Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BPS: Perekonomian Berbasis Komoditas Mentah Takkan Berkelanjutan
ilustrasi biji kopi murni dari Bali (unsplash.com/Andrey Bond)
  • Amalia Adininggar Widyasanti menilai ekonomi berbasis komoditas tanpa teknologi dan produk hilir bernilai tambah tinggi tidak berkelanjutan.

  • Pangsa ekspor karet, gula, dan teh Indonesia menurun dibandingkan catatan tahun 1927.

  • Pengolahan produk pertanian, teknologi, dan branding dinilai dapat meningkatkan nilai tambah serta daya saing global.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
1927

Pangsa pasar ekspor karet Indonesia mencapai 37 persen, gula 10 persen, dan teh 16 persen.

saat ini

Pangsa pasar ekspor karet Indonesia tercatat 2,4 persen, gula 0,75 persen, dan teh 0,67 persen.

Rabu (7/10)

Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan pandangannya dalam Mata Lokal Fest 2026 secara daring.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan ekonomi berbasis komoditas tanpa teknologi dan pengolahan menjadi produk hilir bernilai tambah tinggi tidak akan berkelanjutan.
  • Who?
    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti.
  • Where?
    Dalam Mata Lokal Fest 2026 yang disampaikan secara daring.
  • When?
    Rabu (7/10).
  • Why?
    Karena pengolahan dengan teknologi dapat meningkatkan nilai tambah produk pertanian dan membuat produk lebih kompetitif di pasar global.
  • How?
    Dengan mengolah sumber daya alam menjadi produk hilir bernilai tambah tinggi serta mendorong branding ke arah global.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Amalia dari BPS bilang Indonesia tidak cukup hanya menjual karet, gula, teh, kopi, kelapa, atau sawit sebagai bahan mentah. Barang-barang itu perlu diolah dengan teknologi supaya nilainya lebih tinggi. Pangsa ekspor beberapa produk Indonesia sekarang turun. Ia juga bilang Indonesia perlu membuat merek yang dikenal di dunia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pengolahan produk pertanian menjadi barang hilir membuka peluang peningkatan nilai tambah, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi lokal. Contoh kelapa sawit, kopi, dan kelapa menunjukkan bahwa teknologi dapat memperluas manfaat sumber daya alam. Penguatan branding juga memberi ruang bagi produk Indonesia untuk bersaing lebih kompetitif di pasar global.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, mewanti-wanti bahwa perekonomian yang hanya mengandalkan komoditas mentah tanpa pengolahan hilir berbasis teknologi takkan bertahan lama.

Dia menyampaikan hal tersebut saat menanggapi merosotnya pangsa pasar ekspor sejumlah komoditas unggulan Indonesia di tingkat global secara drastis ketimbang tahun 1927.

BPS melaporkan penurunan tajam pada porsi ekspor komoditas pertanian dan perkebunan Indonesia di pasar dunia. Pangsa pasar ekspor karet nasional yang sempat mencapai 37 persen pada 1927, saat ini hanya tersisa 2,4 persen.

Merosotnya porsi ekspor juga terjadi pada komoditas gula dan teh. Pangsa pasar ekspor gula Indonesia menyusut dari 10 persen pada 1927 menjadi 0,75 persen saat ini.

Pada periode yang sama, pangsa ekspor teh Indonesia di pasar global anjlok dari 16 persen menjadi tinggal 0,67 persen.

"Perekonomian yang berbasis komoditas tanpa sentuhan teknologi tanpa diolah menjadi produk hilir yang bernilai tambah tinggi tidak akan sustained. Nah, oleh sebab itu, saatnya sekarang kita bagaimana mengolah sumber daya alam yang kita miliki menjadi produk yang bernilai tambah tinggi dengan sentuhan teknologi," ujar Amalia dalam ajang Mata Lokal Fest 2026 yang disiarkan secara daring, Rabu (7/10).

Menurut Amalia, sektor pertanian Indonesia menyimpan potensi besar untuk diolah di dalam negeri guna menciptakan lapangan kerja baru sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional dalam jangka panjang.

Ia membeberkan kalkulasi peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi: pengolahan kelapa sawit menjadi minyak goreng sanggup mendongkrak nilai tambah 4-6 kali lipat. Sementara itu, biji kopi yang diolah menjadi kopi bubuk meningkatkan nilai tambah 2-4 kali lipat, dan kelapa yang diolah menjadi minyak kelapa melonjakkan nilai tambah hingga 2-5 kali lipat.

Selain eksekusi hilirisasi dan pemanfaatan teknologi, Indonesia dinilai perlu memperkuat strategi branding produk di pasar global. Amalia mencontohkan keberhasilan Singapura membangun reputasi teh TWG meski tak memiliki kebun teh, serta Maroko yang sukses dengan Bacha Coffee walau mengimpor biji kopinya dari negara lain.

"Kita sudah punya potensi banyak yang terus harus kita branding ke arah global. Tapi tidak hanya berhenti di situ saja. Karena Indonesia adalah negara yang kaya dengan sumber daya alam yang bisa kita dorong dengan teknologi, dengan nilai tambah untuk menciptakan produk yang kompetitif di pasar global," ujarnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article