebih dari 50 persen populasi–lebih dari 16 juta orang–kini mengalami kerawanan pangan. Kemudian, 90 persen penduduk Suriah memang sudah hidup dalam kemiskinan, bahkan sebelum konflik bersenjata di Ukraina, semakin bergantung pada bantuan kemanusiaan, dan 55 persennya mengalami kerawanan pangan.

Sementara, hampir 10 juta orang di Sudan dan 7 juta orang di Sudan Selatan memang sudah mengalami kondisi sangat rawan pangan, negara-negara di Sahel mengalami kekeringan paling parah dalam beberapa dekade. Bahkan, Nigeria dan Mauritania menghasilkan makanan 40 persen lebih sedikit daripada rata-rata selama lima tahun terakhir.

ICRC minta kemanusiaan diutamakan

ICRC.

Menurut Mardini, konflik yang meluas hingga seolah menjadi perang antar kubu ini melahirkan berbagai sanksi yang pada akhirnya justru mempersulit negara-negara yang sebenarnya tidak terlibat. Operasionalisasi organisasi seperti ICRC pun terkendala untuk bisa berjalan secara optimal.

Untuk itu, ia pun mendesak negara-negara di dunia mengamankan upaya kemanusiaan yang efektif dalam desain dan implementasi sanksi yang disesuaikan. “Kami tetap berkomitmen untuk menanggapi keadaan darurat ini, tetapi kemanusiaan saja tidak dapat mengatasinya. Ini adalah tanggung jawab kita semua. Terlalu banyak nyawa dan penderitaan yang dipertaruhkan,” kata Mardini.

Related Articles