Comscore Tracker
NEWS

Apa itu Blockchain dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Blokchain dinilai akan merevolusi teknologi berbagai bidang.

Apa itu Blockchain dan Bagaimana Cara Kerjanya?Shutterstock/Wit Olszewski

by Hendra Friana

Jakarta, FORTUNE - Apa itu blockchain? Jika pertanyaan ini dilontarkan kepada para praktisi teknologi informasi (IT), jawabannya mungkin bisa beragam. Dan tak semua orang bisa memahaminya dengan mudah. Sebab, teknologi yang dikembangkan untuk sistem penyimpanan data digital ini masih relatif baru. Meski demikian, banyak pihak menyebutnya sebagai penemuan terbesar sejak era penggunaan internet dan akan merevolusi teknologi di berbagai bidang.

Secara sederhana, blockchain bisa diartikan sebagai teknologi yang memanfaatkan komputasi untuk menciptakan kelompok-kelompok atau blok yang saling terhubung satu sama lain. Blok-blok tersebut berisi catatan transaksi serta melacak aset dari sebuah jaringan bisnis.

Ada tiga karakteristik utama dari teknologi blockchain. Pertama, immutable yang memungkinkan semua catatan transaksi tidak dapat  dimodifikasi atau dihapus. Kedua, distributed ledger di mana semua pihak akan mendapatkan copy catatan dari semua transaksi yang terjadi. Terkahir, decentralized atau terdesentralisasi di mana tidak ada penengah atau perantara dalam tiap transaksinya.

Cara Kerja Blockchain

Pada intinya, blockchain adalah buku besar digital terdistribusi yang menyimpan data dalam bentuk apa pun. Saat ini, blockchain adalah teknologi database inovatif yang menjadi inti dari hampir semua cryptocurrency. Dengan mendistribusikan salinan database yang identik di seluruh jaringan, blockchain membuatnya sangat sulit untuk meretas atau menipu sistem.

Nama blockchain sendiri muncul hampir tidak disengaja. Sebabnya, buku besar digital sering digambarkan sebagai "rantai" yang terdiri dari "blok" data individual. Saat data baru ditambahkan secara berkala ke jaringan, "blok" baru dibuat dan dilampirkan ke "rantai". Ini melibatkan semua simpul memperbarui versi buku besar blockchain mereka menjadi identik.

Bagaimana blok baru ini dibuat adalah kunci mengapa blockchain dianggap sangat aman. Mayoritas simpul harus memverifikasi dan mengkonfirmasi keabsahan data baru sebelum blok baru dapat ditambahkan ke buku besar. Untuk cryptocurrency, mereka mungkin melibatkan memastikan bahwa transaksi baru di blok tidak curang, atau bahwa koin tidak dibelanjakan lebih dari sekali. Ini berbeda dari database atau spreadsheet mandiri, di mana satu orang dapat membuat perubahan tanpa pengawasan.

“Begitu ada konsensus, blok ditambahkan ke rantai dan transaksi yang mendasarinya dicatat dalam buku besar yang didistribusikan,” kata C. Neil Gray, mitra di area praktik fintech di Duane Morris LLP seperti dikutip Forbes. “Blok dihubungkan dengan aman bersama, membentuk rantai digital yang aman dari awal buku besar hingga saat ini.”

Transaksi biasanya diamankan menggunakan kriptografi, artinya simpul tersebut perlu menyelesaikan persamaan matematika yang kompleks untuk memproses transaksi.

“Sebagai hadiah atas upaya mereka dalam memvalidasi perubahan pada data yang dibagikan, node biasanya dihargai dengan jumlah baru mata uang asli blockchain — misalnya, bitcoin baru di blockchain bitcoin,” kata Sarah Shtylman, penasihat fintech dan blockchain dengan Perkins Coie.

Dalam penggunaannya, blockchain dibedakan menjadi publik dan pribadi. Dalam blockchain publik, siapa pun dapat berpartisipasi yang berarti mereka dapat membaca, menulis, atau mengaudit data di blockchain. Meski demikian, sangat sulit untuk mengubah transaksi yang dicatat dalam blockchain publik karena tidak ada otoritas tunggal yang mengontrol simpul.

Sementara blokchain pribadi dikendalikan oleh organisasi atau grup. Hanya mereka yang dapat memutuskan siapa yang diundang ke sistem dan hanya mereka yang memiliki wewenang untuk kembali dan mengubah blockchain. Proses blockchain pribadi ini lebih mirip dengan sistem penyimpanan data internal kecuali tersebar di beberapa simpul untuk meningkatkan keamanan.

Related Articles