NEWS

Resesi, Elon Musk Berencana Potong Gaji Karyawan Tesla Selama 3 Bulan

Gaji karyawan Tesla akan dipotong 10 persen.

Resesi, Elon Musk Berencana Potong Gaji Karyawan Tesla Selama 3 BulanIlustrasi pabrik Tesla. Shutterstock/Michael Vi

by Hendra Friana

Jakarta, FORTUNE - CEO Tesla, Elon Musk, akhirnya buka suara ihwal isu PHK serta penghentian rekrutmen tenaga kerja baru di perusahaannya. Dalam penjelasannya kepada media, ia juga mengungkapkan bakal memotong 10 persen gaji karyawannya dalam tiga bulan ke depan untuk merespons potensi resesi Amerika Serikat yang kian jembar. 

"(Resesi) Itu belum pasti, tapi sepertinya lebih mungkin daripada tidak," katanya dalam sebuah pernyataan seperti dikutip Reuters, Selasa (21/6).

Pandangan Elon Musk juga memperkuat proyeksi para eksekutif, termasuk CEO JPMorgan Chase & Co Jamie Dimon dan Presiden Goldman Sachs John Waldron, soal kekhawatiran apakah Amerika Serikat akan masuk ke dalam resesi. 

Di level pemerintah, isu tersebut juga telah menjadi perhatian yang berkembang terutama oleh bank sentral AS (The Federal Reserve) dan Kementerian Keuangan.

Presiden AS Joe Biden, misalnya, telah menegaskan pada Senin (20/6) bahwa kemungkinan resesi AS tidak dapat dihindari. Kini negara ekonomi terbesar di dunia itu tengah berjuang untuk mengatasi kenaikan harga bensin dan inflasi, yang mencapai level tertinggi dalam 40 tahun.

Sebelumnya, dalam email kepada Reuters pada 2 Juni silam,  Musk mengatakan kepada eksekutif Tesla bahwa dia memiliki "perasaan yang sangat buruk" tentang ekonomi dan bahwa perusahaan perlu memotong staf sekitar 10 persen dan "menghentikan semua perekrutan di seluruh dunia". Sementara kemarin, Tesla secara resmi menyatakan keinginannya untuk meningkatkan jumlah pekerja kontrak yang dibayar per jam dibandingkan dengan gaji tetap.

Pada isu lain, Musk juga mengatakan bahwa dirinya bakal mempertahankan aset mata uang digital dan bermaksud untuk secara pribadi mendukung dogecoin. Berbagai pihak berpandangan bahwa tersebut bisa jadi pemantik kenaikan harga seperti yang pernah ia lakukan pada Februari 2021, ketika mengatakan dirinya melakukan pembelian mata uang kripto senilai US$1,5 miliar dan mengumumkan bahwa Tesla menerima crypto currency sebagai alat pembayaran  mobil listrik buatannya.

Tarik-ulur beli Twitter

Elon juga buka berbicara tentang tawarannya untuk membeli Twitter (TWTR.N), yang dilaporkan majalah Forbes awal bulan ini bahwa dia telah setuju untuk membeli seharga US$44 miliar.

Namun,  Musk mengatakan ada masalah yang belum terselesaikan, termasuk porsi utang dari kesepakatan dan jumlah pengguna spam Twitter yang tak sesuai dengan data perusahaan.

"Kami masih menunggu resolusi tentang masalah itu, dan itu adalah masalah yang sangat signifikan," katanya, mengulangi keraguan atas klaim Twitter bahwa akun palsu atau spam mewakili kurang dari 5 persen dari pengguna aktif harian yang dapat dimonetisasi.

"Dan tentu saja, ada pertanyaan, apakah bagian utang putaran itu akan digabungkan? Lalu apakah pemegang saham akan memilih?"

Musk menuturkan bahwa dirinya mengincar peningkatan 80 persen pengguna di Amerika Utara dan setengah dari populasi dunia. "Aspirasi saya untuk Twitter adalah menjadi seinklusif mungkin," katanya.

Yang paling penting adalah membawa perusahaan ke arah yang benar, seperti di perusahaan roket pribadinya SpaceX dan Tesla, katanya. "Apakah saya CEO jauh lebih penting daripada kemampuan saya untuk mengarahkan produk ke arah yang benar," tandasnya.

Related Articles