Jakarta, FORTUNE - Industri baja dunia menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Selain dibayangi perlambatan permintaan, sektor ini juga harus berhadapan dengan lonjakan biaya produksi, kelebihan kapasitas yang terus membesar, serta meningkatnya tekanan dari ekspor baja murah asal Cina.
Laporan terbaru Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menunjukkan kondisi pasar baja global masih jauh dari kata seimbang. Produksi yang terus bertambah tidak diikuti pertumbuhan konsumsi yang memadai, sehingga memicu kelebihan pasokan dalam skala besar.
Melansir Anadolu Agency, OECD memperkirakan kapasitas baja global yang berlebih akan mencapai 745 juta ton pada 2028. Angka tersebut meningkat dibandingkan 640 juta ton pada 2025, atau setara lebih dari sepertiga total kebutuhan baja dunia pada tahun lalu.
Menurut OECD, salah satu pemicu utama kondisi tersebut adalah besarnya dukungan pemerintah di sejumlah negara produsen utama yang mendorong ekspansi kapasitas produksi secara berlebihan.
“Kapasitas berlebih mendistorsi pasar global, melemahkan keamanan dan ketahanan ekonomi, serta menghambat inovasi dan keberlanjutan,” kata Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann dalam laporan OECD Steel Outlook 2026.
Cina menjadi sorotan utama dalam laporan tersebut. Pada 2024, produsen baja di negara tersebut menerima subsidi rata-rata 15 kali lebih besar dibandingkan produsen di negara lain jika dibandingkan dengan total aset mereka. Angka tersebut meningkat dari 10 kali lipat pada 2023.
Di saat yang sama, Cina menyumbang sekitar 54 persen dari total kapasitas berlebih baja dunia. Melemahnya permintaan domestik membuat produsen di negara itu semakin agresif menggarap pasar internasional.
Sepanjang 2025, ekspor baja Cina mencapai rekor 131 juta ton, melonjak 153 persen dibandingkan level pada 2020.
“Peningkatan kapasitas berlebih ini membanjiri pasar internasional dengan ekspor yang didumping dan disubsidi,” kata laporan itu.
Tekanan terhadap industri baja tidak hanya datang dari sisi pasokan. OECD juga mengingatkan meningkatnya risiko pada rantai pasok bahan baku yang dibutuhkan industri baja global.
Laporan tersebut mencatat tidak ada satu pun negara produsen baja yang sepenuhnya mandiri dalam memenuhi kebutuhan bahan baku strategis. Sementara itu, kebijakan pembatasan ekspor bahan baku terus meluas, termasuk larangan atau pembatasan ekspor besi tua yang kini diterapkan oleh 42 negara.
Dari sisi biaya produksi, konflik geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk situasi. Kenaikan harga energi membuat beban operasional produsen baja semakin berat karena energi dapat menyumbang hingga 40 persen dari total biaya produksi.
Kombinasi kelebihan kapasitas, gangguan rantai pasok, dan biaya energi yang tinggi dinilai mulai memengaruhi keputusan investasi di sektor baja global. Bahkan, sejumlah proyek pengembangan baja rendah emisi dilaporkan mengalami penundaan akibat meningkatnya tekanan ekonomi.
OECD menilai penyelesaian masalah struktural industri baja memerlukan koordinasi lintas negara yang lebih kuat. Organisasi tersebut mendorong penghapusan berbagai praktik yang dianggap menciptakan distorsi pasar agar industri baja dapat berkembang secara lebih sehat dan berkelanjutan.
“Kita harus mengatasi akar penyebabnya, termasuk subsidi yang merugikan dan praktik non-pasar lainnya. Ini berarti kerja sama internasional yang lebih kuat dan persaingan yang adil bagi produsen baja di mana pun,” ujar Cormann.
