Harga Beras Naik, Satgas Ungkap Dampak El Nino hingga Perang Timteng

Harga beras medium dan premium naik pada pekan ketiga September 2026 akibat produksi gabah menurun saat kemarau dan El Nino, sehingga harga gabah melampaui harga pembelian pemerintah.
Rantai distribusi panjang, kenaikan BBM, serta mahalnya kemasan berbahan nafta akibat lonjakan minyak dunia terkait konflik Timur Tengah menambah biaya hingga harga konsumen terdorong naik.
BPS mencatat harga medium naik 0,76% menjadi Rp14.644/kg dan premium naik 0,69 persen menjadi Rp16.495/kg; pemerintah mendorong perluasan distribusi Bulog dan percepatan bantuan pangan.
Jakarta, FORTUNE - Harga beras kembali mengalami kenaikan pada pekan ketiga September 2026. Satuan Tugas (Satgas) Saber Pangan mengidentifikasi sejumlah faktor yang mendorong harga beras medium dan premium berada di atas harga eceran tertinggi (HET), mulai dari penurunan produksi akibat musim kemarau dan dampak El Nino hingga kenaikan biaya kemasan dan distribusi yang dipengaruhi konflik di Timur Tengah.
Kepala Posko Satgas Saber Pangan Pusat, Brigjen Pol Zain Dwi Nugroho, mengatakan temuan tersebut diperoleh dari kegiatan pengawasan di 13 provinsi. Salah satu faktor utama adalah penurunan produksi gabah kering panen (GKP) akibat musim kemarau dan dampak El Nino.
"Produksi gabah kering panen saat ini menurun di musim kemarau dan dampak dari El Nino," kata Zain saat Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 yang disiarkan secara virtual, Senin (21/9).
Menurut dia, penurunan pasokan GKP membuat penggilingan dan produsen saling berlomba mendapatkan gabah. Kondisi tersebut mendorong harga pembelian GKP dari penggilingan kepada produsen melampaui harga pembelian pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram.
Kenaikan harga gabah kemudian menekan biaya produksi beras. Zain mengatakan harga produksi beras premium maupun medium kini sudah mendekati, bahkan pada sejumlah kondisi telah melebihi, HET yang ditetapkan pemerintah.
Persoalan berikutnya berada pada rantai pasok. Distribusi beras dari sentra produksi menuju sejumlah wilayah konsumen dinilai masih memiliki mata rantai yang panjang. Ketika harga beras di tingkat sumber produksi sudah mendekati HET, biaya distribusi yang muncul sepanjang rantai pasok membuat harga di tingkat konsumen berpotensi semakin tinggi.
Selain faktor produksi dan distribusi, lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah turut memberikan tekanan terhadap harga beras melalui kenaikan biaya kemasan.
Zain menjelaskan bahan baku kemasan berasal dari nafta yang bersumber pada minyak mentah. Ketika harga minyak dunia meningkat akibat konflik di Timur Tengah, biaya bahan baku kemasan ikut terdorong.
"Naiknya harga kemasan sebagai dampak naiknya bahan baku nafta yang berasal dari minyak mentah sebagai akibat dari naiknya harga minyak dunia dan konflik di Timur Tengah," ujarnya.
Guna menekan biaya tersebut, sejumlah produsen disebut mulai mengubah ukuran kemasan. Beras yang sebelumnya banyak dipasarkan dalam kemasan 5 kilogram, misalnya, dialihkan ke kemasan 10 kilogram hingga 20 kilogram.
Tekanan juga datang dari biaya transportasi. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) meningkatkan ongkos distribusi dan pada akhirnya menambah harga beli beras. Karena itu, Satgas menilai diperlukan penguatan fasilitasi distribusi pangan, terutama demi menghubungkan daerah surplus produksi dengan wilayah yang mengalami defisit.
Pasokan Bulog dan distribusi pangan
Zain juga menyoroti masih minimnya kerja sama antardaerah surplus dan defisit. Menurut dia, hubungan distribusi pangan yang lebih kuat diperlukan guna memangkas mata rantai dan biaya logistik.
Di sisi lain, pasokan beras premium dari Bulog saat ini masih diperuntukkan bagi ritel modern. Namun, belum seluruh jaringan ritel modern bekerja sama dengan Bulog. Satgas mendorong Bulog memperluas kerja sama dengan jaringan ritel modern, baik berskala nasional maupun lokal.
Dari sisi stabilisasi pasokan dan harga pangan, penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) juga menjadi perhatian. Hingga 19 September 2026, penyaluran SPHP telah mencapai 817.959 ton atau sekitar 98,79 persen dari target 828.000 ton.
Pemerintah telah memutuskan adanya tambahan alokasi SPHP sebesar 1 juta ton. Zain mengatakan proses penghitungan dan realokasi anggaran untuk tambahan alokasi tersebut masih berjalan dan diharapkan segera diproses Badan Pangan Nasional (Bapanas).
Sementara itu, realisasi bantuan pangan di sejumlah wilayah juga masih menjadi perhatian. Satgas mencatat penyaluran di Sumatra Utara baru mencapai 61,4 persen, Kalimantan 61,13 persen, dan Lampung 54,14 persen.
Pemerintah daerah dan Bulog didorong mempercepat penyaluran agar bantuan pangan periode September dapat direalisasikan secara maksimal sebelum memasuki penyaluran Oktober hingga Desember.
Kenaikan tersebut tecermin pada data Badan Pusat Statistik (BPS). Pada minggu ketiga September 2026, harga beras medium secara nasional naik 0,76 persen, sedangkan beras premium meningkat 0,69 persen.
Harga rata-rata beras medium Rp14.644 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan HET zona 1 sebesar Rp13.500 dan zona 2 Rp14.000, meski masih di bawah HET zona 3 sebesar Rp15.500.
Untuk beras premium, harga rata-rata nasional mencapai Rp16.495 per kilogram. Angka tersebut juga telah melampaui HET zona 1 sebesar Rp14.900, zona 2 Rp15.400, dan zona 3 Rp15.800.






















