Jakarta, FORTUNE - Harga beras kembali mengalami kenaikan pada pekan ketiga September 2026. Satuan Tugas (Satgas) Saber Pangan mengidentifikasi sejumlah faktor yang mendorong harga beras medium dan premium berada di atas harga eceran tertinggi (HET), mulai dari penurunan produksi akibat musim kemarau dan dampak El Nino hingga kenaikan biaya kemasan dan distribusi yang dipengaruhi konflik di Timur Tengah.
Kepala Posko Satgas Saber Pangan Pusat, Brigjen Pol Zain Dwi Nugroho, mengatakan temuan tersebut diperoleh dari kegiatan pengawasan di 13 provinsi. Salah satu faktor utama adalah penurunan produksi gabah kering panen (GKP) akibat musim kemarau dan dampak El Nino.
"Produksi gabah kering panen saat ini menurun di musim kemarau dan dampak dari El Nino," kata Zain saat Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 yang disiarkan secara virtual, Senin (21/9).
Menurut dia, penurunan pasokan GKP membuat penggilingan dan produsen saling berlomba mendapatkan gabah. Kondisi tersebut mendorong harga pembelian GKP dari penggilingan kepada produsen melampaui harga pembelian pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram.
Kenaikan harga gabah kemudian menekan biaya produksi beras. Zain mengatakan harga produksi beras premium maupun medium kini sudah mendekati, bahkan pada sejumlah kondisi telah melebihi, HET yang ditetapkan pemerintah.
Persoalan berikutnya berada pada rantai pasok. Distribusi beras dari sentra produksi menuju sejumlah wilayah konsumen dinilai masih memiliki mata rantai yang panjang. Ketika harga beras di tingkat sumber produksi sudah mendekati HET, biaya distribusi yang muncul sepanjang rantai pasok membuat harga di tingkat konsumen berpotensi semakin tinggi.
Selain faktor produksi dan distribusi, lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah turut memberikan tekanan terhadap harga beras melalui kenaikan biaya kemasan.
Zain menjelaskan bahan baku kemasan berasal dari nafta yang bersumber pada minyak mentah. Ketika harga minyak dunia meningkat akibat konflik di Timur Tengah, biaya bahan baku kemasan ikut terdorong.
"Naiknya harga kemasan sebagai dampak naiknya bahan baku nafta yang berasal dari minyak mentah sebagai akibat dari naiknya harga minyak dunia dan konflik di Timur Tengah," ujarnya.
Guna menekan biaya tersebut, sejumlah produsen disebut mulai mengubah ukuran kemasan. Beras yang sebelumnya banyak dipasarkan dalam kemasan 5 kilogram, misalnya, dialihkan ke kemasan 10 kilogram hingga 20 kilogram.
Tekanan juga datang dari biaya transportasi. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) meningkatkan ongkos distribusi dan pada akhirnya menambah harga beli beras. Karena itu, Satgas menilai diperlukan penguatan fasilitasi distribusi pangan, terutama demi menghubungkan daerah surplus produksi dengan wilayah yang mengalami defisit.
