Comscore Tracker
NEWS

Mengenal Molnupiravir, Calon Obat Covid-19 yang Sedang Dikaji

Molnupiravir berpotensi jadi obat Covid-19 oral pertama.

Mengenal Molnupiravir, Calon Obat Covid-19 yang Sedang DikajiShutterstock/Zerbor

by Eko Wahyudi

Jakarta, FORTUNE – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut pihaknya tengah menimbang secara cermat terkait penggunaan obat-obatan baru untuk Covid-19, termasuk obat oral dari Merck, Molnupiravir. Pemerintah saat ini tengah mengkaji sejumlah  obat yang dapat digunakan untuk pasien Covid-19 di Indonesia.

"Kemenkes terus bekerja sama dengan BPOM dan rumah sakit-rumah sakit untuk review dan uji klinis, baik itu sifatnya monoklonal antibodi, tapi juga bisa anti virus baru," ujar Budi dalam konferensi pers virtual, Senin (4/10).

Budi menyebut, salah satu upaya Kementerian Kesehatan yakni mencoba menghubungi perusahaan farmasi Merck yang tengah memproduksi pil Molnupiravir. Ia berharap, dengan upaya pemerintah tersebut maka kedepannya kebutuhan obat covid-19 di tengah masyarakat dapat tercukupi dengan baik.

"Diharapkan di akhir tahun ini kita sudah bisa mengetahui obat-obatan mana saja yang kira-kira cocok untuk kondisi masyarakat kita," kata dia. Apabila disetujui mendapatkan izin penggunaan dari BPOM, maka pil tersebut bakal menjadi obat oral alias obat yang dikonsumsi melalui mulut pertama kali untuk mengobati infeksi Covid-19.

1. Hasil kajian sementara dari perusahaan

Dalam keterangan perusahaan, Produsen obat Amerika Serikat, Merck mengatakan uji klinis menujukan  hasil sangat positif dari seluruh varian Covid-19.

Pada analisis sementara, Molnupiravir (MK-4482, EIDD-2801) mengurangi risiko rawat inap atau kematian sekitar 50 persen. Data menunjukkan 7,3 persen pasien (28 orang) yang mendapat Molnupiravir dirawat di rumah sakit sampai hari ke-29 penelitian. Sementara itu, pada mereka yang tidak mendapat Molnupiravir atau dapat plasebo saja ada 53 orang (14,1 persen) yang harus masuk RS. Selain data masuk RS, pada mereka yang tidak dapat Molnupiravir ada delapan orang yang meninggal.

Sementara terkait efek samping, studi memperlihatkan tidak ada yang serius di antara para sukarelawan dalam uji klinis Molnupiravir. Peneliti mencatat efek samping umumnya ringan seperti sakit kepala dan ini sulit dibedakan apakah akibat Covid-19 atau bukan.

2. Molnupiravir sedang diajukan EUA ke FDA

Adapun pil tersebut, awalnya dikembangkan untuk mengobati influenza, dirancang untuk merusak kode genetik virus, yang mencegahnya menyebar di dalam tubuh. Merck pun akan mengajukan permohonan izin penggunaan darurat (Emergency Use Authorisation, EUA) untuk otoritas obat dan makanan Amerika Serikat (FDA).

Pihaknya menyatakan kesanggupan dalam memproduksi pil untuk 10 juta program molnupiravir pada akhir 2021. Pemerintah AS juga telah setuju untuk membeli obat itu senilai $1,2 miliar jika mendapat persetujuan penggunaan dari FDA.

3. Respon pakar Kesehatan Indonesia terkait Molnupiravir

Molnupiravir juga menjadi sorotan dari Guru Besar Fakultas Kedokteran Univesitas Indonesia Tjandra Yoga Aditama. Ia menjelasakan, bahwa obat ini merupakan antiviral yang dalam hasil penelitian interimnya menunjukkan penurunan sebesar 50 persen angka perawatan di rumah sakit serta juga mencegah kematian akibat Covid-19, pada pasien derajat ringan dan sedang. "Dari yang mendapat Molnupiravir memang tidak ada yang meninggal sampai hari ke-29 penelitian ini dilakukan," kata Prof Tjandra dalam keterangan tertulisnya.

Prof Tjandra mengamati sampel penelitian Molnupiravir Covid-19 bagi mereka yang bergejala ringan dan sedang, dengan onset gejala paling lama lima hari. Hasil penelitian ini juga menunjukkan data pada 40 persen sampelnya bahwa efikasi Molnupiravir bisa konsisten pada berbagai varian yang ditemukan, yaitu Gamma, Delta, dan Mu.

"Secara umum efek samping adalah seimbang antara yang dapat Molnupiravir dan plasebo, yaitu 35 persen dan 40 persen. Sampel penelitian ini mempunyai setidaknya satu faktor risiko, atau yang biasa kita kenal dengan komorbid. Yang paling sering adalah obesitas, diabetes mellitus, penyakit jantung dan juga usia tua (di atas 60 tahun)," ujar mantan Direktur WHO Asia Tenggara itu.

Dia menjelasakan, secara umum Molnupiravir adalah ribonucleoside analog yang menghambat replikasi virus SARS-CoV-2. Selain uji klinik ini maka pihak perusahannya juga menginformasikan bahwa Molnupiravir juga menunjukkan hasil baik pada beberapa uji pra klinik, termasuk untuk pencegahan, pengobatan dan mencegah penularan.

Related Articles