Jakarta, FORTUNE - Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di hadapan Komisi XI DPR RI, Rabu (26/8). Dalam tahap tersebut, Destry memaparkan sejumlah visi dan inisiatifnya dalam menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi.
Tiga visi yang disampaikan Destry, pertama untuk menjaga stabilitas sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, kedua berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dan terakhir memperkuat sinergi dengan pemangku kepentingan melalui konsep sinergi merah putih.
"Visi kami adalah menjadikan Bank Indonesia sebagai lembaga yang tetap relevan dalam merespon tantangan serta credible dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan," ujar Destry di Gedung DPR RI, Jakarta.
Terkait kebijakan moneter, Destry menyebut akan menjaga stabilitas rupiah sembari memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi. Ia pun berkomitemn untuk lebih terukur apabila melakukan intervensi. Sementara operasi moneter akan dioptimalkan untuk memperkuat transmisi kebijakan.
Di sisi makroprudensial, instrumen kebijakan akan dioptimalkan untuk mendorong pembiayaan ke sektor prioritas. Sementara itu, kebijakan sistem pembayaran diarahkan untuk mempercepat digitalisasi ekonomi dan keuangan secara aman, efisien, dan inklusif.
Ia juga menyoroti perkembangan digitalisasi sebagai sistem pembayaran. Transaksi QRIS, per Juli 2026 mencatatkan pertumbuhan 82,4 persen dengan pengguna sejumlah 67,5 juta dan jumlah merchant 45,5 juta. Dari jumlah merchant itu, 96,7 persen diantaranya adalah merchant UMKM.
Walau demikian, Destry menekankan digitalisasi tidak boleh menghilangkan kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai. Digitalisasi dapat menjadi sarana penguatan perlindungan konsumen, pencegahan fraud, dan mitigasi risiko cyber.
"Bank Indonesia akan tetap memastikan ketersediaan rupiah yang berkualitas dan layak edar di seluruh wilayah Indonesia termasuk daerah 3T. Selanjutnya kebijakan pendalaman pasar uang dan pasar valas akan diakselerasi untuk memperluas sumber pembelian pembangunan dan meningkatkan ketahanan pasar keuangan domestik," katanya.
Selain itu, salah satu inisiatifnya juga memperkuat peran 46 kantor perwakilan BI di dalam negeri sebagai mitra strategis pemerintah daerah. Fokusnya mencakup pengembangan potensi ekonomi lokal, percepatan hilirisasi dan industrialisasi, serta penguatan ekonomi kerakyatan.
Destry mengatakan arah kebijakan yang disiapkan tersebut adalah kelanjutan dari pemahaman dan pengalamannya selama menjalankan amanah sebagai Deputi Gubernur Senior BI sejak 2019.
Menurutnya banyak hal berubah, ditandai dengan fragmentasi geopolitik, gejolak pasar keuangan, serta perkembangan digitalisasi dan berbagai risikonya. Namun demikian ekonomi Indonesia pada triwulan 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan, sementara inflasi Juli 2026 berada di level 2,88 persen, masih dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen. Capaian tersebut menurutnya menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia masih resilien.
Kendati demikian, ia menekankan Indonesia tidak boleh cepat berpuas diri. Sejumlah aspek masih perlu diperkuat, termasuk pertumbuhan kredit, optimalisasi undisbursed loan, serta peningkatan pembiayaan bagi sektor UMKM.
"Berbagai tantangan tersebut menunjukkan bahwa menjaga stabilitas saja belum cukup," ujarnya.
