Comscore Tracker
NEWS

Luhut Minta Sri Mulyani Turunkan Pungutan Ekspor CPO

Realisasi ekspor CPO dan turunannya dinilai masih rendah.

Luhut Minta Sri Mulyani Turunkan Pungutan Ekspor CPOMenteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan usai bertemu dengan Kepala BPKP di kantornya, Jakarta, Rabu (15/6). (Dok. Istimewa)

by Eko Wahyudi

Jakarta, FORTUNE - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, mengatakan pemerintah terus berupaya agar harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit bisa naik.

Menurutnya, realisasi ekspor CPO masih rendah, sehingga permasalahan tersebut di atas masih membutuhkan waktu. Ia menyakini, realisasi ekspor akan mulai lancar pekan depan.

"Tapi enggak cukup itu aja. Supaya lancar kita mungkin akan menurunkan (pungutan). Tadi malam saya bicara sama Menteri Keuangan terkait TPE (tarif pungutan ekspor). Mungkin kita bawa sampai ke bawah sehingga orang dikasih insentif untuk ekspor," ujar Luhut di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (7/7).

Dia meyakini mulusnya ekspor CPO akan memungkinkan tangki pabrik kelapa sawit untuk kembali menyerap TBS. Dengan demikian, harga TBS dapat kembali naik.

"Kemudian kita bikin B30 menjadi B40 itu juga ada 2,5 juta ton masuk ke sana, itu juga nanti berarti permintaan naik," kata Luhut.

Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 98/PMK.010/2022 mengatur tarif pungutan ekspor maksimum untuk minyak sawit mentah $200 per ton dan bea keluar (BK) US$288 per ton. Peraturan tersebut berlaku efektif hingga 31 Juli. Tetapi, ketetapan tersebut tidak berlaku bagi produsen sawit yang tidak mengikuti domestic market obligation (DMO).

Realisasi ekspor CPO

Kementerian Perdagangan mencatat penerbitan 1.261 persetujuan ekspor (PE) melalui skema 1 DMO SIMIRAH telah diberikan kepada 44 perusahaan dengan volume 1.319.567 ton.

Dari jumlah tersebut, baru 36 perusahaan yang telah merealisasikan 842 PE dengan volume 885.500 ton atau 65,91 persen. Tercatat, masih ada 434.067 ton volume ekspor yang belum terealisasi.

Lalu, persetujuan ekspor melalui skema Flush Out telah diberikan kepada 60 perusahaan melalui 536 PE dengan volume 1.092.890 ton. Dari jumlah tersebut, baru 39 perusahaan yang telah merealisasikan 177 PE dengan volume 645.327 ton atau 49,51 persen. Tercatat, masih ada 447.563 ton volume ekspor yang belum terealisasi.

Petani pun minta relaksasi

Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat Manurung, meminta pemerintah menurunkan bea keluar CPO. Untuk saat ini, bea keluar adalah US$288, namun untuk pungutan ekspor US$200.

Kemudian, Apkasindo berharap pungutan ekspor dari yang saat ini US$200 menjadi US$100. Sehingga, total beban harga CPO menjadi US$350.

Dengan asumsi harga CPO Cif Rotterdarm US$1.400 per 23 Juni dan dikurangi beban US$350, maka seharusnya harga CPO Indonesia adalah US$1.050. Sehingga, apabila US$1.050 dikonversikan ke mata uang rupiah, maka harga CPO Indonesia seharusnya Rp15.500 per kilogram.

Apkasindo mengatakan jika ditransmisikan kepada harga TBS petani sawit, nilainya Rp 3.300 per kilogram TBS.  "Inilah yang disebut Pak Luhut harga TBS harus di atas Rp3.000," kata Gulat.

Related Articles