Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

KSSK Targetkan Perekonomian Tumbuh Hingga 6 Persen

KSSK Targetkan Perekonomian Tumbuh Hingga 6 Persen
Konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Senin (3/8)/Dok Bank Indonesia
Intinya Sih
  • KSSK menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,6-6,0 persen pada 2026, dengan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan triwulan II tetap terjaga meski geopolitik memanas.
  • Konflik geopolitik mengganggu pasokan energi, harga minyak, dan rantai pasok global, tetapi konsumsi rumah tangga dinilai stabil berkat perlindungan sosial, stabilisasi harga, serta subsidi dan kompensasi.
  • BI menjaga rupiah dan inflasi melalui BI-Rate 5,75 persen; rupiah menguat ke Rp17.994 per dolar AS, didukung cadangan devisa US$145,6 miliar pada Juni 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mempertahankan target pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kisaran 5,6 persen hingga 6,0 persen (year-on-year/YoY) untuk keseluruhan 2026. Optimisme tersebut didasari oleh hasil asesmen triwulan II-2026 yang menunjukkan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan nasional terjaga rapat meski berhadapan dengan eskalasi konflik geopolitik global yang kembali memanas.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, tidak menampik bahwa ketegangan geopolitik pada triwulan II-2026 telah memicu disrupsi pasokan energi, kenaikan harga minyak dan komoditas strategis, serta meningkatkan risiko terhadap rantai pasok dan perdagangan dunia. Meski demikian, pemerintah memastikan dinamika tersebut tidak mengganggu daya beli masyarakat secara signifikan.

“Daya beli masyarakat tetap terjaga dalam mendukung konsumsi rumah tangga didukung peran shock absorber APBN dalam mendorong efektivitas program perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan dan energi, penciptaan lapangan kerja, serta stimulus pada periode libur sekolah,” ujar Purbaya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/8).

Sebagai instrumen shock absorber, APBN terus digelontorkan guna menahan gejolak harga serta menjaga pasokan BBM dan pangan. Langkah ini direalisasikan melalui alokasi subsidi Rp116,0 triliun dan kompensasi Rp116,9 triliun.

Dari sisi moneter, Bank Indonesia (BI) memperkuat komitmennya dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Setelah sempat mengalami tekanan pada pertengahan Juli akibat memanasnya konflik di Timur Tengah dan menguatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan Fed Funds Rate (FFR), nilai tukar rupiah pada 31 Juli mencapai Rp17.994 per dolar AS.

Pjs Gubernur BI, Destry Damayanti, menyoroti pentingnya penguatan benteng eksternal dalam menghadapi gejolak global.

“Ketahanan eksternal perlu terus diperkuat untuk memitigasi dampak rambatan tingginya ketidakpastian global,” ujarnya.

Sebagai bentuk respons pre-emptive dan forward-looking, Bank Indonesia mematok suku bunga acuan (BI-Rate) pada level 5,75 persen hingga akhir Juli 2026. Kebijakan ini ditopang oleh posisi cadangan devisa Indonesia akhir Juni 2026 yang mencapai US$145,6 miliar.

Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor—atau 5,4 bulan impor beserta pembayaran utang luar negeri pemerintah—sehingga berada aman di atas standar kecukupan internasional yakni 3 bulan impor.

Ke depannya, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memastikan inflasi periode 2026-2027 berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen.

BI juga mengakselerasi kerja sama internasional pada area kebanksentralan, yang meliputi perluasan konektivitas sistem pembayaran, transaksi mata uang lokal (local currency transaction), serta fasilitasi promosi investasi dan perdagangan di sektor-sektor prioritas.

Share Article
Editorial Team

Latest in News

See More