Comscore Tracker
NEWS

Inflasi AS Tembus 7,9%, Ancaman Stagflasi Mengintai

Lonjakan inflasi dipicu kenaikan harga komoditas energi.

Inflasi AS Tembus 7,9%, Ancaman Stagflasi MengintaiWarga memakai payung sambil menyebrangi jalan di New York, Amerika Serikat, Selasa (26/10/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Caitlin Ochs/aww/cfo

by Hendra Friana

Jakarta, FORTUNE - Inflasi Amerika Serikat pada Februari 2022 melonjak di kisaran 7,9 persen (year on year), akibat meroketnya harga energi, bahan pangan serta perumahan. Kenaikan inflasi tertinggi dalam 40 tahun terakhir ini pun memberikan sinyal akan adanya lonjakan harga dan inflasi yang lebih tinggi ke depan.

Sebagai informasi, pada Januari 2022, (month to month/mtm) inflasi AS dilaporkan sebesar 7,5 persen. 

Mengutip Fortune.com, Departemen Tenaga Kerja, Kamis (10/3), menyatakan sebagian besar kenaikan harga disebabkan reli beruntun harga minyak dan gas usai invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari. Sejak itu, harga gas rata-rata secara nasional telah melonjak sekitar 62 persen menjadi US$4,32 per galon.

Padahal, sebelum perang berkecamuk, pemulihan belanja masyarakat, kenaikan gaji karyawan dan kekurangan pasokan yang terus-menerus telah mengirim inflasi konsumen AS ke level tertinggi dalam empat dekade terakhir.

Terlebih lagi, biaya perumahan, yang merupakan sepertiga dari indeks harga konsumen pemerintah, telah meningkat tajam-- sebuah tren yang tidak mungkin berbalik dalam waktu dekat.

Bagi kebanyakan masyarakat Amerika, inflasi telah melampaui kenaikan gaji tahun lalu dan membuat mereka lebih sulit untuk membeli kebutuhan seperti makanan, gas, dan membayar sewa.

Akibatnya, inflasi telah menjadi ancaman politik utama bagi Presiden Joe Biden dan anggota Kongres Demokrat saat pemilihan paruh waktu semakin dekat. Pelaku bisnis kecil mengatakan dalam survei bahwa situasi ini akan menjadi perhatian ekonomi utama. 

Guna membendung lonjakan inflasi, Federal Reserve bahkan telah berancang-ancang menaikkan suku bunga beberapa kali tahun ini dimulai dengan kenaikan moderat pekan depan.

The Fed menghadapi tantangan yang sulit, meskipun: Jika pengetatan kredit terlalu agresif tahun ini, itu berisiko melemahkan ekonomi dan mungkin memicu resesi.

Ancaman stagflasi

Harga energi, yang telah melonjak setelah invasi Rusia ke Ukraina, kembali naik setelah Biden mengatakan Amerika Serikat akan melarang impor minyak dari Rusia.

Meski sempat turun 12 persen menjadi US$108,70 per barel pada Rabu, di tengah kabar Uni Emirat Arab akan mendesak sesama anggota OPEC untuk meningkatkan produksi, harga masih naik tajam dari sekitar US$90 sebelum invasi Rusia.

Jika Eropa bergabung dengan AS dan Inggris dan melarang impor minyak Rusia, analis memperkirakan bahwa harga minyak bisa melonjak hingga US$160 per barel.

Konsekuensi ekonomi dari perang Rusia melawan Ukraina telah menjungkirbalikkan asumsi luas di antara banyak ekonom dan di The Fed: bahwa inflasi akan mulai mereda musim semi tahun ini karena harga telah naik signifikan pada bulan Maret dan April 2021.

Jika harga gas tetap mendekati levelnya saat ini, Eric Winograd, ekonom senior di manajer aset AllianceBernstein, memperkirakan bahwa inflasi tahunan AS dapat mencapai level 9 persen pada Maret atau April 2022. 

Kenaikan harga pangan dna komoditas

Harga gandum, jagung, minyak goreng dan logam seperti aluminium dan nikel juga melonjak sejak invasi. Ini lantaran Ukraina dan Rusia adalah pengekspor utama komoditas tersebut di AS.

Bahkan sebelum invasi Rusia, inflasi tidak hanya meningkat tajam tetapi juga merambat ke sektor-sektor ekonomi tambahan. Banyak harga telah melonjak selama setahun terakhir karena permintaan yang tinggi telah menyebabkan kekurangan pasokan barang-barang seperti mobil, bahan bangunan dan barang-barang rumah tangga.

Pola itu mirip dengan dinamika “stagflasi” yang membuat ekonomi tahun 1970-an sengsara bagi banyak orang Amerika. Namun, sebagian besar ekonom mengatakan mereka berpikir ekonomi AS tumbuh cukup kuat sehingga resesi lain tidak mungkin terjadi, bahkan dengan inflasi yang lebih tinggi.

Related Articles