NEWS

Apa Itu BRICS: Sejarah dan Perannya Melawan Dominasi G7

Banyak negara berkembang nyatakan ingin gabung BRICS.

Apa Itu BRICS: Sejarah dan Perannya Melawan Dominasi G7Presiden Rusia Vladimir Putin. Dok. SERGEI ILNITSKY/AFP/Getty Images

by Hendra Friana

04 May 2023

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - BRICS, kelompok lima negara berkembang terdepan di dunia, mendapat sorotan media jelang pertemuan puncak tahunannya di Cape Town, Afrika Selatan pada Juni mendatang. Pasalnya banyak negara berkembang yang menyatakan minat untuk bergabung ke dalam blok tersebut.

Cina, salah satu anggota BRICS, yang memulai pembicaraan tentang ekspansi atau perluasan keanggotaannya untuk membangun kekuatan diplomatik baru melawan dominasi negara-negara maju di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Selain itu, BRICS juga menjadi sorotan dalam ikhtiar melawan dominasi dolar AS dengan rencana membuat mata uang baru. Indonesia tergolong negara yang disebut tertarik bergabung dengan blok tersebut.

Lantas bagaimana sejarah BRICS dan bagaimana perannya melawan dominasi kelompok negara-negara maju di G7?

Berikut penjelasannya:

Sejarah BRICS

Akronim BRICS pertama kali muncul dua dekade yang lalu ketika Jim O'Neill, manajer di Goldman Sachs, bank investasi yang berbasis di New York, menciptakan akronim tersebut untuk Brasil, Rusia, India, dan Cina. Namun, waktu itu huruf "S" pada BRICS tidak ditulis nonkapital (BRICs) karena ia hanya menyebut empat negara tidak turut memasukkan Afrika Selatan—yang bergabung belakangan.

Menurut O'Neill, keempat perekonomian yang tengah berkembang ini menonjol karena laju pertumbuhan tinggi dan populasi yang besar. Meski demikian, sistem politik keempat negara tersebut sangat berbeda, mulai dari demokrasi representatif hingga diktator penuh. 

Model ekonomi juga sangat berbeda, begitu juga dengan sejarah, budaya, dan geografi. Rusia melintasi setengah Lingkaran Arktik, sementara India dan Brasil sebagian besar adalah negara tropis.

Namun, istilah baru ini menjadi populer, termasuk di negara-negara yang terkait. Pada 2006, empat menteri luar negeri BRICS bertemu di sela-sela Sidang Umum PBB di New York. Pada 2009, pertemuan puncak BRICS yang pertama berlangsung di Yekaterinburg, Rusia, dan pertemuan tahunan telah berlangsung sejak saat itu.

Pertemuan terakhir tersebut merupakan acara digital yang diadakan oleh presiden Cina, Xi Jinping, pada Juni tahun yang sama.

Ketika Afrika Selatan bergabung pada 2010, "s" dalam BRICs menjadi kapital. Saat itu, konteks global telah berubah secara signifikan. Pada 2008, Lehman Brothers, bank investasi lainnya di New York, telah runtuh, memicu krisis keuangan yang menyebar ke seluruh dunia. 

G7 (grup tujuh negara maju dengan ekonomi tinggi) telah terkena dampak yang sangat parah. Fakta bahwa perekonomian yang sedang berkembang berkinerja lebih baik memperkuat posisinya di arena internasional. Sejak akhir 2008, para pemimpin puncak dari 20 ekonomi terbesar (lG20) mulai mengadakan pertemuan tahunan. Mereka melibatkan G7, kelima anggota BRICS—yang saat itu belum membentuk sebuah blok—serta beberapa negara lain.

Peran BRICS

BRICS mewakili sekitar seperempat dari PDB global dalam dolar AS dan sepertiga dalam paritas daya beli. Sekitar 40 persen dari populasi dunia tinggal di negara BRICS juga. 

Meski begitu, setelah BRICS terbentuk daya tarik grup ini tidak didasarkan pada agenda yang sama. Dan hal ini terasa aneh ketika banyak negara berkembang lain yang ingin bergabung. Karena itu, banyak ahli berpendapat bahwa hal ini menunjukkan bahwa banyak negara tidak nyaman dengan dominasi G7 yang dipimpin oleh AS di arena global. 

Terlebih, AS dan Eropa kini sedang mengalami krisis ekonomi. Krisis ekonomi AS dan Eropa menyebabkan negara mitranya kehilangan pasar dan tentunya perlu mencari pasar baru untuk menjaga eksistensi pasarnya di luar negeri.

BRICS dianggap memiliki potensi besar penyeimbang. Meski hingga kini belum dapat memainkan peran tersebut, mereka semakin mendapat perhatian karena anggotanya terlibat aktif dalam konstelasi global. 

Misalnya, bantuan finansial besar Cina dibandingkan negara-negara lain selama pandemi Covid-19. Data China Africa Research Initiative menyebutkan, negeri Tirai Bambu melalui Eximbank dan CIDCA menunda pembayaran utang senilai US$1,3 miliar di 23 negara, 16 negara di antaranya dari Afrika. 

Begitu pula Rusia yang terlihat aktif membangun komunikasi dengan negara lain. Meski banyak pihak memandang hal tersebut adalah cara untuk menggalang dukungan terkait konfliknya dengan Ukraina, Rusia memperlihatkan komitmen yang lebih besar dalam kerja sama yang dibuatnya.

Pada awal April lalu, misalnya, Rusia sebagai OPEC+ mengikuti langkah OPEC untuk memangkas produksi minyaknya. Padahal, negara ini berkepentingan mempertahankan produksinya untuk menjaga pendapatan negara.

Rusia juga memperlihatkan komitmen kepada mitranya untuk memasok kebutuhan minyak seperti kepada Cina dan India dengan “harga khusus” di tengah tingginya harga minyak selama 2021–2022.

Related Topics